Langsung ke konten utama

Membedah Gagal Paham HTI Mengganti Pancasila Dengan Khilafah



Berbagai media massa baik cetak maupun online dan diskusi-diskusi yang dilaksanakan oleh berbagai kalangan masyarakat pemerhati bangsa, terdapat isu kontroversial yang hangat diperbincangkan kalangan generasi muda bangsa terkait ormas Hizbut Tahrir di Indonesia atau yang lebih dikenal dengan HTI yang menganggap sistem khilafah hukumnya wajib tegak dimuka bumi dan di atas satu komando.
Sekilas sebagai seorang awam melihat gerakan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang ingin bermimpi untuk mendirikan Imperium Islam yang pernah ada dengan masa kejayaan di Andalusia atau Spanyol selama sekitar 200 tahun dari masa sekitar 640 tahun berkuasa, yang disebut sebagai masa kejayaan Islam. Namun semenjak kejatuhan Turki Usmani pada awal abad ke-20 oleh Kemal Attaturk, HTI menganggap tidak ada pemerintahan Islam. HTI sebagai cabang dari gerakan Hizbut Tahrir Internasional berhasil menarik perhatian negara dunia ketiga  khususnya Indonesia dan beberapa negara lainnya seperti Pakistan, Afghanistan, Mesir dan sebagainya.
Berbicara tentang ormas radikal di Indonesia, tentu tidak mungkin kita bicara ISIS (karena ISIS bukan ormas resmi di Indonesia). Oleh sebab itu, maka kita ambil 1 (satu) contoh yang memang disebut "ormas" resmi di Indonesia, yakni Hizbut Tahrir Indonesia  dimana ormas ini yang paling lantang dan paling 'dibiarkan' meneriakkan ide khilafah di Indonesia. HTI dipertanyakan oleh sebagian masyarakat mengapa ormas radikal tersebut bisa bebas berkegiatan menyebarkan "ideologi khilafah"  dan terakhir pada bulan Mei-Juni 2012 mereka mengadakan acara akbar di GBK dan di 35 kota besar lainnya.
Menurut penulis Idiologi HTI ini adalah ideologi yang tak jelas ujung pangkalnya. Mengapa? Sebab pertama, siapa yang akan menjadi wakil dan ditunjuk menjadi Khalifah dalam Khilafah? Itu saja tidak mampu dijawab dengan jelas. Siapakah yang akan dianggap mewakili dan menjadi sultan atau raja Islam? Kembali, tidak ada satu pun anggota dan pemimpin HTI mampu menjawab. HTI hanya mampu mencela pemerintahan RI dan pemerintahan manapun di dunia. Kedua, di mana pusat kekuasaan Khilafah nanti? Apakah akan ditentukan seperti saat perpindahan pusat pemerintahan kesultanan di Damaskus, Baghdad dan Istanbul - Islampool atau Kota Islam. Adakah satu negara mau dijadikan markas menghapus negara kebangsaan menjadi negara teokrasi Islam? HTI tak mampu menjawab. Ketiga, paham Khilafah sendiri menimbulkan kontroversi karena tidak ada perintah sama sekali untuk membentuk daulat Islamiyah dalam bentuk pemerintahan Islam secara terpusat. Keempat, HTI yang tidak memercayai pemerintahan negara Indonesia secara jelas dan lugas adalah kelompok yang merongrong NKRI namun mereka aneh sekali karena makan, tinggal dan hidup di Indonesia. Agenda politik yang mengatasnamakan khilafah sesungguhnya adalah absurd. Alasan keadaan darurat di bawah pemerintahan non-khilafah adalah pembenaran sepihak untuk menutupi kedok hasrat kekuasaan politik. Dan, terakhir adalah HTI lupa bahwa Khilafah dan bahkan 4 Khalifah tak mampu melindungi keluarga Nabi Muhammad SAW selepas mangkatnya Rasullullah. Dari kelima analisis diatas artinya apa yang dilakukan oleh HTI dengan serangkaian kampanyenya yang memerjuangkan syariah dan khilafah hanyalah upaya merongrong NKRI dan tujuannya adalah untuk kedok kekuasaan belaka.
Sedangkan Menurut Makmun Rasyid penulis buku “HTI, Gagal Paham Khilafah” menyebutkan bahwa tidak ada satu dalilpun dalam Al-Quran yang mewajibkan untuk mendirikan negara Islam, HTI juga tidak menjadi partai karena kekacauan dalam berfikir dan bertindak. Sedangkan menurut Ust. Sofiuddin “Dosen STK Al-Quran Depok” menyebutkan bahwa HTI sesungguhnya tabayyun, HTI hanya memotret Indonesia sekilas sebagai alat provokasi, tapi tidak memberi solusi. Sama halnya menurut Ust. Rusli Sainun “Ketua Keluarga Muslim Bogor” meyebutkan bahwa sistem khilafah tidak bisa menghentikan sistem kenegaraaan Indonesia yang sudah dibangun oleh para pendiri bangsa.
Ormas-ormas seperti HTI jelas bertentangan dengan prinsip yang ada di Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Ormas ini sama sekali tidak menjunjung tinggi perdamaian dan toleransi. Justru sebaliknya, mereka menjunjung tinggi provokasi demi perpecahan seolah-olah ingin memindahkan konflik yang ada di Timur Tengah ke Indonesia. Ormas-ormas radikal ini tentu melakukan kaderisasi secara radikal pula.
Mengutip pernyataan Ketua PBNU Said Aqil Siradj bahwa pembiaran terhadap radikalisme akan menumbuhsuburkan gerakan terorisme, maka bibit-bibit terorisme harus diberantas sejak dini tanpa pandang bulu.
Namun, di balik itu semua itu justru yang sangat membahayakan adalah bahwa apa yang dilakukan oleh HTI cenderung menciptakan radikalisasi agama dan keyakinan yang menciptakan segregasi dalam NKRI yang berdasarkan Pancasila yang tidak diakui oleh HTI. Sungguh memprihatinkan organisasi semacam HTI dibiarkan tumbuh subur dan melakukan kampanye dan bahkan mengadakan Muktamar Khilafah. Sehingga menimbulkan pertanyaan besar bahwa dimana sebenarnya posisi pemerintah dalam menyikapi radikalisasi agama dengan model HTI yang sengaja membiarkan mereka untuk terus maju dan berkembang? Oleh karenanya sebagai rakyat harus waspada akan gerakan-gerakan yang bertentangan dengan dasar negara Pancasila dan yang memecah belah umat sementara pemerintah diminta dapat tegas mengambil sikap terhadap ormas-ormas yang dalam perjuangannya bertindak intoleran dan bertentangan dengan semangat persatuan bangsa dan keragaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...