Langsung ke konten utama

Sepuluh Kejadian Aneh Jelang Pilkada DKI Putaran Dua

Pilkada DKI sejak putaran pertama hingga menjelang putaran dua tidak hanya menguras energi warga Jakarta, tapi juga  menjadi perhatian dan keprihatinan seluruh masyarakat Inddonesia. Politisasi agama, isu SARA, sejumlah kejadian aneh dan perilaku abnormal dari orang-orang yang ucapannya tidak memenuhi kebutuhan rakyat, adalah sejumlah teror yang mengancam keberagaman, kedamaian dan keharmonisan warga Jakarta.

Rencana Tamasya Al Maidah, permintaan penundaan peresmian  Masjid KH. Hasyim Asyari, kegelisahan Rizieq FPI yang telah mengkoleksi 17 laporan Polisi mengenai dirinya, dan sejumlah hal di luar akal sehat  lainnya, adalah sejumlah perilaku aneh dan sifat kenak-kanakan (childishness).
Apa dan bagaimana kejadian aneh dan perilaku aneh-aneh, yang terkait pelaksanaan Pilkada DKI putaran dua? Terdapat kurang lebih sepuluh yang sangat menonjol. Berikut ini kejadian dan ceritanya.

1.Hujan es di Jakarta Selatan dan Timur
Pada Pilkada putaran pertama, Jakarta Selatan dan Timur, adalah wilayah kemenangan Anies-Sandi. Hari Selasa, 28 Maret 2017 di dua  wilayah yang suhu politiknya relatif panas ini terjadi kejadian aneh, yaitu sebagian wilayah Jakarta Selatan dan Timur diguyur hujan es sebesar kelereng.

Banyak yang menilai bahwa kejadian itu sangat langka dan aneh. Aneh karena Jakarta bukan kota yang bersuhu dingin seperti Cina, Jepang, dan Korea.

Ada yang berseloroh bahwa suhu politik di Jakarta Selatan dan Timur terlalu panas, sehingga perlu  didinginkan suhunya dengan turunnya hujan es.

Walaupun telah didinginkan suhunya oleh hujan es, namun wilayah Jakarta Selatan dan Timur masih dijadikan venue strategis oleh pendukung Anies-Sandi bahkan oleh Anies-Sandi sendiri untuk mengaduk-aduk emosi warga.

Sabtu, 15 April 2017 misalnya, Anies saat berada di kawasan Duren Sawit Jakarta Timur menyebut bahwa wilayah Jakarta Timur adalah medan pertempuran (battle ground) melawan petahana (Ahok-Djarot) untuk mendapatkan suara. Ini adalah pernyataan aneh dan emosional, menggelisahkan dan mengusik ketenangan warga. Seharusnya Anies menjelang masa tenang mampu menahan diri dalam mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial.

2. Intimidasi Tamasyah Al Maidah
 Jumat, 14 April 2017 bertempat di Masjid Raya Ittihad Tebet, Jakarta Selatan, Ustadz Ansufri ID Sambo yang betindak sebagai ketua panitia Tamasya Al Maidah memanaskan suhu politik melalui sejumlah pernyataan yang aneh-aneh. “…Insyah Allah sebanyak 1,3 juta orang akan datang di Jakarta,” ujarnya.

Menurutnya setiap TPS di DKI Jakarta akan diawasi 100 pasukan Tamsya Al Maidah. Ini adalah hal aneh, karena mayoritas orang-orang yang ditempatkan untuk menjaga  13034 TPS adalah orang dari luar Jakarta.

Benar-benar sesuatu yang aneh dan merupakan bentuk intimidasi kepada warga DKI. Apalagi menurut Ansufri keberadaan 100 orang tersebut berada pada jarak 20 -30 meter dari TPS, dan diberi tugas untuk meneriaki dan menyoraki jika terjadi ketidakberesan di TPS; perilaku arogansi ini jelas-jelas sangat mengintimidasi dan mengganggu pesta demokrasi di DKI.

