
Sepanjang tahun 2017, deretan peristiwa di sektor energi kian berganti. Diawali di Januari 2017, Pertamina melakukan pengeboran dua sumur migas, yaitu sumur eksplorasi Puspa 03 atau PPA-003 di Kabupaten Muaro Jambi ,Provinsi Jambi dan sumur pengembangan OGN-A5 di Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.
Di awal tahun ini juga terjadi penyesuaian tarif listrik 900 VA non subsidi. Dari 22,8 juta pelanggan listrik rumah tangga (R-1) 900 VA, hanya 4,1 juta yang dinilai layak mendapatkan subsidi. Agar subsidi listrik tepat sasaran, maka harus dilakukan penyesuaian tarif terhadap 18,7 juta pelanggan 900 VA.
Selain itu, ada aturan skema gross split ini telah dipayungi oleh Peraturan Menteri ESDM Nomor 08 Tahun 2017, tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split (Permen ESDM 08/2017). Dalam Permen ESDM 08/2017 pasal 1 dijelaskan, kontrak bagi hasil gross split adalah kontrak bagi hasil dalam kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi berdasarkan prinsip pembagian gross produksi, tanpa mekanisme pengembalian biaya operasi.
Kejadian lain yang tak kalah menarik mewarnai tahun 2017 adalah dicopotnya Dwi Soetjipto dan Ahmad Bambang dari posisi Direktur Utama (Dirut) dan Wakil Dirut (Wadirut) PT Pertamina (Persero) per 3 Februari 2017. Menurut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, keputusan ini sudah dipertimbangkan secara matang dan direstui Presiden Joko Widodo. Tak lama berselang, Elia Massa Manik ditunjuk menjadi Direktur Utama Pertamina menggantikan Dwi Soetjipto.
Di tahun ini juga Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan sejumlah pembangkit listrik di beberapa daerah di Indonesia. Langkah ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan rasio elektrifikasi, khususnya di wilayah terpencil.
Masih di tahun yang sama, Freeport Indonesia sepakat menjual hingga 51% sahamnya ke pemerintah Indonesia. Kesepakatan itu diumumkan Menteri ESDM Ignasius Jonan bersama Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, di Kementerian ESDM, Selasa (29/8/2017).
Komentar
Posting Komentar