Langsung ke konten utama

Melawan Paham Radikalisme


Paham radikalisme yang dikaitkan dengan Islam, mendapat suplemen dan energi yang besar dengan diproklamasikannya negara ISIS, yang di akhir kemudian diketahui merupakan alat propaganda kolaborasi politik internasional untuk mengadu domba dan memecah kesatuan umat dunia, sebagai akibat dari kebencian terhadap pertumbuhan dan perkembangan Islam di dunia internasional.
Namun, nasi sudah menjadi bubur, benih kebencian sudah ditanam, bibit-bibit kejahatan sudah menjadi tunas-tunas baru yang tumbuh dan berkembang. Virus paham radikal sudah menyebar ke mana-mana, masuk dan menyelinap ke rumah tangga dan bersenyawa membabi buta hingga ke desa-desa. Penyesalan memang bukanlah obat mujarab untuk menyembuhkan rasa sakit, namun tindakan terbaik saat ini adalah pengobatan yang tepat dengan menggunakan ramuan dan formula yang tepat agar virus bernama radikalisme itu tidak menjalar kemana-mana.
Sebagai negara yang memiliki kedaulatan baik secara politik, ideologi, kewilayahan dan pertahanan dan keamanan, sejak proklamasi kemerdekaan diproklamirkan oleh Presiden Soekarno, Indonesia harus tetap kokoh tegak berdiri sejajar dengan bangsa lain dengan tidak mengabaikan kesatuan dan persatuan yang sejak dulu diperjuangkan. Dan radikalisme yang sekarang berkembang dianggap memiliki potensi cukup besar untuk memicu terberainya ikatan persatuan dan kesatuan bangsa yang dijunjung tinggi apalagi ditunjang dengan tersedianya kecanggihan infrastruktur teknologi informasi yang kini menjadi rujukan yang cukup penting untuk pengambilan keputusan.
Jika saja radikalisme dianggap sebagai paham untuk mempertahankan kebenaran yang sudah menjadi kesepakatan dalam skala kebangsaan, memang harus dipertahankan keberadaannya, sebab ia bisa mengikat tali untai persatuan dan kesatuan dalam wujud nasionalisme yang tinggi membela tanah air dan bangsa. Namun radikalisme tidaklah seperti itu, radikalisme yang berkembang memiliki kecenderungan memunculkan keburukan dan kerusakan bahkan melahirkan pelaku teror yang tak boleh dibiarkan menggurita menjadi virus raksasa yang mencengkram keutuhan bangsa.
Oleh sebab itu harus ada upaya yang simultan, dilakukan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat dengan mengedepankan fungsi dari masing-masing komponen anak bangsa menjadi garda terdepan menurunkan kadar tumbuhnya sikap radikalisme di masyarakat. Dan upaya itu disebut dengan deradikalisme.
Deradikalisme di kalangan mahasiswa dan pelajar
Sikap dan tindakan radikalisme yang melahirkan kejahatan terorisme tidak pernah dilakukan oleh orang tua yang renta, terorisme dilakukan oleh anak muda dan orang dewasa yang masih mempunyai tenaga yang besar untuk menggerakkan aksi terorisme. Tentu saja kekerasan akan dilakukan oleh orang yang masih enerjik, punya kekuatan mengangkat senjata serta pandai dan memiliki kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.
Artinya benih-benih radikalisme ditanamkan di benak anak muda yang sedang tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang dewasa. Fakta lainnnya, menurut pakar psikologi yang juga guru besar psikologi universitas Indonesia (UI) Hamdi muluk mengakui, akhir-akhir ini, terutama di bulan Ramadan, pergerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia cenderung menurun.
Artinya jika dalam masa pertumbuhan penuh diisi dengan pendidikan yang membangun karakter agamis (Islamis) maka gejala bertumbuhnya radikalisme akan mengecil dan menurun kadarnya. Kedua pernyataan di atas boleh saja dijadikan titik tolak berpikir serta menjadi awal keberangkatan memangkas jalur tumbuhnya virus radikalisme, terutama di kalangan anak muda seperti pelajar dan mahasiswa.
Kita mengetahui bahwa sekolah dan kampus dan pesantren adalah wahana tempat berkumpulnya anak muda melakukan studi, juga menjadi tempat yang relatif sangat baik menanamkan nilai-nilai luhur untuk membangun generasi berakhlak mulia. Namun kenapa radikalisme tetap saja tumbuh dan berkembang dan lalu melahirkan pelaku kekerasan. Jawabannya adalah kebersamaan melakukan tindakan.
Kampus, Sekolah dan Pesantren adalah aset yang sangat berharga untuk bangsa. Di dalamnya berisi calon generasi pemimpin berakhlak mulia. Oleh karena itu sudah sepatutnyalah pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional Budaya dan Pariwisata serta Kementrian Agama bahu membahu melakukan perencanaan, sistem pelaksanaan dan sistem pengawasan pendidikan di area-area tersebut. Sedangkan pada tataran legal yuridis, pemerintah melalui DPR memberikan kontribusi cerdas untuk melahirkan produk Undang-Undang dan peraturan turunannya untuk menghambat dan menurunkan kadar radikalisme serta bekerjasama dengan pemerintah daerah agar bahu membahu menciptakan dan membangun rasa nasionalisme yang tinggi, sehingga tidak akan ada lagi muncul teroris teroris baru yang dilahirkan dari paham yang salah.