Sikap sok jujur dari kelompok Tamasya Al Maidah sesungguhnya adalah bentuk nyata intimidasi yang anti demokrasi dan kehidupan yang damai; mereka menganggap Panwaslu DKI tidak mampu melakukan pengawasan dengan baik; dan melecehkan peran TNI-Polri dalam melakukan pengamanan.

Tamsyah Al Maidah bukan salah satu unsur yang diatur dalam pelaksanaan Pilkada DKI. Karena itu, untuk menghindari munculnya hal yang aneh-aneh, aksi intimidasi mereka harus secara tegas harus dicegah oleh tokoh-tokoh penganjur moral dan aparat TNI-Polri.

3.Panji Pragiwaksono Puji Ahok
Siapa tak kenal nama Panji Pragiwaksono? Pasti netizen sangat mengenalnya. Panji adalah juru bicara Anies-sandi. Sehingga rasanya sangat aneh kalau tiba-tiba Panji memuji Ahok.

Saat menyampaikan ucapan pujiannya, Panji tidak menyebut Ahok, tetapi Basuki. Mungkin ia masih sangat benci Ahok, tetapi Basuki tidak. Ini adalah hal aneh. Bukankah Basuki dan Ahok adalah orang yang sama?

Pujian Panji dikemukakan saat mengomentari hasil debat final Pilkada 12 April 2017. “ Pak Basuki kualitas dalam public speaking adalah tidak menggunakan bahasa rumit. Mudah dipahami. Sebagai public speaker, gue respek,” ujarnya.

4. Demo “Makar” 313
Entah apa alasan Muhammad Al Khaththath menamai demo yang gagal itu dengan angka 313. Hanya Muhammad Al Khaththath dan empat orang teman makarnya yang tahu.

Angka 313 memiliki banyak arti berdasarkan sudut pandang masing-masing orang. Menurut penulis , angka 313 merupakan gabungan dari angka 3 dan 13.

Masyarakat Indonesia pada umumnya terlanjur percaya bahwa 13 adalah angka sial atau tidak membawa keberuntungan. Sehingga banyak orang menghindar dari angka 13. Di Hotel misalnya tidak ada kamar yang diberi nomor 13, atau di pesawat terbang tidak ada kursi yang diberi nomor 13.
Mengenai angka 3 tafsirannya juga bermacam-macam. Ada yang menggunakannya untuk aba-aba dalam suatu lomba, atau sebagai juara terakhir dalam suatu pertandingan.

Dalam konteks ini, penulis memaknai angka 3 sebagai nomor urut Anies-Sandi. Apakah ini kebetulan atau betul? Tergantung dari sudut pandang masing-masing. Tapi menurut saya, angka 313  adalah salah satu keanehan jelang Pilkada DKI putaran dua.

Maksudnya, menurut feeling saya, nomor urut 3 Anies-Sandi pada tanggal 19 April 2017, kemungkinan akan berada pada urutan akhir; kesuksesan mereka terhalang oleh angka 13. Kayak peramal saja. Ha ha ha.

5.Sumarno langgar kode etik
Sumarno, ketua KPU DKI Jakarta, diduga tidak independen. Indikasi ketidakindependenan Sumarno bukan rahasia lagi. Sudah tersebar luas dan menjadi penilaian publik. Misalnya di gambar profil WhatSApp-nya terdapat foto aksi 212, bertemu dengan Anies di TPS 29 Kalibata, dan melakukan pertemuan rahasia dengan Muhammad Al Khaththath.

Ulin Yusron, seorang netizen, melalui akun twitternya @ulinyusron, membeberkan bahwa Sumarno pada hari Selasa 28 Maret 2017 melakukan pertemuan rahasia dengan Muhammad Al Khaththath alias Gatot Saptono.

Dikatakan rahasia karena Sumarno saat pertemuan tidak didampingi anggota KPU  lainnya. Pertemuan empat mata tersebut bertepatan dengan hari libur nasional dan tertutup bagi media.

Diduga pertemuan rahasia Sumarno dengan Muhammad Al Khaththath  si penggas aksi 313 dengan misi menggagalkan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta 2017-2022, adalah untuk memberi keuntungan kepada Anies-sandi.

