Langsung ke konten utama

Menendang Paham Khilafah Dengan Sangat Keras ! HTI Kelelep ?

Menjawab Kesalahan Landasan Pemikiran Khilafah 
Landasan pemikiran khilafah adalah Surat Al-Baqaroh ayat 208. Di rubrik opini koran Jawa Pos berjudulkan “NU dan Semar,” dijelaskan sejarah ulama-ulama sejati NU yang ikut serta merumuskan pondasi negara. Pada tahun 1935, Ulama NU mengadakan muktamar ke XI di Banjarmasin. Wacana NU dikala itu merumuskan bahwa pada saat Indonesia merdeka nantinya haruslah menjadi negara Islam. Ketika palu hendak diketokkan, KH Wahab Hasbullah yang menjadi pemimpin ulama NU ketika di Makkah dan Madinah pada tahun 1800-1900 an mengacungkan tangan.

“Apa dasar dari Al-Qur’an yang melandasi wacana tersebut ?”

Para kyai yang berkumpul pada saat itu mengatakan bahwa yang mendasari wacana tersebut adalah Al-Baqaroh : 208. “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara sempurna (keseluruhan).”

“Kepada siapa khitab (ditujukan kepada siapa) ayat tersebut ?” Tanya KH. Wahab Hasbullah kepada para kyai.

Setelah menelaah beberapa kitab tafsir Al-Qur’an, sebab turunnya ayat tersebut ialah karena ada orang Yahudi yang masuk Islam lalu sowan kepada Nabi Muhammad untuk melakukan ibadah kebaktian Yahudi pada hari sabtu dan membaca kitab Taurat pada malam harinya. Ayat ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang baru masuk Islam (muallaf) kala itu. Abdullah Ibnu Salam, Asad Ibnu Ubaid dan Sa’labah. Is it clear ? YES !!!

Menendang Paham Khilafah Dengan Sangat Keras !

Yang harus dipahami bersama dari penjelasan di atas adalah ayat yang digunakan untuk Khilafah / negara Islam itu ditujukan kepada “orang” bukan “negara.” Jadi bila ada yang mendebati ayat tersebut, pembaca harus menanggapi bahwa yang seyogyanya menggunakan sistem “Islam sempurna (Totalitas)” adalah orangnya. Bukan negaranya. Selengkapnya di www.Ibnukatsironline.com

Bagi pembela negara khilafah khususnya dan warga NKRI umumnya, tidak perlu merasa diri dan komunitas paling benar, merasa suci dan pemilik solusi dari setiap persoalan. Ingatlah bahwa Piagam Madinah yang dicetuskan nabi adalah tentang kebhinekaan. Berbeda-beda namun satu perjuangan untuk membela negara demi kebaikan bersama. Beliau dan pengikutnya berhijrah dari Mekkah karena membawa agama baru dan menjadi minoritas di kalangan penyembah berhala. Apakah Muslim di Indonesia akan menjadi orang-orang di masa jahiliyah dimana mayoritas menghinakan minoritas seperti yang dilakukan para penyembah berhala kepada Nabi Muhammad ?

Refleksi Diri Dengan Tuhan

Kita harus ingat bahwa Islam adalah “selamat dan menyelamatkan.” Jangan kita menjelekkan nama Islam dengan pemikiran dan tindakan kita. Malu kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad yang penuh kasih dan sayang !

Menganggap Tuhan menyertai dalam perilaku radikal adalah hal yang tidak masuk akal. Manusia tidak akan pernah bisa melebihi Tuhan. Manusia hanya bisa menjadi wali Tuhan dengan uluran kasih dan sayang tanpa syarat. Kebaikan yang sukses dilakukan itu berkat Tuhan bukan berkat diri kita.

Kita hanya berusaha meniru Tuhan dan Tuhan pun menyertai kita dalam berbuat kebaikan. Tidak etis bila kita menyombongkan diri, merasa lebih dan bertindak sekehendakya sendiri kepada yang dipersepsikan salah. Hentikan bergosip, berprasangka dan menghakimi. Kata Gus Mus “Malaikat diciptakan sebagai makhluk yang selalu benar, Iblis/setan dikutuk sebagai makhluk yang tidak akan pernah benar, manusia diberi pilihan keduanya, bisa benar dan bisa salah, jadi kita ditugaskan untuk saling mengingatkan bukan menyalahkan.” Titik gak pake koma. Gak pake Bapak Rizieq lo yaa ?

Raga-jiwa yang kita punya dan alam beserta isinya adalah titipan Tuhan agar kita menjadi manusia yang menyelamatkan diri sendiri, sesama dan sekitarnya. Lalu kembali pulang ke kampung asal-muasal. Ke pelukan Tuhan Yang Maha Esa.

