Langsung ke konten utama

Mengapa terorisme banyak muncul di Indonesia?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizydjGZk4Mkej-7bkGIvOzT2tW7woIPW29oKGX7qrv8yXxkr3pLtGGlHELCbT3-OyU9bu9bfFF6DWII0MRFkoYs-d3wRBwOvTCqjxFo02TkvJiZPC7uyzQ6nE7TewIdil0FuSdoXjCx6o/s660/sticker+rmobil+CHOSEN.jpg
 Terorisme merupakan suatu tindak kejahatan mulai marak terjadi sejak peristiwa 9/11 di Amerika Serikat pada tahun 2001. Tindak kejahatan terorisme ini muncul seiring dengan berakhirnya era Perang Dingin yang ditandai dengan munculnya aktor-aktor non-negara dalam politik global. Terorisme saat ini telah menjadi isu global karena aktivitasnya yang sangat luas dapat terjadi di manapun dan kapanpun serta tidak memandang siapapun korbannya. Berbagai kelompok teroris yang memiliki jaringan luas secara internasional yang melewati lintas batas negara merupakan suatu ancaman bagi stabilitas keamanan suatu negara, bahkan dapat mengancam keamanan setiap individu. Indonesia merupakan salah satu negara yang seringkali menjadi tujuan berbagai kelompok teroris untuk melancarkan aksinya, mulai dari Bom Bali 1, Bom Bali 2, Bom J.W Marriot, Bom Kedubes Australia, dan lain-lain. Hal itu menandakan bahwa kelompok teroris menganggap Indonesia memiliki posisi yang strategis untuk melakukan aksi mereka agar tujuan mereka dapat dicapai.
Menurut Budi Winarno, terorisme mempunyai karakteristik utama, yaitu penggunaan kekerasan, yang meliputi, pembajakan, penculikan, bom bunuh diri, dan lain sebagainya. Sumber lain, Robertson, menyebutkan bahwa ada tiga ciri utama terorisme, yakni penggunaan kekerasan, targetnya adalah orang-orang yang tidak bersalah, dan mereka berusaha menarik perhatian atas tuntutan mereka. Di sini sangat jelas bahwa kelompok-kelompok terorisme melancarkan aksinya dengan menggunakan kekerasan agar timbul jatuhnya korban dengan maksud untuk menarik perhatian dari khalayak ramai, dalam hal ini mereka yang memegang kekuasaan di dalam suatu negara yang menjadi tujuan tindakan mereka.
Hal yang harus dicermati dari berbagai tindak kejahatan terorisme adalah modusnya. Aleksius Jemadu mengatakan bahwa salah satu aspek yang diperdebatkan dalam isu terorisme adalah tentang keterkaitannya dengan agama, di mana ada yang menegaskan bahwa terorisme tidak memiliki kaitan dengan agama manapun karena semua agama menolak kekerasan dan pembunuhan terhadao warga sipilyang tidak berdosa, apalagi mereka yang melakukan terorisme mengatasnamakan agama hanya merupakan kelompok minoritas dan tidak mewakili penganut agama secara keseluruhan, sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa kelompok terorisme yang bertindak atas nama ajaran agama mendapatkan inspirasi dan justifikasi atas tindakannya berdasarkan penafsiran mereka atas doktrin agama yang diyakininya.
Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat-pendapat tersebut, memang kenyataan yang dapat dilihat dari berbagai pelaku tindak terorisme terutama yang di Indonesia, mencerminkan suatu identitas agama tertentu dari para pelakunya. Bahkan, para pelakunya disebut-sebut merupakan orang-orang yang taat beragama dan memiliki pengetahuan agama yang sangat kuat dan melakukan aksinya berdasarkan doktrin agama. Namun, sebenarnya mereka memiliki pemahaman ataupun sudut pandang yang salah mengenai ajaran agama tersebut, atau bahkan mereka memanfaatkan ajaran agama sebagai alasan untuk melancarkan aksinya dengan tujuan yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan agama mereka. Baik pada peristiwa Bom Bali, Bom Kedubes Australia, Bom J.W Marriot, Bom B.E.J, dan peristiwa-peristiwa lainnya, para pelakunya dipercaya berasal dari satu jaringan yang sama yang juga terkait dengan jaringan terorisme internasional. Orang-orang yang paling disebut sebagai pihak yang bertanggungjawab atas segala tindak terorisme di Indonesia adalah Dr. Azhari dan Noordin M. Top, dua teroris asal Malaysia yang kini sudah tewas.
Satu hal yang perlu dicermati dalam hal ini adalah bahwa Indonesia merupakan negara yang menjadi salah satu tujuan utama dari berbagai aksi gerakan terorisme yang terkait dengan jaringan terorisme internasional. Inilah hal yang mengherankan, sebenarnya apa yang menjadi tujuan utama dari para pelaku terorisme ini? Mengapa harus Indonesia? Mengapa tidak negara lain, Malaysia atau Australia misalnya? Terdapat banyak sekali hal yang mungkin menyebabkan sangat banyaknya aksi terorisme yang terjadi di Indonesia. Presiden SBY mengatakan bahwa ada tiga penyebab utama munculnya gerakan terorisme di Indonesia. Pertama, ideologi yang radikal dan ekstrim, ini bisa muncul di mana saja, negara mana saja, dan di masyarakat manapun, kedua, penyimpangan terhadap ajaran agama yang dianut, ketiga, karena kondisi kehidupan yang susah, kemiskinan absolut, dan keterbelakangan yang ekstrim yang konon mudah sekali dipengaruhi. Sedangkan, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj mengatakan ada beberapa faktor yang menjadi penyebab tindakan terorisme, yaitu kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, keselahpahaman memahami Islam. Pendapat lain dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Ansaad Mbai menegaskan, pemahaman radikal terhadap agama merupakan penyebab utama terjadinya terorisme, yang kerap muncul akibat perasaan diperlakukan tidak adil dalam berbagai bidang, ditambah, munculnya kelompok atau orang tertentu yang mempengaruhi dengan motif politik dan ideologi.
Dari berbagai pendapat di atas, ada banyak faktor-faktor penyebab munculnya tindakan terorisme di Indonesia, namun belumlah dapat ditarik pemahaman dengan benar apa sebenarnya yang melatarbelakangi munculnya terorisme di Indonesia karena cakupannya terlalu luas dan didasari oleh banyak motif. Namun, agama lagi-lagi menjadi salah satu faktor penyebab yang tidak dapat dipungkiri lagi karena inilah yang menjadi dasar utama dari para pelaku teror dalam melakukan kegiatan terornya. Faktor-faktor lain dapat disebut sebagai faktor pendukung, misalnya ideologi yang radikal maupun keterbelakangan ekonomi. Sebagai gambaran, keterbelakangan ekonomi dapat dijadikan sebagai acuan untuk melakukan kegiatan teror akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah yang sedang berkuasa yang cenderung mengikuti gaya kapitalisme Barat dengan menggunakan neoliberalisme sebagai landasan dalam kegiatan ekonomi. Tujuan mereka sebenarnya adalah untuk mengusik hegemoni Barat dalam ranah global dengan meneror apa-apa yang menjadi simbolisme Barat. Seperti dalam berbagai aksi teror yang terjadi di Indonesia, mereka menyerang Bali, tempat di mana banyak terdapat turis asing, lalu menyerang Kedubes Australia, menyerang hotel J.W Marriot dan Ritz Carlton yang disebut sebagai simbol Barat, dan bahkan akhir-akhir ini mereka menyerang pemerintah dan aparat yang memiliki kekuasaan yang mereka anggap sebagai antek-antek Barat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...