Pertemuan Sumarno dalam kapasitasnya sebagai ketua KPU disebut aneh karena bertemu secara sembunyi-sembunyi dengan Muhammad Al Khaththath yang merupakan penggagas aksi 313, penggagas penyebaran ujaran kebencian SARA terhadap Ahok di Masjid-Masjid, termasuk penolakan mengsholatkan jenazah pendukung Ahok-Djarot.

6. Abdullah Gymnastiar Jubir anti Ahok
Aneh, ya, penganjur moral seperti Abdullah Gymnastiar alias AA Gym menjadi juru bicara (spokesman) anti Ahok.

AA Gym menganjurkan agar warga Jakarta jangan banyak memikirkan masalah orang lain (anti sosial?), tapi anehnya ia yang tinggal di Bandung sangat kuatir jika warga Jakarta menjadi bosnya  Ahok. Ia lebih senang jika Anies-Sandi menjadi bos rakyat Jakarta.

Keinginan AA Gym beda antara langit dan bumi. Ia menginginkan Anies menjadi bos rakyat Jakarta. Sangat beda dengan Ahok, yang menganggap bahwa rakyat Jakarta adalah bosnya.

Hati AA Gym begitu resah jika Jakarta dipimpin oleh Ahok-Djarot. Ia terlalu Su’udzon (berburuk sangka) kepada Ahok. Ia menyebut negara beruntung dengan adanya demo 212.

“Sayang kalau kita tidak belajar, tidak mengambil hikmah, tidak ada perubahan. Negara beruntung dari kejadian ini (demo 212),” ujarnya.

Mengapa penganjur moral seperti AA Gym memiliki kebencian sampai menyundul langit kepada Ahok? Justru akhir-akhir ini saya melihat ucapan Ahok lebih santun dibanding AA Gym. Salah satu kata Ahok yang saya sangat senangi adalah berikut ini.

“Saya tidak peduli Bapak Ibu tidak memilih saya kembali karena saya menjunjung tinggi keadilan sosial di Jakarta. Yang saya ingin, Bapak Ibu mendapat hak hidup di Jakarta,” kata Ahok kepada para pembencinya.

7. Rizieq FPI makin aneh
Siapa tidak kenal nama Muhammad Rizieq Shihab. Menurut saya, nama  yang pas bagi si penyebar kebencian ini adalah Rizieq FPI. Mengapa? Sebab Muhammad adalah nama yang suci dan panutan. Sedangkan Shihab adalah nama yang terpandang dan terhormat.

Itulah alasannya saya menyebut Rizieq FPI. Nama Rizieq FPI menurut saya sangat sesuai dengan perilaku Rizieq selama ini di tengah masyarakat, yang tak hentinya melakukan tindakan kontroversial, ujaran kebencian dan anti kebhinnekaan.

Bila ada yang ditanya siapa yang dekat dengan Tuhan. Pasti banyak orang ragu-ragu menjawabnya, karena semua orang pernah melakukan dosa baik secara sadar maupun tidak, kecuali Rizieq FPI yang mulutnya berbuih-buih mempromosikan dirinya pada orang-orang bahwa ia sangat dekat dengan Tuhan.

Apa benar Rizieq FPI memiliki koneksi dengan Tuhan? Jawabannya tidak! Sebab Tuhan mencintai semua orang, entah orang memilih Ahok-Djarot atau Anies-Sandi. Tuhan tidak masalahkan. Justru Tuhan sangat membenci orang-orang seperti Rizieq FPI yang hatinya sarat kebencian dan amarah, yang kerjaannya menjelang  Pilkada DKI putaran dua terus menebar kebencian, fitnah dan sebutan KAFIR (Kangen Firza)  terhadap pemilih Ahok-Djarot.

Sangat sangat aneh, orang yang mengaku dekat dengan Tuhan kayak Rizieq FPI berdoa agar Tuhan tidak menyediakan surga bagi pemilih Ahok-Djarot.

Hai Rizieq FPI, kenapa ajaran ente seperti itu? Dalam semua ajaran agama tidak ada ajaran mendoakan hal yang buruk kepada orang lain. Doa ente yang buruk seperti itu suatu waktu bisa berbalik kepada diri ente. Semoga Tuhan memberi hidayah kepada ente.

