Langsung ke konten utama

Anarkis Adalah Buah Kegagalan Berpikir

Agama adalah pedoman berperilaku. Agama juga merupakan panduan untuk membedakan hal yang benar dan salah. Sekalipun begitu, agama sering nampak salah karena pemeluknya. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Banyak faktor yang dapat menjadi sebab. Menempatkan logika dalam memahami dogma agama maupun pesan-pesan dari ayat suci juga mempengaruhi perilaku pemeluknya.
Sebagai contoh, sebagian orang berkata ini semua adalah takdir Allah.
Lantas, bagaimana dengan surga dan neraka? Apakah seseorang itu sudah ditetapkan keadaanya di hari akhir? Benarkah dia berada di surga sedangkan dia belum dilahirkan?
Maka,konteks memahami takdir atau kehendak Allah tidaklah dapat dipahami dari satu sisi. Segala aspek juga patut untuk dikaji.
Balik ke logika.
Ketika logika gagal memahami dogma-dogma yang diajarkan oleh agama, maka egoisme akan menjadi dominan. Untuk kemudian melahirkan sikap sok suci. Memandang remeh orang yang mengeluarkan kritik maupun memberi saran adalah buah dari sikap sok suci. Logika telah tertutup maka kebutaan hati akan menjadi pemimpin kehidupannya. Ini bukan berarti logika berada di atas segalanya, karena logika juga menyesatkan sehingga logika juga membutuhkan hati yang jernih.
Akibat terburuk dari sikap sok suci dan merasa lebih memahami agama akan berujung pada sikap intoleransi. Dia tidak mampu melihat bahwa perbedaan dalam bentuk apapun sesungguhnya adalah karunia Tuhan Yang Maha Adil dan Bijaksana.
Saya beri satu contoh, tubuh kita terdiri dari berbagai anggota. Tangan, kaki, kepala, jantung, darah dan sebagainya. Mereka, anggota tubuh, berbeda dalam istilah dan fungsi. Dalam perbedaan itu, setiap anggota tubuh juga mempunyai satu keyakinan yang sama. Keyakinan bahwa dia akan memberi manfaat pada pemilik tubuh,yaitu manusia.
Menjadi buruk adalah jika manusia menganggap anggota tubuh yang tidak bekerja normal itu harus diamputasi. Ini seperti bila kita termasuk gagap bicara lalu memutuskan untuk mengamputasi lidah. Apakah amputasi itu termasuk tindakan bijak dari orang beragama?
Namun banyak yang berkilah bila ketidaknormalan anggota tubuh itu disebabkan oleh kanker. Justru alasan seperti itu memperlihatkan kegagalannya dalam menggunakan logika ketika mendalami ajaran agama.
Dalam lingkup bernegara dan kehidupan sosial, sikap-sikap apatis dan anarkis muncul karena logika yang salah. Muncul karena tidak memiliki hikmat untuk melihat karunia Tuhan dalam arti yang lebih luas. Muncul karena fanatisme golongan. Muncul karena kedengkian. Sehingga mata hati menjadi buta. Tak peka dengan lingkungan yang lebih luas.
Dalam kasus hak angket KPK, ini disebut kebodohan kronis. Karena korupsi apalagi berjamaah adalah sikap anarkis yang meruntuhkan sendi moral dan agama. Banyak contoh dalam hal ini, dan pengerahan massa adalah bentuk lain dari sikap anarkis yang dimiliki oleh penggeraknya.
Hari Buruh tanggal 1 Mei, lebih sering kita saksikan hanya berupa demo dan demo. Biasanya berakhir dengan kericuhan atau pemaksaan kehendak. Lantas timbul persepsi negatif pada masyarakat bahwa setiap pekerja di pabrik adalah bibit potensi kerusakan. Logika yang terjadi adalah logika kerumunan. Yaitu suatu kondisi yang nalar sehat akan mudah ditundukkan melalui orasi-orasi yang provokatif. Akibatnya adalah bila satu orang tersulut emosinya maka akan dengan mudah membakar emosi orang-orang di sekitarnya. Bila itu sudah terjadi maka kerumunan buruh itu akan mudah diarahkan untuk melakukan satu aksi. Ibarat kambing yang lehernya sudah terikat dengan tali.
Setiap buruh yang turun ke jalan sudah pasti memeluk satu agama atau keyakinan tertentu yang diijinkan oleh negara. Saya yakin tidak ada satupun dari ajaran agama yang ada di zamrud khatulistiwa ini mengijinkan adanya kerusakan. Lalu bagaimana para buruh lebih sering memaksakan kehendak dan biasanya diakhiri kerusuhan? Apakah itu memang diijinkan oleh agama masing-masing?
Marilah,mulai hari ini, saya mengajak segenap buruh yang ada di Indonesia untuk memahami lebih jauh tentang arti sebuah toleransi. Saya  khawatir bila buruh dimanfaatkan untuk menggalang massa dan menjadi kuda tunggangan. Karena kita semua maklum bahwa kemampuan finansial dapat menggerakkan massa untuk kepentinan yang seolah-olah demi kesejahteraan buruh.
Dan sebaiknya kita berpikir, apakah anda, yang bekrja sebagai buruh, akan mengijinkan anak anda meniti karir sebagai pengusaha? Dan bila itu terjadi, anak anda yang pengusaha akan menggunakan logika yang anda ajarkan atau bagaimana? Bagaimana anda mengajarinya dalam menghadapi tuntutan buruh?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...