Langsung ke konten utama

Gerakan Intoleran dan Radikal Ancaman Nyata Bangsa Indonesia

Shinta Nuriyah Wahid (duduk) bersama sejumlah tokoh lintas agama, 4 Feb. 2016.
Jakarta - Gerakan kaum intoleran dan radikal sudah menguasai pemikiran sebagian besar masyarakat Indonesia. Kelompok intoleran dan radikal menyebarkan kebencian dengan berkedok agama secara masif, intensif dan berlanjut.
Istri Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid, mengingatkan, saat ini gerakan radikal sudah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Gerakan radikal dan intoleransi sudah masuk ke dalam kehidupan bernegara. Hanya berapa belas persen saja yang tidak setuju Indonesia menjadi negara Islam," kata Shinta Nuriyah, dalam talkshow Perempuan dan Kebinekaan, Senin (10/4) di Jakarta.
Dari hasil survei yang dilakukan Wahid Foundation diketahui, dari total 1.255 responden, 59 persen memiliki rasa benci terhadap non muslim, etnis Tionghoa, dan lain-lain.
"Dampak rasa benci itu membuat mereka tidak setuju anggota kelompok itu (non muslim) menjadi pejabat di Indonesia," ucap Shinta, mengingatkan.
Selain menolak menjadi pejabat, bahkan sebanyak 82 persen responden tidak setuju kelompok-kelompok tersebut menjadi tetangga mereka.
"Kondisi ini sudah sampai di kehidupan bertetangga. Hanya sebagian kecil yang bersifat netral dan mau menghargai perbedaan," ujarnya.
Semua kondisi ini merupakan potensi yang cukup mengkhawatirkan. Dari survei yang dilakukan pun, sedikitnya ada 11,5 juta orang yang berpotensi melakukan tindakan-tindakan radikal.
"Angka-angka ini merupakan warning bagi bangsa indonesia untuk menghadapi radikalisme agama. Semakin tinggi menerapkan syariah, semakin tinggi keinginan untuk melakukan gerakan radikal," ungkapnya.
Jika dibiarkan, menurut Shinta, gerakan radikal dan intoleran merupakan ancaman yang nyata bagi keberagaman yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dicontohkan kelompok-kelompok radikal saat ini juga secara intens masuk ke dalam lembaga -lembaga pendidikan. Karena berbalut kegiatan agama, kebanyakan pengelola kampus tidak curiga.
"Sehingga mereka bebas melakukan doktrin kepada mahasiswa sehingga hanyut ke dalam sisi gerakan radikal. Ini juga patut diwaspadai," ungkapnya.
Seharusnya, untuk saat ini sudah ada kontrol yang ketat terkait isi-isi ceramah yang ada di kalangan mahasiswa. Selain para pembimbing dan penceramah, yang harus dikontrol juga pengurus-pengurus lembaga dakwah di lembaga pendidikan.
"Pendampingan kalangan mahasiswa dan pelajar tentunya sangat penting dilakukan untuk menghadapi ajaran-ajaran radikal dan fundamentalis," ujar Shinta.
Menurut Shinta, seluruh masyarakat Indonesia merupakan saudara sebangsa dan setanah air. Sudah sepatutnya untuk tetap mengedepankan sikap saling menghormati, menghargai dan tolong menolong.
"Kaum muslimin yang mayoritas harus bisa hidup berdampingan dengan minoritas. Semua harus saling menghormati, menghargai dan tolong menolong," ucapnya.
Omi Komariah Madjid, istri Alm Nurcholis Madjid atau yang dulu akrab disapa Cak Nur, menuturkan, perbedaan tidak boleh dijadikan ajang untuk mengejek, mengolok maupun merendahkan kelompok lain yang berbeda. Baik itu berbeda secara agama, etnis, latar belakang dan lain sebagainya.
"Kebhinekaan harus menjadi penyatu bagi kita semua. Perbedaan tidak boleh dijadikan ajang mengejek atau mengolok satu sama lain," kata Omi.
Diingatkan, untuk menanamkan nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi harus sudah dibiasakan sejak kecil. Oleh sebab itu, peran orangtua sangat dibutuhkan untuk terus memupuk rasa kebhinekaan dan toleransi tersebut.
"Dari kecil harus sudah dibiasakan. Tanamkan nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi yang dimulai dari keluarga sejak kecil. Upaya ini harus terus dilakukan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa," ucapnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Dalam Beragama, Rujukan Pertama Adalah Google Terakhir Al Qur’an

By Rohmat Tri Santoso   Sebenarnya, kita adalah makhluk-makhluk bodoh yang mau-maunya memiliki agama. Untuk menjadi pengikut pada suatu agama, termasuk Islam. Kita harus memutar otak dua puluh empat jam non stop. Merenungi. Menghayati, dan memaknai ajaran-ajaran dalam agama tersebut. Beragama. Berarti kita harus mengulik. Membedah rahasia tuhan. Menyingkap tabir yang tertutupi. Menemukan rumus-rumus tuhan. Demi mengenalnya lebih jauh. Demi memantapkan dan membimbing jiwa kita mengahadapi hidup yang njelehi ini. Cusssss. Gedeblug…. Tuhan menurunkan kitab suci pembimbing manusia ke bumi. Untuk menemukan rumus-rumus tuhan. Manusia perlu menelaah kitab suci sebagai buku manual untuk lebih dekat dengannya. Untuk mengetahui mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah. Tapi ternyata eh ternyata. Kitab suci itu terlalu kecil sebagai sumber pemaknaan tuhan. Manusia tetap harus memutar otaknya, m...