Piagam Madinah VS Khilafah

Penganut Khilafah harus mengingat Piagam Madinah. Namanya mirip dengan piagam Jakarta namun sila pertama di antara keduanya sangat bertentangan. Isi sila pertama piagam Jakarta “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Egois karena hanya mencantumkan satu komunitas. Tidak Bhinneka.

Isi sila pertama Piagam Madinah “Sesungguhnya mereka (Islam, Yahudi dan Suku-suku lainnya) adalah umat yang satu.” Dicatat bro, Nabi Muhammad mencontohkan miniatur negara yang Bhinneka, kesatuan dalam keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika.

Khilafah adalah bentuk dari ketergesaan para sahabat sepeninggal Nabi Muhammad, tidak mempunyai batasan masa pemerintahan dan tidak mempunyai perundang-undangan bila didapati suatu penyelewengan.

Piagam Madinah berhasil menciptakan kerukunan dalam keberagaman. Nabi Muhammad pun berdakwah secara terang-terangan sejak berhijrah ke kota Madinah. Kebebasan beragama dan memperjuangkan Piagam Madinah ditegakkan oleh setiap komunitas agama dan suku untuk kebaikan hidup bersama. NKRI yang sejalan dengan Piagam Madinah adalah tauladan yang spesial dari Nabi bukan ? Nabi besar Muhammad SAW, bukan imam besar.

Pertanyaannya, penganut paham khilafah ini lebih mencintai Nabi Muhammad atau para 4 sahabat khulafaurrasyidin ? Nikmat ilmu mana lagi yang mau kita dustakan dari tauladan Nabi Muhammad dalam menjadikan perbedaan sebagai kekuatan ? Hijrahlah dari Khilafah ke NKRI. Nabi Muhammad SAW adalah tauladan utama, bukan kedua !

Produk Khilafah Adalah Bunuh-Membunuh

Sejarah Khilafah mencatatkan 3 Khalifah : Umar, Usman dan Ali terbunuh dalam aktivitas sebelum dan sesudah sholat. Umar dibunuh oleh Budak Majusi bernama Fairuz sebelum mengimami sholat. Budak tersebut sedari awal menyebarkan kabar bahwa Umar tidak berlaku adil kepadanya mengenai upah buruh (budak).

Usman dibunuh oleh orang Islam sendiri karena kisruh dalam pengangkatan Walid bin Uqbah (Kerabat Usman) yang menggantikan gubernur Sa’ad Bin Abi Waqqash selepas sholat. Ibnu Khaldun menyampaikan dua analisanya bahwa Usman dibunuh oleh 2000 pendukung setia Ali dan golongan muslim yang dangkal pemahamannya terhadap agama.

Mengapa Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Abu Dzar dan Ammar pada saat itu tidak meneriakkan kafir dan bersikap radikal terhadap kebijakan Usman sebagaimana 2000 muslim yang mengepung dan akhirnya membunuh Usman ? Karena pemahaman agama mereka mendalam, mereka paham Islam itu menyelamatkan, menyelesaikan masalah tanpa masalah. Pegadaian ?

Bukankah Ali juga terbunuh oleh orang Islam ? Orang-orang di khawarij awalnya mendukung Ali lalu menentang karena kebijakan Ali yang berdamai (arbitrase) dengan Muawiyah bin Abi Sufyan ditengah-tengah peperangan berlangsung. Kaum Khawarij membunuh utusan-utusan Ali. Sebelum peperangan di Nehrawan, Ali menawarkan untuk berdamai dan menyerahkan orang Khawarij yang membunuh utusannya, 4000 orang mengundurkan diri. Ali menang total. Yang terbunuh  dari kalangan Ali sebanyak 7 orang, dari Khawarij sebanyak 1000 orang atau kurang dari itu.

Ali bin Abi Thalib pun terbunuh oleh Ibnu Muljam yang membalas dendam atas perlakuan Ali di Nehrawan, berasal dari kalangan Khawarij. Terbunuh pada hari ke 17 di bulan Ramadhan selepas melaksanakan sholat shubuh dengan muslimin lainnya.

Simaklah baik-baik firman Tuhan ini para saudara sebangsa dan setanah air, khususnya HTI dan muslim yang senang bertindak radikal :
Katakanlah, apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya ? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaliknya (Al-Kahfi : 103-104)

Lebih baik mana, NKRI ala Piagam Madinah atau Khilafah ?

Betapa pun besar biaya dan resikonya, NU akan tetap menjaga keutuhan NKRI
(Gus Dur)
 Islam itu Rahmatan lil ‘alamiin bukan hanya lil muslimiin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...