Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

MUNGKIN UNTUK MENUTUPI KASUS PRIBADI, KPK MENTERSANGKAKAN KONTRAKTOR SWASTA DENGAN PASAL UNTUK PEJABAT NEGARA!

Bagaimana KPK bisa jadikan Nazaruddin Justice Collaborator dan jadikan Kontraktor tersangka (Pelaku utama) kasus korupsi kalau begini?? "Terungkap! PT DGI Didukung Nazaruddin untuk Muluskan Proyek yang Berujung Korupsi https://news.okezone.com/read/2017/08/23/337/1761543/terungkap-pt-dgi-didukung-nazaruddin-untuk-muluskan-proyek-yang-berujung-korupsi Saya coba bedah keanehan akut KPK secara objektif dan gunakan aturan main. Jangan sampai keputusan KPK ini malah terindikasi ada bargain. Orang yang bisa dikabulkan jadi Justice collaborator itu bukanlah orang yang menjadi pelaku utama dalam kasus tindak pidana. Hal ini tercantum berdasarkan Surat edaran MA Tahun 2011. Dengan mengabulkan Nazaruddin sebagai Justice Collaborator, artinya KPK telah memutuskan Nazaruddin bukan pelaku utama tindak pidana. Lalu siapa pelaku utamanya? Mari kita lihat apa yang dinamakan korupsi dan merugikan keuangan negara untuk melihat siapa pelaku utamanya. Sekaligus nanti saya akan tunjukkan bag...

Intoleransi, Pengkafiran, dan Terorisme

Akhir-akhir ini, ujaran-ujaran kebencian dan permusuhan semakin sering muncul. Laman-laman media sosial mulai penuh sesak dengan umbaran kebencian yang dibalut dengan semangat untuk mengkafirkan. Indonesia, seperti disebut dalam laporan PEW Research Center 2016, masuk daftar negara dengan predikat terburuk untuk urusan toleransi agama/keyakinan. Memudarnya kemajemukan ini disebabkan oleh munculnya kelompok-kelompok identitas. Hal ini dapat disaksikan dari menjamurnya organisasi massa, baik yang berbasis kedaerahan maupun keagamaan. Kemunculan kelompok-kelompok identitas ini justru kerap membawa pengaruh yang kurang baik terhadap masyarakat (Tulus Santoso, 2010). Belakangan, mereka malah terlihat mulai sering melakukan provokasi, intimidasi, hingga perlakuan kasar terhadap kelompok minoritas. Secara lebih spesifik, kelompok-kelompok itu, meminjam istilah Sidney Jones (2015), adalah "masyarakat madani intoleran" yang terbagi ke dalam tiga jenis, yakni kelompok main hakim sendi...

Radikalis Dulu, Teroris Kemudian: Kaitan Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

Sesudah masjid dan orang yang sedang salat Jumat di Cirebon menjadi sasaran bom bunuh diri, rangkaian kecaman sama-sama ditujukan kepada sang pelaku. Tak ada pihak yang saya ketahui memahami, bersimpati, apalagi mendukungnya. Semuanya mengutuk: dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga pentolan yang oleh media massa sering disebut “Islam garis keras”. Senin (18 April 2011), koran ini melaporkan bahwa Muhammad Syarif (MS), yang diduga keras merupakan pelaku bom bunuh diri itu, memiliki hubungan dengan jaringan Aceh dan peristiwa pengeboman sejenis di tempat-tempat lain. Ansyaad Mbai, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dikutip menyatakan: “Kelompok bisa berbeda, tapi pasti ada tokoh di belakang kelompok yang terkait dengan jaringan induk.” Dari laporan media lain kita juga menyimak bahwa keluarga korban sudah pasti mengakui sang pelaku sebagai MS. Ayahnya, yang oleh MS pernah dituduh kafir, bersyukur bahwa MS bunuh diri, karena potensi kerusakan akiba...

Membendung Radikalisasi di Kampus, Mencegah Bibit Terorisme

Pada tahun 2011, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menerbitkan sebuah laporan yang cukup mencengangkan. Dalam laporan itu disebutkan telah terjadi peningkatan paham radikalisme di lima kampus besar di Indonesia, yakni UGM, UI, IPB, Undip, dan UNAIR. Studi yang lebih baru pada tahun 2013 yang dilakukan Maarif Institute, yang rupanya mengonfirmasi hasil penelitian LIPI, menunjukkan bahwa ekspansi gerakan Negara Islam Indonesia (NII) –suatu gerakan radikal atas nama Islam yang menolak NKRI– terjadi akibat meluasnya paham radikalisme di kampus. Hasil penyelidikan terhadap aksi teror di Jakarta pada awal 2016 lalu semakin menegaskan betapa kampus menjadi “ladang subur” bagi merebaknya pemahaman radikal yang kemudian menghasilkan bibit teroris. Otak aksi tersebut, Bahrun Naim, adalah seorang pemuda yang mulai melibatkan diri dalam gerakan radikal sejak ia kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Pemahaman radikal yang telah tertanam kuat dalam dirinya membuatnya ...