8. Djan Faridz rela jenazahnya tidak disholatkan
Ketua Umum PPP hasil Muktamar Jakarta, Djan Faridz, adalah pendukung setia Ahok-Djarot sejak putaran pertama. Ia sangat prihatin dengan isu SARA dan intimidasi yang membombardir Jakarta menjelang Pilkada putaran dua.

Penolakan jenazah disholatkan dan doa yang aneh-aneh  di forum pengajian dan di rumah-rumah ibadah, yang isinya meminta pemilih Ahok-Djarot ditolak di surga membuat Djan Faridz prihatin. Ia  prihatin karena  tempat ibadah digunakan untuk menyesatkan si pendoa sendiri dan berdoa buruk kepada orang lain.

Faridz melihat banyak tuduhan yang dialamatkan dan disematkan kepada Ahok tidak benar. Itu terjadi karena masyarakat disesatkan oleh informasi yang tidak benar oleh para penganjur moral yang tak bermoral.

Demi pembelaannya kepada Ahok, yang dianggapnya tidak bersalah, Djan Faridz rela jenazahnya tidak disholatkan. Ia berjuang untuk Islam Jakarta dan telah menandatangani kontrak politik dengan Ahok untuk memakmurkan marbot dan imam Masjid. “ Saya ikhlas karena yakin Allah akan membantu saya, saya sekarang sedang berjuang,” ucapnya.

9. Chat heboh Sandi
Sandiaga Salahuddin Uno, yang akrab disapa Sandi, adalah Cawagub yang namanya selalu dikait-kakitkan dengan wanita yang bukan istrinya.

Terakhir terungkap ke publik, Sandi memiliki obrolan (chat) yang mengarah keperselingkuhan dengan seorang artis berinisial MZ.

Seorang netizen menduga bahwa wanita di dalam foto bersama Sandi di sebuah acara, walaupun hanya matanya terlihat jelas di foto, namun ia menduga bahwa wanita berinisial MZ itu adalah Macella Zalianty.

Untuk menjaga kesantunan dan sensitifitas sosial, isi chat memalukan dan tidak mendidik tersebut sengaja saya tidak publikasikan, walaupun sebenarnya telah tersebar luas di sejumlah media.

Terungkapnya chat heboh ini ke publik menunjukkan bahwa klaim kesantunan Anies-sandi dan demokrasi sejuk yang berbuih-buih dikampanyekan ternyata hanya topeng. Salah satu topeng yang tertutup rapih itu terbuka oleh perilaku Sandi yang doyan memberi harapan palsu dan mengobok-obok perasaan wanita.

10.Ketidakkompakkan Anies-sandi
Cerita Cagub-Cawagub tidak kompak saat memegang jabatan bukanlah hal yang mengherankan. Namun lain halnya dengan Anies dan Sandi. Keduanya baru sebagai Cagub dan Cawagub sudah tampak tidak kompak.

Misalnya mengenai rumah Down Payment (DP) 0 persen, lalu diubah menjadi 0 rupiah. Menurut Anies, rumah DP 0 rupiah adalah untuk warga berpenghasilan Rp 7 per bulan. Namun Sandi memiliki pendapat yang berbeda. Menurut Sandi, rumah DP 0 rupiah bisa untuk masyarakat yang berpenghasilan 3 -4 juta per bulan. Sungguh aneh dan membingungkan.

Perbedaaan tersebut saat debat final 12 April 2017 ditanyakan oleh Ahok , namun Anies tidak bisa menjawabnya. “Saya tidak mendapat jawabannya,” kata Ahok setelah mendengar jawaban Anies yang berputar-putar.

Selain tidak adanya kekompakkan antara mereka berdua, juga terjadi ketidakkompakkan antara diri mereka masing-masing alias inkonsisten. Misalnya mengenai reklamasi Teluk Jakarta. Sikap Anies dan Sandi selalu berubah-ubah.

Pada awal kampanye, Anies-Sandi berapi-api menolak dengan tegas kebijakan reklamasi Teluk Jakarta. Di pertengahan kampanye, keduanya mendukung reklamasi. Namun pada saat debat final, keduanya menolak reklamasi. Benar-benar aneh, aneh  dan aneh .

