Langsung ke konten utama

Ramadhan, Membuatku Makin Cinta Islam dan Begitu Menghormati Agama Saudaraku Non Muslim

Assalamualaikum WR WB
Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci ramadhan bagi semua saudara-saudaraku seiman di Jombang, seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia. Salam sejahtera untuk seluruh teman-teman non muslim saudara sebangsa dan setanah air semoga kita semua tetap berada dalam lindungan Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.
Saya sebagai muslim begitu miris dengan agama saya akhir-akhir ini, pertentangan dan gesekan dengan etnis dan agama lain begitu kental terjadi. Dan sungguh sangat disayangkan hal itu disebabkan oleh “oknum” agama yang saya anut yakni Islam. Di artikel saya yang sebelumnya saya menuliskan bahwa umat muslim harus  tahu dan percaya bahwa Islam itu agama yang benar karena jika tidak begitu kita tidak akan bisa melaksanakan dan menjalankan perintah agama keyakinan kita secara total jika kita tidak percaya kebenaran agama kita. Pun sama dengan agama lain, mereka harus tahu secara total tentang ajaran mereka dan meyakini agama mereka karena dengan cara itu maka keimanan mereka menjadi kuat dan dalam menjalankan perintah agamanya tidak akan timbul keraguan sedikitpun. Tapi meyakini agama kita benar tidak sama dengan kita dibolehkan melontarkan hinaan, ancaman, hardikan kepada saudara-saudara kita non muslim. Itu sangat tidak dibolehkan oleh agama Islam. Sebagai muslim, kalau kita belajar sejarah tentunya kita tahu sosok Waraqah. Dia adalah paman Siti Khadijah orang ahli kitab yang pertama kali mengetahui bahwa Rasulullah Muhammad diangkat sebagai Rasul saat itu. Dalam perjalanan kerasulan kita juga tahu bahwa Rasulullah Muhammad pernah hijrah ke Abisinia yang dipimpin oleh Raja Najasyi seorang nasrani taat. Rasulullah dan pengikutnya diterima dengan damai dan dapat hidup berdampingan di kerajaan Abisinia tanpa olokan, pertentangan, gesekan yang berarti. Hidup mereka begitu damai, tentram. Mereka percaya pada keyakinan dan kebenaran agamanya tanpa harus memperolok dan mengancam orang lain. Begitulah Rasulullah dengan sejarah hidupnya mencontohkan toleransi dalam beragama, kebebasan dalam beragama dan kebebasan dalam berpendapat dalam bermasyarakat.
Kisah nyata Ramadhan indah bersama teman non muslim
Sejak kecil saya muslim, saya dilahirkan dikeluarga muslim taat. Saya dididik dengan nilai-nilai keagamaan sesuai pemahaman dan pengetahuan orang tua saya kepada agama saya. Sejak kecil saya juga diajari mengaji di masjid, belajar Al-Qur’an, sejarah Rasulullah Muhammad, rukun iman, rukun Islam dan selainnya.
Sewaktu SMP, saya sekolah di salah satu SMP negeri di Surabaya. Saya begitu bangga dengan sekolah saya SMP negeri 14 Surabaya. Disana saya memiliki begitu banyak saudara non muslim, kebetulan kelas di sekolah saya ada kelas 1-10. Kebetulan saya berada di kelas 10, dimana setengah dari murid dikelas itu merupakan non muslim. Sehingga saya memiliki begitu banyak teman non muslim. Dari teman-teman nasrani saya akhirnya mengenal Raden Gigih, Ernest, Jack dan selainnya. Dari teman hindu akhirnya saya mengenal Kadek, Komang, Kerto dan masih banyak lagi.
Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Ramadhan pun datang. Seperti sekolah pada umumnya maka sekolah kami pun mengadakan pondok Ramadhan di 2 minggu awal Ramadhan. Pada masa itu saya beberapa kali menginap dirumah teman saya yang non muslim karena saya pribadi begitu dekat dengan mereka, sudah seperti keluarga dan saudara sendiri. Karena menginap dirumah mereka otomatis saya sahur dan buka puasa dirumah mereka. Percaya tidak percaya, saat itu ketika sahur karena masih kecil dan belum bisa mandiri saya pun dibangunkan oleh orang tua teman saya yang notabene nya non muslim. Mereka yang menyiapkan makanan, mereka memasak makanan dan minuman seperlunya untuk sahur saya. Dan percaya tidak percaya, mereka ikut sahur begitu saya sahur dan ketika siang di saat saya masih berada di rumah mereka, mereka tidak menyantap makanan untuk menghormati saya kecuali jika saya sedang tidak berada di tempat. Begitu juga dengan buka puasa, orang tua teman saya yang menyiapkan hidangan buka puasa untuk berbuka puasa saya saat itu.
Ketika berada di rumah teman saya yang nasrani, orang tua teman saya menghidangkan makanan yang menurut syariat agama saya makanan itu dihalalkan oleh agama saya. Ketika berada di rumah teman saya yang hindu, mereka menghidangkan makanan diluar daging namun masih makanan yang halal dan layak gizi untuk puasa saya. Semua pengalaman-pengalaman saat itu tidak mengherankan jika sekarang pun saya memiliki orang tua angkat dan adek angkat seorang nasrani yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Hal ini lantaran dari dulu saya sudah begitu dekat dengan keluarga non muslim dari lain etnis dan lain agama.
Sekarang ketika sudah dewasa pun saya memiliki saudara-saudara non muslim di Gresik, kebetulan disana saya aktif di olahraga Capoeira sebuah olahraga beladiri dari negara Brazil. Saya aktif sebagai salah satu pendiri dan anggota. Banyak saudara saya non muslim disana, sebut saja Andre Kwan, Lia, Ko Johan salah satu guru saya, Master saya dari negara Brazil dan masih banyak lagi. Biasanya ketika bulan Ramadhan datang kami akan mengadakan sahur bersama dan buka puasa bersama. Semoga tahun ini bisa terlaksana. Amin
Pelajaran buat kita semua
Saya pribadi muslim, sejak kecil dididik di lingkungan keluarga muslim. Sedikitpun saya tidak ragu dengan pengajaran yang sudah diberikan orang tua saya tentang agama Islam. Sedikitpun saya tidak ragu tentang kebenaran agama saya. Ajaran Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW. Namun saya sedikitpun tidak memiliki hak untuk mengancam orang-orang diluar suku, etnis dan diluar agama saya. Semua manusia memiliki hak sama, hak untuk hidup, hak untuk tenang, hak untuk damai, hak untuk nyaman dan selainnya semua manusia juga memiliki kewajiban yang sama, kewajiban menghargai orang lain, kewajiban menghormati orang lain, kewajiban untuk sama-sama menjaga keamanan dan kenyamanan bersama.
Ancaman, hardikan, olokan justru hanya akan menimbulkan kebencian di antara kita semua. Stop kekerasan, stop intimidasi, stop hardikan mengatasnamakan agama.  Meyakini agama kita benar tidak sama dengan harus mengintimidasi agama orang lain
Hidup damai dan tentram bersama pernah dicontohkan Rasulullah Muhammad di Abisinia, menghargai dan menghormati agama Islam pernah dicontohkan oleh Raja Najasyi kepada umat muslim saat itu.
Ayo hidup bersampingan, saling toleransi, saling menghargai sesama. Pasti akan sangat damai dan begitu indah. Begitulah #ArtiRamadhan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...