Langsung ke konten utama

DIREKTUR WAHID FOUNDATION: INTOLERANSI DAN RADIKALISME DI INDONESIA MEMPRIHATINKAN

Wahid Foundation bekerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) melakukan survey untuk mengetahui potensi intoleransi dan radikal di Indonesia. Hasilnya, sebagaimana diungkapkan Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, keadaan Indonesia saat ini, apalagi dalam hal toleransi dan saling menghargai di Indonesia sangat memprihatinkan.
 Berawal dari dirinya yang mencari gambar di search engine tentang toleransi Indonesia. Hal mengejutkan yang didapat, yaitu demo-demo saat masjid di Tolikara dibakar. Menurutnya, toleransi seperti berubah makna.
Dengan adanya survey ini, Wahid Foundation ingin mengetahui apa saja yang berkontribusi terhadap intoleransi dan radikalisme. Siapa di Indonesia yang masuk dalam kategori intoleran dan radikal. Hal yang dilakukan untuk mengurangi atau mengontrol kecenderungan beragama radikal dan intoleran.
Untuk radikalisme, seperti apa contoh yang pernah melakukan radikalisme. Apakah seperti melakukan penyerangan rumah ibadah umat lain atau demonstrasi.
“Kita lihat ternyata ada good newsnya, ada bad newsnya ibu-ibu,” ungkap Yenny pada Simposium Nasional “Peran Ibu untuk Perdamaian” Senin (4/12).
 Kabar buruknya, ada 0,4 persen dari penduduk Indonesia pernah melakukan tindakan radikal seperti yang didefinisikan. Selanjutnya yang bersedia bertindak radikal apabila ada kesempatan itu di angka 7,7%.
“Mungkin orang lihat cuma 0,4 persen kan sedikit. 7,7 persen kan sedikit. Tapi ketika kita proyeksikan terhadap penduduk Indonesia katakanlah 150 juta penduduk Indonesia, karena kita ngukurnya yang sudah dewasa atau sudah menikah, maka kita mendapatkan 600 ribu orang Indonesia pernah bertindak radikal dan sekitar 11 juta orang bersedia bertindak radikal kalau memungkinkan. Nah ini kan udah bikin merinding bu. Bikin merinding dengan data seperti ini,” ungkap Yenny.
Namun, kabar baiknya adalah ada 72 persen menolak tindakan radikal. Karenanya Yenny optimis modal Indonesia untuk melawan radikalisme sungguh besar. Maka, Indonesia butuh bergandengtangan untuk mengupayakan hal ini.
Data seperti ini diperlukan untuk melakukan tindakan intervensi yang tepat. Karena menurut Yenny jika data ini tidak diketahui, orang tidak akan melakukan apa-apa. Akhirnya, kondisi negaralah yang akan semakin terpuruk.
“Mumpung baru 0.4 persen mari kita semua melakukan suatu hal tindakan supaya ini diperkecil dan tidak semakin melebar,” kata Yenny.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...