Keanehan lainnya, pada saat debat final, Sandi menyebut data Ok Oce sebanyak 12 ribu, padahal data di website www.jakartamajubersama.com miliki mereka tercantum 11 ribu, lalu karena takut ketahuan belangnya diubah  menjadi 12 ribu sesuai dengan omongan Sandi di debat. Benar-benar asbun dan pembohongan kepada publik.

Karena ketidakkompakkan dan inkonsistensi, dalam setiap debat Anies-Sandi menggiring debat program dan penajaman visi misi menjadi curhat (curahan hati). Selama debat  berlangsung, Anies-sandi tidak menjawab sesuai maksud pertanyaan, tetapi mengobral keluhan dan keresahan masyarakat. Mulut mereka berbuih-buih menjanjikan harapan tak pasti tapi seolah-olah sudah pasti kepada rakyat. Janji mereka kayak seorang Salesman memikat pelanggan.

Walaupun program masih mengawang-awang, namun Anies-sandi berani menggaransikan diri mereka sebagai solusi untuk mengatasi keluhan dan keresahan warga Jakarta.

Untuk menggolkan janji yang mengawang-awang itu dan agar tidak kehilangan muka di mata warga, keduanya tidak melakukan pelarangan secara tegas terhadap politisasi agama yang dilakukan oleh pendukung mereka, karena dianggap memuluskan langkah mereka menduduki kursi DKI-1 dan 2.
Pendukung Anies-Sandi tak segan menggunakan mimbar dakwah sebagai sarana untuk memberi dukungan. Di mimbar-mimbar Jumat dan pengajian, menjelang Pilkada putaran dua masih terdengar suara-suara lantang berisi  anjuran memilih Anies-Sandi dan menolak Ahok-Djarot. Namun tidak semua Ustadz terseret ajakan untuk memberi dukungan membabi buta tersebut.

Nurul Huda Haem, yang akrab disapa Enha asal Bekasi, adalah salah satu Ustadz yang secara tegas menolak permintaan Panitia di Mushala Yazir, jalan Kebembem, Pisangan Timur, Pulo Gadung.  Ia menolak mengisi ceramah dengan tema menyambut Ramadhan, tapi  Panitia memintanya saat  ceramah menyelipkan materi untuk memilih Anies-Sandi.

Oknum Panitia di Mushala Yazir rupanya termakan isu sesat bahwa Ahok-Djarot tidak berpihak kepada warga DKI. Berikut isi percakapan Ustadz Enha dengan Panitia yang kurang mendapat informasi sehat tersebut.

Satu  periode ini saat Jakarta dipimpin Pak Ahok, apakah Masjid kita habis? Apakah uang di Baziz habis? Apakah Sholat Jumat kita semakin habis? Apakah ada larangan dari Pemda? Kebijakan Pemda (DKI) yang mana menghancurkan umat?..”  “Cukup, cukup ust, nanti kita bicarakan dengan panitia yang lain,” kata Panitia yang sudah dicekoki informasi sesat itu mencela pertanyaan Ustadz Enha.

Nampaknya Anies dan Sandi lupa bahwa hidup dalam kedamaian dan keamanan tidaklah mudah. Lebih mudah mengejar citra dipuja dan dihormati. Lebih mudah melihat kesalahan lawan daripada instropeksi diri. Lebih mudah melihat apa yang beda dalam diri lawan daripada menemukan kesamaannya dalam diri sendiri.

Menjelang Pilkada putaran dua sepertinya pendukung Anies-sandi, khususnya kaum intoleran yang mempolitisasi agama dan memainkan isu SARA sulit menemukan aturan yang merupakan inti setiap ajaran agama, bahwa manusia harus memperlakukan sesama yang lain sebagaimana dirinya diperlakukan oleh orang lain.

Sikap pendukung Anies-Sandi yang sesat pikir dan tak surut membenci orang berbeda di NKRI yang bhinneka, yang hidup mencintai kedamaian dan keamanan; justru akan mengalahkan diri sendiri dan mencederai Anies-Sandi, dan akan tercatat sebagai sejarah hitam Pilkada Jakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...