Cegah Radikalisme, Mensos Minta Uji Kompetensi Guru Diperketat

JAKARTA -  Menteri Sosial  Khofifah Indar Parawansa menilai bahwa evaluasi atau uji kompetensi terhadap tenaga pengajar di sekolah maupun universitas harus diperketat. Menurut Khofifah, gerakan anti-Pancasila dan  radikalisme  telah merebak di kalangan pelajar dan mahasiswa. Paham tersebut disebarkan antara lain oleh guru atau pengajar yang berafiliasi dan bersimpati terhadap organisasi yang berkeinginan mengganti Pancasila dengan ideologi transnasional seperti ideologi khilafah. Lantaran yang disasar adalah pelajar dan remaja yang masih dalam tahap perkembangan, lanjut Khofifah, deteksi terhadap pengajar yang berpaham radikal perlu dilakukan sejak awal. "Pergerakan mereka tidak statis. Penyebaran pengaruh juga dilakukan dengan serangkaian perekrutan anggota baru, pelatihan dan pendidikan kader yang dilakukan secara masif," ujar Khofifah melalui keterangan tertulis, Sabtu (15/7/2017). Mengutip hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), ...

Sekjen PBNU: Ancaman NKRI Jika Benih Radikalisme-Terorisme Tidak Cepat Diatasi

JAKARTA  – Maraknya kelompok radikal dan ekstrimis yang menghantui NKRI, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan benih radikalisme dan terorisme di Indonesia harus dikikis habis agar tidak menjadi ancaman yang lebih besar di masa mendatang. “Bila benih-benih radikalisme dan terorisme ini tidak cepat diatasi, Indonesia akan mengalami ancaman yang lebih besar,” kata Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini di Jakarta. Ia mencontohkan ada suatu ormas yang jelas menolak NKRI dan Pancasila. Ironisnya, ormas tersebut masih belum diambil tindakan. “Mereka jelas menyebut produk dari Proklamasi telah melahirkan thogut-thogut dan melahirkan kita-kita yang dianggap telah keluar dari ajaran Islam dan mereka sebut kafir,” ungkap Helmy. Helmy menjelaskan NKRI lahir dari konsensus dan kesepakatan seluruh elemen bangsa Indonesia melalui pendekatan dan pandangan agama. Dengan demikian, konsensus NKRI ini harus ditaati oleh seluruh bangsa Indonesia.  “Kalau mereka tidak mengakui,...

Melawan Radikalisme dengan Pancasila

Sudah bukan menjadi rahasia umum, upaya kelompok radikal untuk menyebarluaskan paham kekerasan, tidak pernah ada matinya. Mulai dari cara yang konvensional, hingga cara-cara yang tidak kita duga, mereka lakukan. Dari pengajian konvensional hingga pengajian online, juga mereka susupkan paham radikalisme ini. Cara-cara ini rupanya sangat efektif, untuk merekrut korban baru. Menguatnya propaganda ini, dikhawatirkan semakin mengikis batas toleransi masyarakat. Seperti kita tahu, generasi muda kita saat ini makin gemar melakukan tindak kekerasan. Bahkan, mereka telah berani melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Berdasarkan survey yang dilakukan Wahid Foundation pada Agustus 2016, dari 150 juta muslim Indonesia yang di survey, 7,7 persen atau 11,5 juta orang berpotensi melakukan tindakan radikal. 600 ribu diantaranya pernah terlihat dalam tindakan radikal. Berdasarkan survey diatas, ancaman itu masih menunjukkan angka yang signifikan. Jika propaganda rad...

SIAPA SEBENARNYA PEMBANGKIT RADIKALISME DAN TERORISME MODERN DI TENGAH UMAT ISLAM?

Dunia internasinal secara umum dan negeri-negeri Islam secara khusus, telah digegerkan oleh ulah segelintir orang yang menamakan dirinya sebagai pejuang kebenaran. Dahulu, banyak umat Islam yang merasa simpatik dengan ulah mereka, karena sasaran mereka adalah orang-orang kafir, sebagaimana yang terjadi di gedung WTC pada 11 September 2001. Akan tetapi, suatu hal yang sangat mengejutkan, ternyata sasaran pengeboman dan serangan tidak berhenti sampai di situ. Sasaran terus berkembang, sampai akhirnya umat Islam pun tidak luput darinya. Kasus yang paling aktual ialah yang menimpa Pangeran Muhammad bin Nayif Alus Sa’ûd, Wakil Menteri Dalam Negeri Kerajaan Saudi Arabia. Dahulu, banyak kalangan yang menuduh bahwa pemerintah Saudi berada di belakang gerakan tidak manusiawi ini. Mereka menuduh bahwa paham yang diajarkan di Saudi Arabia telah memotivasi para pemuda Islam untuk bersikap bengis seperti ini. Akan tetapi, yang mengherankan, tudingan ini masih juga di arahkan ke Saudi, walaupun...

