
Agama Hal yang Absolut-Realita Perjuangan Keluar dari Kemelut
Semoga selalu damai dan sentosa hatinya.
Agama menjadi momok yang sangat istimewa karena diturunkan oleh Tuhan
yang Maha Esa. Ajaran untuk hambaNya agar menjalani kehidupan dengan
baik dan kembali pulang ke pelukanNya.
Dalam pandangan agama, hidup dapat menjadi
sangat sempurna. Menjadi ideal sesuai yang diidamkan setiap manusia.
Dalam ajaran Islam ada suatu pelajaran untuk tidak mendiamkan saudara
lebih dari 3 hari ketika sedang bertikai, bila melewati batas tersebut
maka hukuman dosa akan diberikan oleh Tuhan kepada hambanya yang sedang
bertengkar tersebut.
Pada realita yang ada, memperbaiki
silaturrahmi tidak mudah diselesaikan dalam waktu yang singkat. Setiap
manusia mempunyai tingkat kebesaran jiwa yang berbeda-beda. Kalau
melihat Bapak JOKOWI yang dengan hati “Legowo (Ikhlas)” mengundang Bapak
Fahri Hamzah minum teh di Istana (13/3) sekalipun pada aksi 411
menyuarakan menggulingkan JOKOWI, mungkin semua perbedaan pendapat atau
perselisihan dapat diselesaikan dengan cepat.
Di sisi lain, menjadi suatu kebanggaan
bahwa maskot Indonesia (Presiden) berjiwa besar dan memilih untuk
bersama-sama mewujudkan kedamaian dan tauladan yang baik bagi warga.
Sekalipun terasa “nyesek” setelah kerja untuk negara di pagi, siang,
sore dan malam kemudian ingin digulingkan begitu saja. Saran saya untuk
Bapak JOKOWI, sempatkan diri guling-gulingan di kasur Pak.
Berikut sabda Nabi, “Tidak halal bagi
seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3
hari” (HR. Bukhari 6237 & Muslim 2560)
Menjawab Doa Laknat Para Ustad
Pada kasus lain seputar Pilkada ada ustad
yang mendoakan kejelekan pada orang lain yang berbeda pilihan. Dalam
ajaran Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamiin tidaklah Nabi Muhammad SAW sebagai penerima wahyu diutus untuk menjadi suatu kecelakaan bagi manusia.
Alkisah dari Abu Hurairah yang berkata
“Rasulullah pernah diminta untuk mendoakan kecelakaan / kebinasaan untuk
kaum musyrik (penyembah berhala), beliau menjawab “Sungguh aku bukan
diutus sebagai pelaknat, Aku diutus hanya sebagai rahmat, kasih sayang.”
(HR. Muslim 2599).
Disebutkan dalam Kitab Al-Qur’an :
“Dan tidaklah mengutus kamu (Muhammad),
melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil
‘alamiin).” (QS. Al-Anbiya 107)
Karena dunia adalah perjalanan dan
penilaian Tuhan untuk manusia, menjadi keniscayaan bagi manusia untuk
100 % benar dan baik sesuai tuntunan agama sepanjang masa hidupnya. Kita
hanya harus berusaha untuk lebih baik dari sebelumnya sesuai tuntunan
agama, Tuhan melihat usaha manusia, Tuhan akan memberikan kemudahan bagi
mereka yang sudah berusaha semaksimal mungkin. Bukan sekedarnya saja.
Alangkah lebih baik dalam Pilkada yang
bertegangan tinggi ini, nilai-nilai Islam diatas dilestarikan ibarat
hujan yang menyejukkan bumi, membawa kedamaian dan ketentraman bagi hati
warga Indonesia, Rahmat untuk segala-galanya, bukan sebaliknya. Ok ?
Tidak Semua Orang Islam Beriman ?
Penulis tidak bermaksud untuk
menjustifikasi iman para muslimin. Tulisan ini hanya ingin menyampaikan
nilai-nilai ajaran Islam yang asyik dan harus lestari. Untuk menjamin
dan memastikan bahwa agama Islam orang Indonesia bukan Islam KTP. Karena
bila demikian NKRI akan senantiasa dihantui “jihad” yang
mengatasnamakan Islam. Dengan alasan apapun kekerasan dilarang dalam
agama Islam. Selesaikan dengan bermusyawarah. Jangan membuang tenaga
untuk memerangi saudara sebangsa dan setanah air.
Dalam surat Al-hujurat 14 dikisahkan :
“Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami
telah beriman” katakankanlah Muhammad, “Kamu belum beriman tetapi
katakanlah kami tunduk kepada Islam, karena iman belum masuk ke dalam
hatimu.” Dan jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya, Dia tidak akan
mengurangi sedikitpun pahala amalmu, Sungguh Allah maha pengampun, Maha
Penyayang.”
Jangan selalu terfokus pada apa yang
terlihat dari bagian luar seperti baju gamis, surban yang dilingkarkan
ke kepala, baju koko dan sarung. Sama halnya dengan membaca Al-Qur’an,
membaca Al-Qur’an adalah hal yang baik namun yang harus sangat
diperhatikan adalah memahami apa yang disampaikan Tuhan melalui
firmanNya. Pahami dan renungi terjemahan Al-Qur’an sebagai bentuk usaha
mendekatkan diri dan agar cahaya iman masuk ke dalam hati. Menjadi
“Mukmin sejati”.
Mukmin adalah orang yang beriman, yakni
mempercayai apa yang difirmankan Allah dan RasulNya. Mempercayai dengan
hati dan mengimplementasikan ajarannya dalam perbuatan sehari-hari. Bila
kita hanya mempercayai dalam hati namun mengingkari untuk menegakkan
ajaranNya maka kita tidaklah disebut seorang mukmin yang sempurna. Iman
harus bersanding dengan takwa. Dan takwa adalah mengenai perbuatan,
implementasi ajaran Tuhan dalam menyikapi kehidupan. Melakukan apa yang
diperintahkan dan menghindari apa yang dilarang.
Dari sini saya berharap orang-orang Islam
berperan aktif untuk melestarikan nilai-nilai ajaran Islam. Islam tidak
diturunkan untuk pemenangan Pilkada. Islam Tuhan persembahkan untuk
kebaikan semua umat manusia. Sabda nabi Muhammad SAW : “Beribadah di
saat huru hara (dunia kacau balau) adalah seperti berhijrah kepadaku.”
(HR. Muslim)
Komentar
Posting Komentar