Langsung ke konten utama

Melawan Radikalisme dengan Pancasila

Sudah bukan menjadi rahasia umum, upaya kelompok radikal untuk menyebarluaskan paham kekerasan, tidak pernah ada matinya. Mulai dari cara yang konvensional, hingga cara-cara yang tidak kita duga, mereka lakukan. Dari pengajian konvensional hingga pengajian online, juga mereka susupkan paham radikalisme ini. Cara-cara ini rupanya sangat efektif, untuk merekrut korban baru. Menguatnya propaganda ini, dikhawatirkan semakin mengikis batas toleransi masyarakat.

Seperti kita tahu, generasi muda kita saat ini makin gemar melakukan tindak kekerasan. Bahkan, mereka telah berani melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Berdasarkan survey yang dilakukan Wahid Foundation pada Agustus 2016, dari 150 juta muslim Indonesia yang di survey, 7,7 persen atau 11,5 juta orang berpotensi melakukan tindakan radikal. 600 ribu diantaranya pernah terlihat dalam tindakan radikal. Berdasarkan survey diatas, ancaman itu masih menunjukkan angka yang signifikan.

Jika propaganda radikalisme di dunia maya dan dunia nyata tidak kita antisipasi, dikhawatirkan potensi aksi radikalisme kian membesar. Generasi muda kita saat ini gemar melakukan tindak criminal. Mereka itulah yang berpotensi direkrut oleh kelompok radikal. Bahkan fenomena pelaku bom bunuh diri tunggal, juga mulai marak terjadi. Hal ini sepertinya menjadi modus baru dari kelompok teroris untuk melakukan teror. Mari kita terus belajar, dan jangan merasa benar sendiri. Mari kita bersikap terbuka dan jangan bersikap tertutup. Dengan membuka pikiran kita, kita bisa beradaptasi pada perkembangan jaman, tanpa harus melanggar ajaran agama dan nilai-nilai Pancasila.

Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dan permusyawaratan, dan keadilan sosial bagi seluruh permusyawaratan rakyat, adalah sila Pancasila yang tumbuh dari budaya bangsa ini. Nilai itu bukanlah budaya yang diimpor dari negara lain. Dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, menjadi solusi yang tepat dalam menyikapi maraknya propaganda radikalisme ini.

Sila pertama mengajarkan kita untuk selalu ingat kepada Tuhan YME. Sila kedua mengajarkan agar kita selalu memanusiakan manusia. Tidak ada kebencian dan kekerasan antar sesama. Sila ketiga mengajarkan kita untuk selalu menjaga persatuan. Indonesia merupakan negara multikultur, dengan wilayah yang begitu luas. Indonesia juga mempunyai kekayaan alam yang melimpah. Sebegai generasi penerus bangsa, sudah semestinya kita terus menjaga Indonesia dari segala pengaruh buruk.

Nenek moyang kita mengajarkan bagaimana berinteraksi dan bersosialisasi dengan baik. Keramahan negeri ini, membuat Indonesia terkenal hingga penjuru bumi. Murah senyum, suka menolong, tidak ada kebencian, merupakan karakter dari masyarakat Indonesia. Gotong royong telah mengajarkan bagaimana saling menghormati dan menghargai.

Melalui sifat inilah muncul toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Semua orang bisa hidup berdampingan, tanpa mempermasalahkan latar belakangnya yang berbeda. Itulah bhineka tunggal ika, berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan. Pancasila merupakan tujuan Indonesia. Sedangkan radikalisme, bisa merusak Indonesia untuk bisa mendapatkan tujuannya. Karena itulah, melawan radikalisme harus dilakukan oleh seluruh penduduk negeri ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...