Langsung ke konten utama

Islam Tidak Mengajarkan Paham Radikal, Apalagi Terorisme

(Foto: Dara/Okezone)LOMBOK UTARA - Ideologi radikal dan terorisme selalu diidentikkan dengan Islam. Padahal, sudah jelas terorisme tidak diajarkan oleh Islam maupun agama apapun.
Khusus di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), salah satu wilayah diberikan atensi khusus terkait paham radikal ini adalah Bima. Sebab ada sembilan orang asal Bima yang bergabung ke kelompok Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) di bawah pimpinan almarhum Santoso.

Oleh karena itu, aparat kepolisian di NTB terus melakukan kontra ideologi radikal agar tidak menyebar ke daerah lainnya di NTB. Caranya, dengan mengandeng alim-ulama dan memberikan penyuluhan tentang kebinekaan dan Pancasila di pesantren-pesantren.
Tuan Guru Pondok Pesantren Al Istiqomah Kapu, Lombok Utara, Ustadz Hiyatullah sebagai putra asli derah NTB mengaku sangat terganggu terkait situasi ideologi radikal yang pernah menyebar di Bima.

"Kami sampaikan bahwa sejauh kami mempelajari Islam baik digali dari sisi manapun tidak ada satu pun yang mengajarkan tentang terorisme dan radikalisme," tegasnya di Pondok Pesantren Al Istiqomah, Kapu

Hidayatullah menjelaskan bahkan Islam menyatakan haram bagi umatnya merusak di muka bumi dan menganggu orang lain baik dari sesama Muslim maupun mereka yang berbeda keyakinan sekalipun.
"Siapapun harus dihormati, yang datang dan sangat kita hargai. Inilah ajaran Islam yang sebenarnya," katanya.

Untuk menangkal paham intoleran dan radikal di wilayah Lombok Utara, pihaknya juga sering memberikan ceramah dari masjid ke masjid.

"Kita bisa bergerak ke beberapa masjid dan taklim-taklim dan kita selalu menyampaikan bahwa Islam adalah agama yang damai, agama yang tentram, sangat menghormati siapa saja dan selalu bercita-cita ingin menciptakan keharmonisan dan kedamaian dunia," tukasnya.

Sementara itu, Kapolres Lombok Utara AKBP Rivai didaulat sebagai penceramah kontra radikal di Pondok Pesantren Al Istiqomah. Selain penyuluhan, peran polisi babinkamtibmas juga diefektifkan di 33 desa yang ada di Lombok Utara guna menangkal dan menghindari ideologi radikal masuk ke daerah yang dikenal sebagi tempat wisata Gili Trawangan itu.

"Jadi kami lakukan upaya preentif dan preventif. Meningkatkan patroli, memetakan tingkat kerawanan, sehingga polisi harus hadir dalam masyarakat. Dalam suasana apapun. Itu kita jalankan di wilayah hukum polres Lombok Utara," tukasnya.

Sekedar informasi, Provinsi NTB memiliki jumlah penduduk 90 persen lebih muslim. Namun mereka sangat ramah dan terbuka akan kedatangan turis asing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...