![]() |
Agama, maksudnya Islam, dipolitisasi.
Mereka, kaum Islamisme ini menggunakan “politik sebagai panglima.” Pola
kerjanya mirip PKI sebenarnya, menggunakan “politik sebagai panglima.”
Tapi kalau dibilang mirip PKI dihadapan muka mereka, pasti mereka bakal
marahnya minta disamber gledek. Soalnya, kaum Islamisme di Indonesia itu
memelintir PKI sebagai salah satu amunisi untuk mendiskreditkan
pemerintah.
Uniknya, PKI atau kini lebih biasa disebut
“gerakan kiri” atau “kiri baru” karena bertulang-punggung pemikiran
“kiri”, mendapat perlakuan berbeda di tiap wilayah. Misalnya kalau di
Indonesia kan dibuat-buat dan dituduhkan bahwa pemerintah kita itu
disusupi komunisme baru. Jadi ada alasan bagi mereka, kaum islamisme,
untuk melakukan “revolusi.”
Kiri atau komunis di negeri ini terus-menerus diposisikan sebagai antagonis, meski pun saat ini PKI sudah lenyap.
Kalau di Eropa, “kiri-baru” ini justru
seakan berduet-maut dengan aktivis islamisme. Apa sebab? Sebabnya, kaum
Islamisme itu anti-Amerika. Dan “kiri-baru” juga anti-Amerika. Kaum
“kiri-baru” otomatis dapat kawan. Di Eropa, kaum “kiri” bisa berangkulan
untuk memusuhi Amerika bersama kaum islamisme. Di Indonesia,
“kiri-baru” diludahi dan mau dibunuhi oleh kaum Islamisme.
Unik kan? Hahaha.
Lalu apa hubungannya dengan “radikalisme kampus bukan isapan jempol?”
Hubungannya begini. Kaum Islamisme itu ada yang institusional dan ada
yang ekstrim. Yang institusional itu menggunakan demokrasi kotak suara
untuk memenangkan pemimpin. Nantinya, rencana jangka panjang mereka
adalah menguasai negara dan bisa merubah sistem demokrasi yang dianut
dengan sistem Khilafah.
Kalau Islamisme ekstrim itu, asal nabrak
saja. Seperti misalnya Jama’ah Ansharut Tauhid atau Jama’ah lain yang
menghalalkan “perang gaya baru.” Seperti kasus pengeboman gereja di
Samarinda yang sampai menghilangkan nyawa gadis kecil. Kaum Islamisme
ekstrim itu tidak mau tahu kondisi musuhnya seperti apa. Yang penting,
hajar, bunuh, siapa pun yang dianggap kafir. Prinsip perang konvensional
tidak berlaku bagi mereka.
Mau anak-anak, perempuan, tua-renta, ya
tetap saja mereka hajar. Kalau kafir, yang tetap saja bunuh. Mereka
tidak mau tahu tentang aturan main konvensional dalam perang, dimana
anak-anak, perempuan dan tua-renta, tidak boleh diserang.
Tujuan mereka sama, negara Khilafah. Cara
kerjanya saja yang berbeda. Yang Islamisme institusional itu lewat jalur
pemerintahan sedangkan Islamisme ekstrim itu lewat perang gaya baru
tadi, atau yang kita sebut “terorisme” atau “radikalisme akut.”
Nah, di kalangan mahasiswa, banyak yang
tertarik dengan kelompok Islamisme institusional. Mereka membuat
organisasi, melakukan kajian keagamaan secara rutin, lalu setelah mereka
lulus kuliah, bagi yang memiki pemahaman politik “agak cerdas”, bisa
masuk partai politik. Partai politiknya, teman-teman pasti
mengetahuinya.
Pemahaman para mahasiswa ini,
radikal-institusional. Jadi radikal tapi tetap ikut cara demokrasi yang
berlaku di negeri kita. Tapi demokrasi yang mereka pahami hanya sebatas
demokrasi kotak suara. Tujuannya, memenangkan lewat jumlah. Jadi jangan
heran kalau partai Islam yang ngedukung Anies Baswedan-Sandiaga Uno itu
solid. Bahkan diakui soliditas mereka hebat.
