Langsung ke konten utama

Penyebaran Paham Khilafah, Banyak Dilakukan HTI Di Kampus-Kampus

Ketua Pengurus Cabang NU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin atau Gus Aab menilai, pemikiran khilafah yang dikembangkan Hizbut Tahrir Indonesia berkembang subur di tengah kampus eksakta atau ilmu pasti.
“HTI mulai berkembang di kelompok masyarakat urban. Kalau dispesifikkan di kalangan perguruan tinggi, khususnya di program studi eksakta. Karena (kalangan mahasiswa eksakta) banyak mendapat transformasi keilmuan di bidang agama lebih pada proses instan, seperti e-learning atau halaqoh yang tidak berangkat dari dasar pengetahuan itu sendiri yang banyak dipelajari di pesantren,” katanya.
Hal inilah yang kemudian, menurutnya, menjadi pekerjaan rumah bagi NU dan seluruh badan otonom. Pengurus dan aktivis NU harus menyosialisasikan paham kebangsaan dan keislaman di semua lini masyarakat, termasuk kampus.
Saat ini, dia mengakui bahwa gerakan penyebaran pemikiran NU di kampus kurang masif dan ada anggapan bahwa pemikiran masyarakat kampus tak mudah terkonversi dengan aliran pemikiran seperti HTI.
“Di masyarakat memang agak terasa, dakwah kami masih kurang. Di situ perlu sentuhan khusus untuk menyosialisasikan amalan dan hujjah NU ini kepada masyarakat kampus sesuai tingkat berpikir mereka, yang ilmiah dan logis yang sesuai dengan sistematika berpikir mereka,” jelasnya.
Pemikiran NU dibutuhkan untuk melawan pemikiran HTI.
“Blue print-nya harus seperti itu. Kampus harus digarap lebih serius. Ghozwul fikri (pertarungan pemikiran) ada di kampus,” kata Gus Aab.
Sementara untuk masyarakat pedesaan sudah digarap NU selama ini.
HTI saat ini berusaha untuk menyebarkan pemikiran khilafah di Indonesia. Mereka berusaha untuk mengganti ideologi Pancasila dengan Khilafah.
Salah satu tempat penyebaran pemikiran khilafah tersebut adalah di kampus. Karena itulah, sosialisasi dan diskusi terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh HTI dan tujuan mereka mendirikan khilafah perlu dilakukan di kampus-kampus guna menghalau berkembangnya pemikiran mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...