Radikalisme dan Terorisme, Sebuah Perjodohan yang Dipaksakan

Teror dan Terorisme Terorisme sendiri memiliki akar bahasa “teror”. Dilihat dari akar bahasa ini saja, kita sudah dapat melihat makna kata terorisme. Secara bebas kita bisa memaknai sebagai paham yang mengajarkan penganutnya untuk menggunakan teror dalam mencapai cita-cita idealnya. Indonesia belum lama ini diguncang aksi teror bom yang sempat menghebohkan Ibu Kota. Semenjak reformasi bergulir, Indonesia telah diguncang oleh puluhan serangan bom. Seluruh pelakunya diklaim sebagai teroris yang menganut paham terorisme. Namun, penyebutan teroris ini tidak hanya dilekatkan pada penjahat semata. Sebutan teroris juga dapat disematkan pada pahlawan, seperti ketika Zionis Israel menyebut Hamas sebagai teroris yang mempertahankan Gaza dari serangan Israel. Di mata penduduk Gaza, Hamas merupakan pahlawan, sedangkan di mata zionis Israel, mereka adalah teroris. Maka, penyebutan kata teroris dan terorisme tak sepenuhnya bergantung pada makna, namun lebih kepada kepentingan. Hal yang ...

Merajut Kebhinnekaan dan Menangkal Radikalisme

Jakarta - Globalisasi menyebabkan kaburnya batasan antar negara. Pasca perang dingin yang dimenangkan blok barat, AS menjadi negara super power yang mampu mengintervensi negara lain pada awalnya dengan menggunakan empat isu yakni demokratisasi, lingkungan hidup, HAM dan terorisme. Dan dalam perkembangannya ditekankan pada tiga isu strategis dan 'lebih seksi' yaitu pangan, air bersih dan energi. Dalam menanamkan pengaruhnya di negara berkembang, negara adidaya menggunakan proxy war dan asimetris dengan memanfaatkan pihak ketiga. Kondisi Indonesia saat ini sedang diuji. Pada masa Orba, penegakan hukum dapat dilakukan dengan cara represif menggunakan UU Subversi, namun saat ini setelah UU Subversi dicabut, maka penegakan hukum harus didasarkan pada proses hukum dan perundangan yang masih berlaku. Dengan terkendalanya penegakan hukum, maka paham-paham yang masuk melalui globalisasi sangat mudah berkembang, termasuk terorisme. Terorisme dan radikalism...

Yenny Wahid: Radikalisme di Indonesia Meningkat

  JAKARTA -- Direktur Eksekutif Wahid Institute Yenny Wahid mengatakan banyak sekali survei nasional yang telah dilakukan Wahid Institute terkait radikalisme agama. Berdasarkan hasil survei itu, paham radikal di Indonesia semakin mengalami peningkatan. "Hasil survei nasional kita di mana memang ada peningkatan kasus intoleransi dan radikalisme di Indonesia," ujar Yenny Yenny mengatakan, peningkatan tindakan radikal tersebut cukup banyak dan hal itu disebabkan oleh beberapa faktor. Berdasarkan hasil survei, kata dia, orang yang telah melakukan tindakan radikal di Indonesia ada sekitar 600 ribu orang atau 0,4 persen dari jumlah penduduk Indonesia. "Jadi kalau diproyeksikan dalam jumlah penduduk adalah sekitar 600 ribu orang. Dan ini jumlah penduduk yang bisa memilih di atas 17 tahun kita hitungannya," ucapnya. Responden di atas 17 tahun tersebut yang berpotensi untuk melakukan tindakan radikal ke depannya berjumlah sekitar 7,7 persen dari jumla...

Akar Masalah Ancaman Intoleransi dan Radikalisme Yang Semakin Nyata

Intoleransi diantara warga negara disuatu negara bisa mengancam persatuan dan eksistensi suatu negara. Bayangkan apa jadinya jika penduduk mayoritas suatu negara menindas dan menganiaya penduduk minoritas yang lemah. Apapun yang dilakukan atau dikemukakan oleh penduduk minoritas adalah suatu kesalahan. Apa bisa bangsa dan negara tersebut maju dan masyarakatnya sejahtera? Intoleransi akan berujung pada tindakan radikal yang tidak lagi menganggap hukum sebagai panglima tertinggi dari suatu negara yang berdaulat. Radikalisme akan tumbuh dengan subur jika bibit – bibit intoleransi dibiarkan terus berkembang. Memang benar perbedaan yang berujung intoleransi tidak bisa dihindari oleh semua negara di dunia ini, tidak terkecuali negara adidaya seperti Amerika Serikat. Perbedaan kulit antara hitam dan putih merupakan isu yang sangat sensitif di Amerika Serikat. Jika perbedaan kulit adalah isu sensitif di Amerika Serikat maka agama adalah isu sangat sensitif di Indones...