Langsung ke konten utama

Prof Sumanto Al-Qurtuby: Konsep Negara KHILAFAH Bukan Produk Tuhan


Prof Sumanto Al-Qurtuby menulis di akun facebooknya tentang Khilafah dan HTI, siapa dibalik konsep Khilafah? Apa penyebab adanya konsep Khilafah dan HTI? Mari kita simak tulisan beliau.


Ilusi dan Ambisi Politik Hizbut Tahrir
Secara etimologi, Hizbut Tahrir (HT) berarti “Partai Pembebasan”. Berdiri tahun 1953 di Jerusalem, HT adalah sebuah organisasi atau partai politik internasional pan-Islam yang bertujuan untuk atau ingin menciptakan (menegakkan) kembali sistem politik-pemerintahan Khilafah Islam (Islamic Caliphate) yang tumbang pada tahun 1924 yang ditandai dengan berdirinya negara sekuler Turki dan rontoknya Daulah Ustmaniyah (Ottoman). Meskipun namanya atau bajunya bernama “Khilafah” tetapi isinya atau dalemannya sebetulnya sistem kerajaan atau dinasti.
Pancasila Harga Mati
Dalam konsep sistem Khilafah yang baru ini, HT berambisi atau berilusi untuk menyatukan seluruh umat Islam dalam satu wadah politik negara (eh salah kerajaan, eh salah lagi Khilafah maksudku) kesatuan dari Maroko sampai Mindanao. Catat baik-baik: HT itu sebetulnya “pro negara kesatuan” atau “unitary state” (seperti NKRI) bukan sistem federalisme (federal state), meskipun para pengecer dan cheerleaders-nya di Indonesia mati-matian anti-NKRI. “Negara khilafah” ala HT ini bisa disebut sebagai “superstate” yang menghimpun semua komunitas Muslim di dunia ini dalam satu bendera Islam. HT mengimajinasikan terbentuknya atau adanya “Tanah Islam” seperti kaum Zionis dengan slogan “Tanah Yahudi”-nya.

Sejarah munculnya atau berdirinya HT memang sebagai reaksi atas Perang Arab-Israel yang berbuntut pada pecahnya Palestina dan berdirinya Negara Israel. Karena itu salah satu “ajaran wajib” dan doktrin fundamental HT adalah anti-Zionisme dan anti-Negara Israel yang dianggap ilegal dan wajib dimusnahkan. Faktor lain adalah karena frustasi terhadap “negara-negara sekuler” baik Barat maupun Arab yang gagal mempertahankan kesatuan Palestina. Tapi uniknya, HT sepi peminat di negara asalnya bahkan dilarang di negara-negara Arab, meskipun lumayan laku di negara-negara lain.

Salah satu alasan pelarangan HT di sejumlah negara-negara Arab adalah karena pendiri HT, Taqiyuddin al-Nabhani (1909-1977), dicurigai menyimpan agenda terselubung untuk membangkitkan kembali kekuasaan suku Bani Nabhan yang pernah menjadi penguasa politik di Oman tahun 1154-1624 setelah berhasil mengkudeta kekuasaan Bani Saljuk. Dinasti Nabhani (atau juga disebut Daulah Nabahina) ini juga hancur diserbu Dinasti Yaruba. 

Pendiri HT adalah dari keluarga suku Bani Nabhan ini.
HT hanyalah “alat” untuk mengegolkan ambisinya itu. “Khilafah” hanyalah nama saja untuk mewujudkan impiannya itu. Dan memang “draf konstitusi” Khilafah yang disusun Taqiyudin itu seperti zaman Dinasti Islam dulu: mata uangnya pakai logam (emas atau perak, bukan kertas), pemimpinnya bernama Khalifah, Muslim wajib militer untuk membela kerajaan/khilafah, para istri harus taat pada suami dlsb. Ingat ya: draf konstitusi ini yang bikin namanya Taqiyudin al-Nabhani, bukan Allah SWT seperti klaim mereka. Karena itu saya bilang sistem Khilafah itu produk manusia, bukan ciptaan Tuhan. Kalian kok mau sih dibodohi oleh para pedagang HT? Jabal Dhahran, Arab Saudi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...