Langsung ke konten utama

Yenny Wahid: Radikalisme di Indonesia Meningkat

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid. 



JAKARTA -- Direktur Eksekutif Wahid Institute Yenny Wahid mengatakan banyak sekali survei nasional yang telah dilakukan Wahid Institute terkait radikalisme agama. Berdasarkan hasil survei itu, paham radikal di Indonesia semakin mengalami peningkatan.

"Hasil survei nasional kita di mana memang ada peningkatan kasus intoleransi dan radikalisme di Indonesia," ujar Yenny

Yenny mengatakan, peningkatan tindakan radikal tersebut cukup banyak dan hal itu disebabkan oleh beberapa faktor. Berdasarkan hasil survei, kata dia, orang yang telah melakukan tindakan radikal di Indonesia ada sekitar 600 ribu orang atau 0,4 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

"Jadi kalau diproyeksikan dalam jumlah penduduk adalah sekitar 600 ribu orang. Dan ini jumlah penduduk yang bisa memilih di atas 17 tahun kita hitungannya," ucapnya.

Responden di atas 17 tahun tersebut yang berpotensi untuk melakukan tindakan radikal ke depannya berjumlah sekitar 7,7 persen dari jumlah total penduduk Indonesia atau sekitar 11 juta orang. "Itu semua datanya ada di kita," kata aktivis Muslimat NU tersebut.

Berdasarkan survei tersebut, dapat dilihat radikalisme memang perlu penanganan serius oleh berbagai pohak. Sebelumnya, beberapa upaya telah dilakukan oleh organisasi Islam moderat dengan memunculkan gerakan deradikalisasi sebagai konter atas gerakan radikal.

Namun, menurut Yenny, deradikalisasi masih agak sulit dilakukan karena gerakan tersebut sudah berhubungan dengan cara pandang, sehingga memang tidak mudah dilakukan dan membutuhkan sumberdaya yang sangat besar untuk melakukan itu.

"Sayangnya memang kita belum siap untuk melakukan itu saya rasa. Semua negara di dunia juga belum siap melakukan upaya deradilkalisasi dengan secara sungguh-sungguh, karena itu dari hulu ke hilir yang harus disasar. Jadi menurut zaya indonesia lebih maju dalam hal upaya melakukan pencegahan radikalisasi dari pada deradikalisasi," kata putri mantan presiden keempat, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Dalam Beragama, Rujukan Pertama Adalah Google Terakhir Al Qur’an

By Rohmat Tri Santoso   Sebenarnya, kita adalah makhluk-makhluk bodoh yang mau-maunya memiliki agama. Untuk menjadi pengikut pada suatu agama, termasuk Islam. Kita harus memutar otak dua puluh empat jam non stop. Merenungi. Menghayati, dan memaknai ajaran-ajaran dalam agama tersebut. Beragama. Berarti kita harus mengulik. Membedah rahasia tuhan. Menyingkap tabir yang tertutupi. Menemukan rumus-rumus tuhan. Demi mengenalnya lebih jauh. Demi memantapkan dan membimbing jiwa kita mengahadapi hidup yang njelehi ini. Cusssss. Gedeblug…. Tuhan menurunkan kitab suci pembimbing manusia ke bumi. Untuk menemukan rumus-rumus tuhan. Manusia perlu menelaah kitab suci sebagai buku manual untuk lebih dekat dengannya. Untuk mengetahui mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah. Tapi ternyata eh ternyata. Kitab suci itu terlalu kecil sebagai sumber pemaknaan tuhan. Manusia tetap harus memutar otaknya, m...