Langsung ke konten utama

Kartini VS Radikalisme dan Intoleransi

21 April, setiap tahunnya di tanggal ini kita selalu merayakan Hari Kartini, hari yang dimaknai sebagai peringatan perjuangan emansipasi perempuan Indonesia. Pada tahun 1879, hari ini, di Rembang lahirlah perempuan bernama Raden Adjeng Kartini. Dari kebiasaannya berkorespondensi dengan Rosa Abendanon, Ia mendapati bahwa dirinya tertarik dengan kemajuan berpikir perempuan Eropa kala itu sehingga ingin memajukan perempuan pribumi agar tak kalah dengan perempuan lain. Pemikiran Kartini lewat korespondensi dengan teman-teman asingnya dibukukan dalam buku berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Sebetulnya Kartini belum sempat menunjukkan realisasi dari pemikirannya. 4 hari setelah melahirkan anak semata wayangnya, Soesalit Djojoadhiningrat, Kartini meninggal dunia di usia dua puluh lima tahun. Sehingga praktis kemudian kita tidak pernah tahu bagaimana Kartini mendidik anaknya, cara apa yang Ia tempuh agar pemikirannya menjadi nyata, bagaimana Ia berlaku sebagai istri kesekian dari suaminya, apakah Ia akan meminta cerai atau bertahan dengan kondisi sebagai madu, dll. Banyak hal yang tak terjawab dan hanya bisa dibayangkan.

Ini juga yang kadang memantik kontroversi tentang kepahlawanan Kartini, banyak yang merasa Kartini belum bertindak nyata. Hanya sebatas pemikiran. Mereka merasa nama-nama seperti Tjut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, hingga Dewi Sartika lebih memberikan contoh konkret bagaimana wanita juga bisa berjuang laiknya laki-laki. Lepas dari kontroversi tersebut sebetulnya Kartini adalah simbol betapa sebetulnya banyak harapan dan cita-cita positif yang ada dalam benak para wanita. Bahwa wanita tidak hanya pintar bersolek atau memasak saja, namun juga memikirkan hal lain termasuk masalah kaumnya.

Sekarang kita sebagai perempuan Indonesia tentu seharusnya tidak hanya memaknai Hari Kartini sekedar memakai baju daerah, lomba-lomba, atau sekedar berteriak tentang emansipasi. Kartini menyadari betapa pentingnya arti pendidikan. Kartini tahu bahwa seorang Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Apa yang dilakukan Ibu, apa yang dicontohkan, apa yang diucapkan Ibu akan menjadi dasar bagi seorang anak untuk mengembangkan karakter dan kecerdasannya.

Berangkat dari hal ini, mungkin momentum Hari Kartini tahun ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk merenung. Sebagai sekolah pertama bagi anak-anak, ajaran apa yang kita berikan pada anak-anak kita. Apakah kita cenderung melakukan doktrinasi atau lebih senang mengajak anak-anak berpikir cerdas dan kritis? Kita mendidik dan mengarahkan anak kita untuk menjadi generasi yang toleran atau yang intoleran? Kita mau jadi Ibu sumbu pendek yang enggan menggali informasi lebih lanjut, gampang panas dan percaya dengan isu di sekitar kita, serta kemudian menjadi contoh bagi anak ataukah kita mau menjadi ibu cerdas yang kritis, rajin mengembangkan pengetahuan (meski secara informal), terbuka namun tidak mudah terpancing dengan arus informasi, serta memberi teladan toleransi bagi anak-anak kita? Mau anak-anak menjadi radikal dan intoleran atau rasional dan toleran adalah pilihan yang ditentukan oleh bagaimana seorang Ibu membesarkan anaknya.

Tantangan perempuan dan Ibu di masa ini memang luar biasa besar. Selain berjibaku dengan biaya hidup yang makin tinggi, stress, dan masalah-masalah eksternal maupun internal lain dalam keluarga, Ibu masih dituntut memberi teladan dan ajaran bagi anak-anaknya. Waras tidaknya seorang Ibu dalam mendidik anak akan sangat mempengaruhi waras tidaknya karakter sang anak di masa akan datang. Adanya masalah misalnya kondisi ekonomi, ketidakharmonisan keluarga, masalah di tempat kerja, masalah dengan keluarga harusnya bukan menjadi alasan untuk seorang perempuan kalah dengan psikologisnya sehingga kemudian tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Atau tidak bisa juga seorang Ibu sekedar mendoktrin anaknya tanpa memberikan pandangan tentang dunia secara berimbang dan terbuka. Jika dulu Kartini harus menghadapi masalah karena kebudayaan yang masih menyempitkan peran wanita, maka tantangan Kartini modern justru melawan kesempitan berpikir yang banyak dialami manusia modern. Contohnya radikalisme dan intoleransi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...