Langsung ke konten utama

Awas Paham Islam Radikal Bebas!

Paham Islam radikal bebas adalah ke-Islam-an yang sangat berbahaya. Sangat berbeda dengan Islam rahmatin lil ‘alamin. Islam radikal bebas menampakkan wajah bengis kayak perilaku ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), markas besar teroris dunia. Sedangkan Islam rahmatin lil ‘alamin berwajah ramah pada perikemanusiaan dan paham kebangsaan yang bhinneka tunggal ika. Yang terakhir ini layak menyandang sebutan sebagai Islam Nusantara. Islam yang memahami jatidirinya secara otentik sehingga mampu tampil cantik dan simpatik.
Mengapa Islam radikal bebas berbahaya? Setelah memahami istilah radikal bebas kita akan mengerti, seberapa berbahayanya paham Islam radikal bebas. Wikipedia memberi penjelasan yang cukup njelimet demikian:
“Radikal bebas adalah molekul yang kehilangan satu buah elektron dari pasangan elektron bebasnya, atau merupakan hasil pemisahan homolitik suatu ikatan kovalen. Akibat pemecahan homolitik, suatu molekulakan terpecah menjadi radikal bebas yang mempunyai elektron tak berpasangan.
Elektron memerlukan pasangan untuk menyeimbangkan nilai spinnya, sehingga molekul radikal menjadi tidak stabil dan mudah sekali bereaksi dengan molekul lain, membentuk radikal baru.
Radikal bebas dapat dihasilkan dari hasil metabolisme tubuh dan faktor eksternal seperti asap rokok, hasil penyinaran ultra violet, zat pemicu radikal dalam makanan dan polutan lain. Penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas bersifat kronis, yaitu dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk penyakit tersebut menjadi nyata.
Contoh penyakit yang sering dihubungkan dengan radikal bebas adalah serangan jantung, kanker, katarak dan menurunnya fungsi ginjal. Untuk mencegah atau mengurangi penyakit kronis karena radikal bebas diperlukan antioksidan.”
Sederhananya, radikal bebas itu pemicu penyakit kronis. Kalau istilah radikal bebas harus dikenakan pada paham Islam tertentu, karena pahamnya berbahaya. Hal mana bisa mengakibatkan penyakit kronis terhadap keutuhan NKRI. Tentu supaya agama atau kepercayaan lain tidak iri, sebenarnya istilah radikal bebas bisa dikenakan juga kepada agama atau kepercayaan lain. Asalkan pahamnya menyebabkan penyakit kronis pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Penampakannya ditandai dengan merongrong dasar negara Pancasila. Nah, ketika suatu agama atau kepercayaan ketahuan merongrong dasar negara apalagi menghinanya, tanpa perlu panjang pikir ini berarti pahamnya radikal bebas. Jelas-jelas lebih ngeri dari sekedar paham radikal. Contoh konkritnya adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang baru saja dibubarkan.
Analisa Mohammad Iqbal Ahnaf di kolom perspektif crcs.ugm.ac.id menarik untuk dilirik perihal alasan pembubaran HTI ini. Menurutnya, tuntutan pembubaran HTI didasarkan pada tuduhan bahwa organisasi ini ingin mengubah ideologi dan dasar negara yang dianggap sudah final. Uniknya, HTI punya jurus retorika untuk menangkis hal ini dengan “strategic ambiguity” yang diperagakan.
Pada tahun 2007, misalnya, ketika menanggapi tuduhan anti-NKRI, HTI mengadakan Konferensi Khilafah Internasional (KKI) dengan narasi “KKI 2007 Mengokohkan Pancasila”. Keren bukan akal bulusnya? Hanya saja khuaus bagi pembaca Seword lebih saya sarankan memakai akal kura-kura ketimbang akal bulus. Insya Allah, akal kura-kura lebih mencerahkan masa depan bangsa ketimbang akal-akal bulus yang sering mengabdi pada fulus.
Dengan narasi di atas, jelas kalau HTI hendak menepis tudingan anti-NKRI. Tetapi cara memahami paham radikal bebas HTI jangan berhenti di sini. Simak akal bulusnya. HTI memberi pemaknaan yang berbeda terhadap NKRI. Mengingat, sistem khilafah HTI jelas tidak sejalan dengan sistem pemerintahan demokratis dan republik yang terkandung dalam frasa “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Dan, inilah akal bulusnya sebagaimana diterangkan Mohammad Iqbal Ahnaf.
“Dalam penjelasannya tentang tema “Mengokohkan NKRI” Muhammad Al Khattath (tokoh HTI sebelum keluar) menyatakan tujuan HTI adalah mempertahankan wilayah NKRI yang ada saat ini dan bahkan, ini yang perlu digarisbawahi, memperluas teritori NKRI yang ada saat ini di bawah naungan khilafah. Jadi HTI memahami NKRI sebagai teritori, bukan ideologi atau tatanan politik.”
Ngeri bukan paham radikal bebas ormas Islam ini? Maka tujuan HTI untuk mendirikan sistem pemerintahan alternatif yang disebut “khilafah” pantas dianggap sebagai agenda makar yang tidak boleh dibiarkan bebas di Indonesia.
Belum lagi kalau menyimak Buku Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia (2009) sebagaimana ditunjukkan Iqbal. Manifesto itu menyatakan, “Hizbut Tahrir juga menentang dengan keras konsep-konsep yang lahir dari paham Sekulerisme seperti Demokrasi, Patriotisme, Sosialisme dan Kapitalisme atau isme-isme lain.”
Senada dengan itu, ada buku lain lagi yang dipakai sebagai bacaan pokok kaderisasi. Isinya tidak kalah ngeri. Judul buku tersebut Demokrasi Sistem Kufur (Ad-Dimuqrathiyyah Nizham Kufr). Buku tersebut ditulis oleh Abdul Qadim Zallum (1924-2003), pemimpin generasi kedua Hizbut Tahrir setelah pendirinya Taqiyuddin al-Nabhani (1909-1977).
Menurut staf pengajar di Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Lintas Disiplin, UGM ini, buku tersebut tidak hanya menyerang demokrasi tetapi juga menuduh nasionalisme sebagai strategi jahat orang-orang kafir untuk memecah belah dunia Islam. Jelas sudah, betapa kebencian dan sikap permusuhan menjadi menu wajib bagi penganut paham radikal bebas yang berbahaya ini.
Selain ormas HTI dan yang sejidat, sikap awas dan kewaspadaan terhadap paham radikal bebas layak dialamatkan juga kepada ISIS. Adalah Brigjen Pol, Drs. H. Hamidin yang mengajak berhati-hati pada tipuan janji manis kelompok ISIS. Sekali lagi, ISIS hanya mengumbar janji manis, tidak akan ada bahagia melainkan tangis.
Di Mosul, kota kebanggaan ISIS, tidak ada negera Tuhan, di sana hanya ada kehancuran. Di Irak dan Suriah juga tidak ada pasukan Tuhan, yang ada hanyalah para teroris yang kepala dan hatinya telah penuh sesak dengan kebencian dan permusuhan.
Demi keutuhan, kebanggan dan kejayaan NKRI, maka sudah selayaknya semua agama dan kepercayaan yang telah minum air Indonesia, perlu mengupayakan antioksidan dalam ajaran dan amalannya. Dalam Islam jelas bahwa rahmatin lil ‘alamin merupakan antioksidan yang ampuh untuk melumpuhkan paham radikal bebas!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...