Langsung ke konten utama

Bahaya Laten Radikalisme dan Konspirasi Menghancurkan Indonesia (Dimulai dari Jakarta)

Pemilihan kepala daerah atau Pilkada seharusnya berjalan tanpa tekanan dan paksaan dari siapapun. Setiap individu bebas memilih pilihannya. Para calon pemimpin dan para pendukungnya bisa beradu program tanpa harus mengancam dan menekan warga pemilih.

Idealisme di atas takkan pernah bisa diterapkan di Jakarta. Pilkada sudah terlanjur dimulai dengan kotornya permainan politik. Sentimen SARA sudah terbangun bahkan sebelum kontestasi politik ini dimulai. Tekanan dan paksaan terlihat masif di lapangan. Bahkan, produk-produk agama seperti “neraka” harus rela dipaksa untuk menakut-nakuti warga.

Seorang Jawara Betawi, H Abu Sadelih namanya, membuat sebuah deklarasi sarat SARA. Deklarasi di bawah golok terhunus dan Quran tentunya, secara terang-terangan ia ingin mengatakan kepada warga DKI “Lu pilih Ahok dapat dua, azab dari ini golok sama azab dari Allah”. Begini bunyi deklarasinya:
Lailaha illallah, muhammadur rasulullah
Demi Allah. Kami dan keluarga kami akan mendukung muslim sebagai gubernur kami. Dan demi Allah. Kami dan keluarga kami siap menerima azab dari Allah dan menanggung dosa umat Islam apabila kami dan keluarga kami mendukung kafir sebagai gubernur kami.
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar…

Tapi tak berselang lama. H Abu Sadelih akhirnya ditangkap pihak kepolisian. Setelah diadakan gelar perkara, polisi menetapkan Sadelih sebagai tersangka dengan Pasal 16 juncto Pasal 4 hurup b ayat (2) dan (3) UU No 40 Tahun 2008.

Pihak kepolisian mengatakan, memang awalnya menyerukan mendukung muslim sebagai gubernur, tapi pernyataan terakhirnya yang dapat menyulut sentimen SARA yang lebih besar lagi.

Tugas kepolisian memang tambah berat. Soal Pilkada sudah bukan lagi masalah politik. Tapi ada pergerakan ke arah radikalisme sektarian. Pelanggaran-pelanggaran saat Pilkada DKI ini merupakan percikan-percikannya.

Kalau tidak segera dicegah atau diputus skema besarnya, radikalisme agama ini akan makin membesar dan kepolisian akan susah payah menghadapinya. Karena yang dihadapi adalah warga sipil. Dimana mereka cuma boneka. Otak pergerakannya entah dimana keberadaannya.

Polisi pasti sudah membaca adanya sebuah konspirasi untuk menghancurkan Indonesia yang dimulai dari Ibukota. Sebab, banyak pihak yang berkepentingan disini. Pola yang dipakai sama dengan yang berkembang di timur tengah, “menyalakan api kebencian” atas nama Tuhan.

Lalu dihidupkanlah kelompok-kelompok radikal. Dibiayai dan dipersenjatai untuk sebuah tujuan, ya “kekacauan”. Mereka diciptakan cuma untuk itu. Dari kekacauan inilah, pihak-pihak yang berkepentingan akan mengambil alih semuanya. Pihak-pihak tersebut bisa dari dalam ataupun luar negeri.

Penjajahan tidaklah punah. Ia masih hidup cuma dengan cara yang amat licik. Mereka menjajah bukan untuk menyerang, tapi untuk “menyelamatkan”. Atas nama hak asasi dan perdamaian dunia, mereka menjalankan misi penjajahan “gaya baru”, yang lebih manusiawi dan bisa diterima banyak pihak.

H Sadelih cuma pion-pion kelas teri yang dimanfaatkan oleh aktor-aktor di balik layar. Meski pion, perannya amat vital sebagai pemicu awal berkobarnya sentimen SARA yang lebih besar lagi.

Hari ini mungkin Djarot yang diusir dari masjid. Besok-besok bisa jadi anda yang diusir dari masjid. Itu dari masjid, bagaimana kalau dari Ibukota? Atau terusir dari negerinya sendiri? Semua arahnya akan kesana. Lihat saja warga Suriah, berapa banyak yang terpaksa terusir dari negerinya sendiri.
Grand Design” ke arah sana memang ada. Pola pergerakannya sama. Apa yang dituju juga sama. Gambaran masyarakatnya juga sama. Yang membedakan adalah kita punya “Pancasila”. Kita punya alasan untuk terus bersatu meski berbeda tentang banyak hal.

Inilah yang sedang diperjuangkan pihak kepolisian juga otoritas lain untuk membendung gerakan radikalisme. Jakarta menjadi penentu dari pergerakannya ini. Memenangkan Jakarta bukan lagi tentang menyelamatkan anggaran daerah yang bernilai 70 triliun itu. Tapi memenangkan Jakarta adalah tentang menang dari gerakan radikalisme sektarian yang takkan pernah sebanding dengan angka 70 triliun.

Anda boleh apatis dengan apa yang saya sampaikan. Anda boleh bilang, kalau kalah, palingan Jakarta diperlambat lagi pembangunannya. Jakarta kembali kumuh lagi. Pungli kembali merajai aktivitas para pegawai negeri di Jakarta. KKN bersinar lagi. Dan aset-aset DKI bakal diganggu oleh mereka yang sudah lama mengincarnya.

Bagaimana dengan ormas-ormas radikal? Bagaimana dengan ormas-ormas anti Pancasila dan NKRI? Bagaimana dengan ide pendirian khilafat ala ISIS?
Kehancuran Afganistan dimulai dari tokoh-tokoh nasionalisnya yang bersikap apatis dengan pergerakan-pergerakan radikalisme agama. Saat gerakan radikalisme ini memenangkan satu persatu wilayah di Afganistan, lalu mereka mulai menguasai Afganistan, yang pertama kali dihabisi adalah tokoh-tokoh nasionalis tadi.

Di masa-masa seperti ini, diam bukan lagi emas. Kita perlu untuk bersuara lantang. Kita perlu untuk meneriakkan bahasa perlawanan. Semua itu demi kedamaian di negeri ini. Demi anak-anak cucu kita yang berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...