Satu lagi peran positif dari para penggiat dakwah Islamiyah yang selalu dan tetap bekerjasama mewujudkan kembali tatanan kebangsaan dengan menumbuhkan rasa senasib sepenanggungan sebagai bangsa yang beragam, dengan terus menerus melakukan reformasi ajaran kebenaran yang sudah final sebagai ajaran. Memang sangat tidak mudah menahan laju paham radikalisme yang muncul dan berkembang di tengah berkecamuknya perang ideologi yang melibatkan banyak negara, namun sebagai bangsa yang besar dan warganya terpilah-pilah dalam kesatuan wilayah pulau-pulau yang tersebar, sudah saatnya melakukan pembenahan dan penataan di semua sektor kehidupan berbangsa dan bernegara, agar negeri yang kaya budaya ini tidak lagi dianggap sebagai salah satu negara penyumbang teroris dunia.
Di samping upaya sebagaimana telah disebutkan di atas, masih terdapat beberapa upaya yang perlu dilakukan dalam rangka menurunkan kadar radikalisme / deradikalisme di kalangan mahasiswa maupuan pelajar sehingga tidak mudah terpengaruhi oleh hasutan / ajakan dari kelompok terorisme, di antaranya;
Pertama, melalui media. Peran media menjadi hal yang penting sebagai respon dalam menghadapi ancaman asimetris, mempunyai peranan sangat strategis dan efektif yang dapat mempengaruhi, baik situasi nasional, regional maupun internasional diberbagai bidang. Kekuatan media dapat dijadikan alat untuk merubah persepsi, opini dan kontrol sosial yang mengarah kepada kebijakan publik.
Dalam hal ini, persepsi dan nilai-nilai yang disampaikan oleh media massa sering kali dianggap sebagai persepsi masyarakat secara keseluruhan. Semakin sering berita tersebut muncul, maka akan semakin besar pengaruh yang akan didapatkan. Melalui berita-berita yang disiarkan, secara tidak langsung telah memberikan referensi kepada masyarakat untuk mempengaruhi keputusan politik, termasuk dalam hal pemberantasan terorisme.
Terkait dengan hal tersebut, maka upaya untuk membendung paham radikal tidak akan berdampak signifikan tanpa bantuan media, baik cetak, elektronik maupun online, karena tanpa kehadiran media, himbauan, fatwa, peringatan dan pemikiran pemangku kepentingan tidak akan ter ekspose ke publik hanya terbatas di kalangan mereka. Media massa merupakan elemen integral dan penting dari masyarakat lokal, nasional, regional, maupun global untuk menyediakan berbagai kebutuhan informasi bagi masyarakat. Karenanya dalam mengatasi akar terorisme yang bermotif ideologis, doktrinal, serta penyebarannya yang bervariasi, sinergitas lembaga aparat keamanan dibantu dengan peran berbagai pihak, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, tokoh politik, tokoh agama, dan kontribusi dari media sangat diperlukan agar paham radikalisme di masyarakat tidak berkembang menjadi kekuatan yang dapat memecah nkri.
Kedua, dapat dilakukan dalam bentuk “melawan terorisme secara damai”. Cara awal dalam upaya melawan terorisme secara damai adalah dengan mengisi memori kolektif kalangan mahasiswa dan pelajar Indonesia dengan memori kolektif yang dimiliki bangsa indonesia mulai sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan, yaitu : “bangga sebagai bangsa yang merdeka” atas perjuangannya sendiri serta perjuangan dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan tersebut. “menggali dan mengembangkan potensi sejarah bangsa indonesia” menjadi hal utama dari cara awal dalam melawan terorisme secara damai.
Potensi sejarah bangsa Indonesia penuh dengan dinamika yang patut dibanggakan oleh warganya khususnya oleh kalangan mahasiswa dan pelajar, dan bukan hanya itu saja, perlu menjadi modal dasar yang harus dikembangkan dalam membangun peradaban yang lebih beradab dibandingkan peradaban terorisme. Bukan sekedar di sini saja, namun di mana-mana kita berada perlulah kita ikrarkan “melawan terorisme secara damai”.
Apabila terorisme dilawan dengan langkah-langkah teror, maka apalah bedanya dengan teroris yang sedang dilawan tersebut. Cara “damai” lah merupakan langkah yang tepat dalam melawan terorisme agar tidak tumbuh subur bak cawan di musim hujan. Kekerasan terhadap pelaku-pelaku terorisme hanya akan menyuburkan benih-benih terorisme tersebut

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...