Langsung ke konten utama

Peran Sekolah Penting Untuk Pengajaran Bahaya Radikalisme Dan Intoleransi Sedari Dini

Ilustrasi
Sekolah harus berupaya untuk meminimalkan dan mengatasi radikalisme serta intoleransi di sekolah-sekolah.
Jadi, peran aktif kepala sekolah dalam mengawasi dan menindak perilaku siswa yang bersifat radikal diperlukan.
Ucapan tersebut diungkapkan oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hamid Muhammad, dalam lokakarya untuk siswa SMA dan SMK bertajuk Aksi Pelajar untuk Kebinekaan Indonesia, yang berlangsung di Jakarta, Jumat (21/4) kemarin.
Upaya kepala sekolah dalam menindak radikalisme dan intoleransi, menurutnya, menjadi faktor kunci agar kasus tersebut tidak terus berkembang.
“Selama ini ada pembiaran. Ketika dibiarkan dan jadi besar, barulah heboh. Harusnya penindakan dimulai sejak kasus itu masih kecil,” terangnya.
Dia menerangkan bahwa Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa dan 742 bahasa daerah.Keberagaman tersebut selama ini justru menjadi kekayaan utama bangsa ini.
Untuk melakukan penindakan terhadap intoleransi tersebut, menurutnya, pemerintah pusat tidak akan memberikan panduan atau rekomendasi kepada sekolah.
Alasannya, kepala sekolah sudah tahu cara melakukannya dan wakil kepala sekolah dengan bidang masing-masing juga bisa langsung menangani masalah tersebut.
“Kalau ada siswa yang intoleran, segera panggil dan bereskan,” ujarnya.
Meski demikian, dia menyatakan Kemendikbud hingga kini belum mendapat laporan terkait dengan adanya tindakan intoleran di sekolah.
Dia menambahkan bahwa laporan dan tanggung jawab pembenahan berada pada pemerintah daerah dan dinas pendidikan setempat.
Jadi, menurutnya, jika terjadi tindakan intoleransi di sekolah, masyarakat juga diminta untuk mencari keterangan dari sekolah hingga pemerintah darah.
“Kalau sudah masif dan bersifat kebijakan, barulah tanya kepada kami. Segala regulasi dan imbauan sudah kami berikan kepada sekolah,” tukas Hamid.
Di tempat yang sama, Direktur Maarif Institute Abdullah Darraz, menyatakan bahwa sekolah telah menjadi target kaum radikal dalam menyebarkan paham dan menumbuhkan intoleransi.
Temuan tersebut di dapatkan dari hasil kajian yang dilakukannya.
“Untuk itu, untuk menangkal isu radikalisme dan toleransi, kita harus menyuburkan keberagaman di tingkat sekolah,” terangnya.
Dia mengatakan bahwa saat ini fenomena politik mampu memecah negara menjadi dua bagian.
Jadi, sejak masih sekolah, siswa harus dibiasakan berada bersama kaum minoritas dan berbeda dari mereka.
Menurutnya model yang mengakomodasi keberagaman di sekolah dapat ditemukan di salah satu sekolah di Medan, Sumatra Utara.
Dalam sekolah tersebut, siswa lintas agama sering dipertemukan dalam satu wadah dan mereka berinteraksi.
“Dari kajian kami, di sekolah tersebut tidak ditemukan adanya radikalisme dan intoleransi,” ucapnya.
Dia juga menyatakan sudah meminta pemerintah agar mengimbau sekolah-sekolah untuk terbuka kepada kaum moderat.
Hal itu bertujuan agar kaum moderat dapat masuk dan berperan dalam menumbuhkan nilai keberagaman kepada siswa.
Sebagai negara yang majemuk, keberadaan paham radikalisme dan intoleransi sangat berbahaya karena dapat memecah-belah NKRI.
Karena itulah, edukasi tentang radikalisme dan intoleransi sedari dini memang penting untuk membentengi anak-anak Indonesia dari paham-paham tersebut.
Agar nantinya ketika mereka besar mereka tidak mudah terpengaruh dan melakukan tindakan-tindakan tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...