Langsung ke konten utama

Jokowi Dukung Aksi Bela Palsetina, Kode Keras untuk Alumni 212

Jokowi Dukung Aksi Bela Palsetina, Kode Keras untuk Alumni 212
Baru kali ini saya melihat Presiden Jokowi terang-terangan mendukung sebuah aksi. Sebelum ini, telah ada aksi berjilid-jilid seperti 411, 212, dan yang lain yang katanya aksi bermartabat, membela Islam dan ulama, dan menjadi rekor dunia dan katanya sebagai bentuk persatuan umat Islam. Sayangnya, aksi yang katanya hebat tersebut ternyata tidak mendapat apresiasi dari Jokowi. Pemerintah pusat, Kapolri, MUI, NU, dan Muhammadiyah bahkan tidak mendukung aksi-aksi tersebut.
Ketika pemerintah, kapolri, MUI, NU, Muhammadiyah tidak mendukung aksi-aksi seperti 212 atau reuni akbar 212 itu artinya aksi tersebut adalah aksi yang tidak bermartabat. Mereka sama sekali tidak menganggap bahwa aksi ini begitu penting untuk dilaksanakan. Mereka tentu paham bahwa aksi mereka adalah aksi politik, bukan aksi bela agama atau ulama.
Tentu bukan sebuah kebetulan mengapa Jokowi sangat mendukung aksi bela Palestina. Berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya, kali ini Jokowi tidak ragu sedikitpun mendukung aksi bela Palestina. Jokowi termasuk salah satu presiden yang pertama kali mengecam keputusan Donald Trump. Jokowi juga mengatakan bahwa di setiap hela nafas RI, ada keberpihakan untuk palestina.
Tidak hanya mengecam, Jokowi juga melakukan tindakan nyata. Jokowi datang ke Turki untuk menghadiri konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Di Konferensi tersebut, Jokowi menyatakan menolak pengakuan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Yerusalem adalah ibu kota Israel. Dalam pidatonya di depan para pemimpin negara Islam, Jokowi menegaskan semua harus bersatu untuk membela hak Palestina.
Langkah Jokowi mendukung Palestina memang sangat berbeda dengan ormas yang kerap membawa bendera Palestina saat melakukan demo. Sampai sekarang mereka masih bungkam. Imam Besarnya bahkan tidak berani pulang. Bagaimana mau membela Palestina, menghadapi kasus hukum yang menjeratnya saja tidak berani.
Jokowi mendukung aksi bela Palestina yang akan dilakukan ratusan Muslim di Jakarta dan sekitarnya. Aksi tersebut justru mencerminkan apa yang selama ini diperjuangkan oleh Pemerintah Indonesia.
Jokowi mengatakan, sedari dulu Pemerintah Indonesia memang berkomitmen membantu Palestina dalam mendapatkan kemerdekaan. Untuk itu Indonesia akan berpihak pada Palestina.
Dia menuturkan, banyak negara memberikan apresiasi atas kinerja dan keinginan Indonesia dalam membantu Palestina. Peran Indonesia dianggap cukup vital dalam memberikan bantuan bagi negara tersebut.
Langkah Jokowi mendukung aksi bela Palestina diikuti oleh Muhammadiyah. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, semestinya PBB dapat berusaha untuk mencari jalan damai demi tercapainya Palestina Berdaulat.


Sebagai salah satu langkah nyata, Muhammadiyah pun turut dalam aksi bela Palestina yang digelar di Jakarta, Ahad (17/12). Menurutnya, Muhammadiyah ikut ambil bagian dalam aksi itu karena kegiatan tersebut juga melibatkan seluruh komponen masyarakat, bukan hanya kalangan masyarakat Muslim.
Dukungan Jokowi dan Ketua Umum Muhammadiyah terhadap aksi bela Palestina adalah bukti bahwa aksi tersebut adalah aksi bermartabat. Aksi tersebut adalah bentuk kepedulian umat Islam Indonesia secara khusus kepada saudara muslim di Palestina, serta kepedulian bangsa Indonesia secara umum terhadap negeri yang didzalimi. Indonesia sejak awal berdiri telah mengikrarkan diri untuk membantu perdamaian dunia serta penghapusan penjajahan di atas dunia.
Dukungan Jokowi terhadap aksi bela Palestina sebenarnya bisa menjadi kode keras kepada alumni 212. Jika mereka peka, mereka bisa membuat kesimpulan dari sikap Jokowi yang tidak mau mendukung aksi 212 maupun reuni akbar 212 namun mendukung bela Palestina. Jika mereka mau berpikir logis, seharusnya mereka bisa menyimpulkan bahwa aksi yang selama ini mereka lakukan tidak dianggap penting oleh Jokowi.
Selain tidak mendukung acara reuni akbar 212, Jokowi bahkan mengabaikan dan lebih memilih bekerja. Jokowi tidak sedikitpun menanggapi acara reuni akbar 212 yang digagas oleh alumni 212. Tidak dianggap tentu lebih menyakitkan dibanding dimarahi. Masih mending dimarahi oleh seseorang dibanding tidak dianggap sama sekali. Sangat menyakitkan..!!

Apalagi ketika respon Jokowi begitu baik saat akan ada aksi bela Palestina. Jokowi tidak ragu sedikitpun untuk mendukung aksi bela Palestina. Mungkin alumni 212 harus belajar lagi untuk melakukan aksi-aksi yang lebih bermartabat agar bisa mendapat dukungan dari Jokowi. Jika masih menyelenggarakan aksi-aksi seperti sebelumnya, jangan harap akan mendapat dukungan dari Jokowi. Mudah-mudahan ada alumni 212 yang menangkap kode keras dari Jokowi ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...