Langsung ke konten utama

Pengetahuan Agama , Kunci Pendidikan Anti Radikalisme

Kunci dari masalah di Indonesia adalah “PROGRAM WAJIB BELAJAR 9 TAHUN”, bisa di katakan “GAGAL”. Bahkan di beberapa daerah untuk dua tahun yang namanya TK saja kesulitan , belum masuk SD loh. Dan di Indonesia ada sejumlah lembaga pendidikan yang diakui secara Nasional, yaitu Sekolah Negeri , Sekolah Swasta , Sekolah Islam / Madrasah dan Pesantren serta berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan khusus atau kekhususan.
Namun ada hal lucu yang terjadi di Indonesia, yaitu bahkan tidak semua lembaga tersebut berada di bawah Kementrian Pendidikan , ada beberapa sekolah seperti Pesantren dan Sekolah Islam yang berada di bawah Kementrian Agama. Seharusnya kedudukan Kementrian Agama berada di bawah Kementrian Pendidikan dalam urusan sekolah, Kementrian Agama hanya mengajukan rekomendasi terkait bidang tertentu dan penanggung jawabnya tetaplah Kementrian Pendidikan.
Dan dalam dunia pendidikan di Indonesia, terkadang muncul istilah atau kenyataan yang sebenarnya lucu sekali, yaitu bahkan lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan / FKIP bisa mengajarkan Pelajaran Agama. Apakah mungkin lulusan FKIP punya kompetensi yang cukup untuk mengajarkan “PELAJARAN AGAMA”. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan banyak orang, bahwa yang mengajarkan pelajaran agama bukan lulusan agama.
Indonesia secara resmi mengakui adalah ENAM AGAMA RESMI YANG DIAKUI OLEH NEGARA, dan sudah seharusnya Sekolah Negeri mengajarkan juga tentang ENAM AGAMA RESMI ini, bukan hanya satu agama saja.
Pendidikan harusnya menghasilkan MANUSIA SOSIAL YANG BISA BERINTERAKSI DENGAN BAIK DENGAN SESAMA DAN MENGHASILKAN KARYA BAGI SESAMANYA. Betulkan ? Pasti betul donk, tidak mungkin kita membatasi bahwa hanya boleh berinteraksi dengan yang sama saja. Ini sama saja mengingkari PANCASILA donk.
Nah solusi paling mudah dan murah adalah dengan mengubah persepsi dari dunia pendidikan kita, dimana “PENDIDIKAN AGAMA” DIUBAH MENJADI “PENGETAHUAN AGAMA DAN PENDIDIKAN AGAMA KHUSUS”. Jadi dengan begini ada keadilan bagi seluruh siswa dalam mendapatkan pendidikan AGAMA yang sesuai dengan AGAMA masing – masing.
PENGETAHUAN AGAMA adalah suatu mata pelajaran di mana siswa di kenalkan dengan semua AGAMA yang diakui oleh Negara Kesatua Republik Indonesia. Mulai dari dasar dogma / ajaran, pemuka agama, panutan dalam agama masing – masing, kitab suci dan yang disamakan dengan kitab suci, dan masih banyak hal yang intinya memberikan PENGETAHUAN kepada para siswa sejak dini tentang keberagaman yang ada di Indonesia.
Dan konsep ini berlaku semua dan sama untuk semua bentuk pendidikan di Indonesia, tidak perduli apa itu Sekolah Swasta , Sekolah Yayasan , Sekolah Negeri , Sekolah Madrasah , Pesantren , Seminari dan apapun itu namanya. Baik sekolah umum , sekolah berbasis agama , ataupun sekolah khusus atau sekolah yang bersifat pendidikan.
Sementara diajarkan tentang PENGETAHUAN AGAMA, siswa juga harus dibarengi dengan PENDIDIKAN AGAMA KHUSUS, dimana PAK inilah yang lebih menekankan kepada SATU AGAMA SAJA. Dengan begitu setiap siswa diharapkan mengerti dan memahami tentang keberagaman yang ada di Indonesia, dan bisa saling menghormati karena sudah mengenal semua ciri khas masing – masing agama di sekolah.
Sehingga meskipun lulusan SD yang tidak tamat sekalipun, mantan siswa tersebut tetap mengenal berbagai agama yang ada di Indonesia. Sehingga bisa dengan baik dan benar berinteraksi dengan berbagai agama yang ada di Indonesia..
Dan menyangkut tentang PENGETAHUAN AGAMA, sangat mungkin untuk diajarkan siapapun, dari bidang keilmuan dan keguruan, karena kurikulum yang digunakan adalah kurikulum bersama yang disusun oleh masing – masing agama berdasarkan porsi masing – masing. Semua materi pembelajaran sudah ada di dalam buku cetak / panduan belajar guru dan siswa.
Sementara untuk PENDIDIKAN AGAMA KHUSUS bisa diserahkan kepada Kementrian Agama untuk menunjuk, sosok – sosok yang akan diberikan wewenang dan tanggung jawab mengajarkan tentang masing – masing agama kepada para siswa sesuai agama masing – masing.
Hal ini HARUS DILAKUKAN agar dogma masing – masing agama tetap terjaga sesuai dengan dogma yang sebenarnya bukan malah di ajarkan oleh sosok yang malah mendalami bidang keilmuan yang berbeda. Dan dengan standar serta pengakuan resmi dari pemerintah tentang para pengajar agama ini.
Masalah terkait ketersediaan sosok yang bisa dijadikan panutan untuk memberikan pengajaran kepada umat sudah bisa di selesaikan dengan segera, sudah pasti untuk sekedar menggantikan dan atau membantu di berbagai pelosok negeri, sosok – sosok pengajar agama ini bisa diandalkan. Ketimbang MAAF, orang – orang yang hanya bergelar saja dan hanya memahami satu – dua bagian dari keseluruhan isi kitab suci agama masing – masing.
Pada awalnya akan sulit dan pasti banyak pergulatan dalam prakteknya, ini karena konsep ini hanya diterapkan di sekolah KATOLIK saja , sementara sekolah lain tidak pernah ada konsep demikian. Bahkan untuk para seminaris muda, para calon romo yang menempuh pendidikan menengah atas, tetap diberikan pengajaran dengan kurikulum yang sama dengan siswa yang lainnya.
Seminari Menengah masih tergabung dengan Sekolah Menengah Atas, sehingga pelajaran yang diberikan tidak ada perbedaan sama sekali dengan siswa non seminaris.
Salam Negara Kesatuan Republik Indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...