Langsung ke konten utama

Ketum PBNU: Kita Sepakat Jadi Islam yang Ramah

Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhlatul Ulama (PBNU) KH Said AqilSiradj menegaskan, sejumlah ormas Islam jauh hari telah sepakat untuk jadi umat yang ramah dan berbudaya.
"Indonesia ini, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Agus Salim, Wahid Hasyim, Kahar Muzakir, sepakat kita Islam yang ramah, berbudaya, dan berakhlak," ujar Said Aqil di Kantor PBNU Jakarta, Jumat (19/5/2017).
Said menyatakan, Indonesia adalah negara damai. Waktu itu kalau kiai-kiai NU ngomongnya tahun 1936 darussalam, negara yang damai.
"Artinya bukan negara agama, bukan negara suku, nation," ucap dia.
Karena itu, ujar Said Aqil, setiap ada gerakan-gerakan yang bertentangan dengan prinsip kedamaian, haruslah ditindak tegas.
"Setiap gerakan yang mengarah, bertentangan dengan prinsip itu, harus kita sikapi tegas, jangan dibiarkan," kata Said Aqil.
"Iya kalau masih kecil. Kalau sudah besar, jutaan anggotanya, apa enggak merongrong. Kan minimal mengurangi rasa nasionalisme kita, mengurangi kecintaan kita terhadap Pancasila, commit kita terhadap Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, minimal itu kan paling tidak,"kata Said Aqil.
Menurut Said Aqil, saat ini yang dibutuhkan Indonesia adalah persatuan dan kesatuan yang lebih kuat agar tidak terjadi perpecahan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...