Langsung ke konten utama

Penjara di Indonesia 'dukung penyebaran terorisme'

http://www.aktual.com/wp-content/uploads/2016/01/86-25jan16-napi-681x387.jpg
Penjara di Indonesia menjadi penyebaran paham radikal yang dilakukan oleh narapidana terorisme, seperti disampaikan oleh Ali Fauzi Manji, mantan militan di Afghanistan dan Moro Filipina Selatan, dalam diskusi di LIPI
Ali Fauzi mengatakan kondisi lembaga pemasyarakatan atau Lapas di Indonesia memudahkan para narapidana terorisme melakukan 'pengkaderan' terhadap narapidana lain.
"Saya bisa katakan episentrum ekstrimisme di Indonesia ada di lapas, radikalisasi itu ada di lapas karena memang lapas di Indonesia kurang tepat untuk memenjarakan mereka, ini main-main," kata Ali.
Menurut Ali, jika pemerintah mengangkap kasus terorisme sebagai kejahatan yang luar biasa, maka pengamanan penjara harus lebih ketat dan tidak disatukan dengan narapidana kasus kriminal lainnya.
"Kita ngomong terorisme adalah extra ordinary crime, tetapi penjaranya dicampur dengan pencuri ayam, sepeda motor, dengan pencuri mobil dan tentu di dalam ada pembinaan transformasi ilmu," jelas Ali.
"Siapa yg menembak tiga Polisi di Bima, siapa yang menembak dua intel di Bima, para pelaku kriminal biasa dilatih mereka di dalam penjara, jadi penjara dijadikan tempat untuk menaikkan 'kasta'" kata dia.

Program deradikalisasi

Ali membandingkan dengan penjara untuk narapidana kasus terorisme di Malaysia yang ditempatkan terpisah dengan narapidana kasus lainnya.
"Karena mindset mereka itu kan daulah, membentuk negara, dan jika ditaruh di Nusakambangan atau di Cipinang akan memunculkan teroris-teroris baru," kata adik pelaku bom Bali, Amrozi ini.
Sebelumnya, pengamat terorisme dari Institute for Policy Analysis of Conflict, Sidney Jones, pernah menyampaikan bahwa progam deradikalisasi yang dilakukan di penjara tidak efektif, dan pengawasan terhadap terpidana kasus terorisme sangat lemah.
"Misalnya ada yang bisa berkomunikasi dengan teman-teman. Ada orang yang misalnya memegang nomor kontak orang di perbatasan Turki dan Suriah. Kalau mau nyebrang dari Turki ke Suriah harus dapat contact number itu. Dan kadang-kadang, justru napi terorisme atau temannya yang punya nomor kontak begitu," jelas Sidney kepada BBC
Salah seorang yang terkenal di kalangan para narapidana terorisme, menurut Sidney, adalah Aman Abdurrahman, yang disebut sebagai seorang ideolog yang baru-baru ini menerjemahkan pernyataan ISIS, yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan di Paris.
"Meski ditahan di salah satu penjara yang super maximum security, tapi tanpa kesulitan apapun dia bisa menyebarkan propaganda itu melalui handphone," jelas Sidney.

Hasil rekrutan penjara?

Di Nusakambangan pula, Aman Abdurahman yang divonis delapan tahun penjara pada 2010 karena terlibat pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho Aceh, dan mantan pimpinan Jemaah Islamiyah, Abu Bakar Baasyir, mendeklasikan dukungan terhadap kekhalifahan Abu Bakar Al-Baghdadi, pada Juli 2014 lalu.
Wacana untuk membuat penjara terpisah bagi narapidana kasus terorisme dengan kasus kriminal pernah disampaikan oleh Menkopolhukam Luhut Pandjaitan, sebagai salah satu langkah untuk mencegah penyebaran ideologi.
Pandangan ini disampaikan setelah serangan bom dan senjata di kawasan Thamrin pada 14 Januari lalu, yang melibatkan sejumlah mantan narapidana kasus terorisme, yaitu Afif alias Sunakim, yang pernah divonis tujuh tahun penjara di PN Jakarta Barat pada 2011.
Tetapi lima tahun kemudian dia terekam kamera melakukan aksi serangan senjata di kawasan Thamrin. Afif dilaporkan direkrut oleh Aman Abdurahman di dalam penjara.
Sementara orang yang disebut polisi sebagai otak serangan Thamrin, Bahrun Naim, ditangkap di rumahnya di sebuah desa di Solo, dengan dugaan terlibat dalam jaringan terorisme, pada November 2010.
Bahrun dinyatakan bersalah pada Juni 2011 untuk kasus kepemilikan senjata, tetapi pengadilan tidak menemukan bukti yang cukup untuk membidiknya dengan dakwaan teror.
Serangan di kawasan Thamrin menewaskan tujuh orang, empat diantara pelaku, dan sedikitnya 27 orang lainnya luka-luka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...