Dalam tataran kampus, kaum Islamisme
institusional ini juga menggunakan cara demokrasi sebagai kuda troya.
Apalagi bagi kampus-kampus yang menggunakan sistem pemilu untuk
pemilihan Presiden BEM. Mereka pasti bakal bikin partai, memiliki calon
Presiden BEM dari kalangan mereka dan menggunakan masa secara
terorganisir untuk datang ke kotak suara dan memilih wakil mereka agar
bisa jadi Presiden BEM.
Mereka telah jadi radikal institusional
sejak masih berada di kampus. Dan praktik politik mereka di kampus,
adalah sebuah pelajaran berharga yang nanti bisa mereka terapkan dalam
kehidupan nyata setelah lulus dari kampus.
Maka, kalau pun Kepala BNPT Suhardi Alius
bilang bahwa “penyebaran paham radikal sudah sistemik,” ya memang betul.
Karena sejak dari kampus, sistem radikal-istitusional ini sudah
dibangun secara terorganisir dan diakomodasi lewat organisasi.
Bagaimana para pengajarnya? Bukan isapan
jempol juga, kalau organisasi kaum Islamisme di kampus itu adalah
organisasi yang solid, yang memiliki perhatian kepada kadernya. Mereka,
akan membimbing kadernya secara akademis, biar bisa berprestasi (alasan
yang sering dibuat untuk membanggakan orang tua). Jadi bakal ada kajian
rutin yang turut membantu para kadernya yang kesulitan dalam soal
perkuliahan.
Nah, otomatis banyak diantara mereka yang
“pintar” dan memiliki nilai bagus saat kuliah. Ketika melanjutkan kuliah
pun, mereka juga tetap rajin. Mereka inilah yang kemudian bisa menjadi
pengajar atau dosen, karena rekam jejak mereka selama jadi mahasiswa itu
“pintar” dan punya “nilai” bagus. Selain jadi pengajar atau dosen
sebagai cara untuk hidup, mereka juga punya kesempatan untuk mendidik
para mahasiswa menjadi kelompok “islamisme institusional.”
Para pengajar ini, bisa memberi
“keberpihakan” kepada para mahasiswanya yang menjadi “kader islamisme
institusional.” Radikalisme-institusional kaum islamisme ini benar-benar
sudah sistemik. Itu tidak bisa dipungkiri. Kalau para mahasiswa
Indonesia yang masih waras dan yakin dengan Bhineka Tunggal Ika, maka
semestinya menyadari hal ini.
Sejak dari kampus, para mahasiswa yang
waras dan percaya dengan ideologi Pancasila, harus bisa bersaing dengan
kaum islemisme institusional ini. Dan, bisa mengalahkan mereka dalam
tataran organisasi intra-kampus seperti HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan)
atau Himaprodi (Himpunan Mahasiswa Program Studi), atau BEM (Badan
Eksekutif Mahasiswa).
Para kaum islamisme institusional yang ada
di partai politik saat ini, juga jebolan dari pendidikan radikalisasi
islamisme institusional tingkat kampus. Bibitnya memang dari kampus dan
sistemnya memang sudah dibuat seperti itu, terorganisir lewat
organisasi. Hanya saja, jarang dari kita mau menyadarinya.
Salah satu cara untuk bisa mengurangi
radikalisme kampus, ya dengan cara menciptakan organisasi tandingan,
yang mengkampanyekan Bhineka Tunggal Ika serta Pancasila. Itu berarti,
butuh banyak waktu dan banyak buku. Sebab, indoktrinasi kaum islamisme
institusional tingkat kampus itu juga lewat buku-buku. Hanya saja buku
mereka adalah buku yang ditulis dari kalangan mereka sendiri.
Radikalisme kampus, makanya bukan hanya
isapan jempol. Itu memang nyata dan sudah banyak terjadi dan terjangkiti
di kampus-kampus. Lihat saja berapa banyak kampus negeri, yang
pemilihan BEMnya menggunakan sistem Pemilu, dan dikuasai oleh mereka,
kaum islamisme institusional itu. Pemerintah seharusnya turut serta
mengawasi hal ini jika tidak ingin Pancasila diganti dengan sistem
Khilafah.

Komentar
Posting Komentar