Langsung ke konten utama

Mentan: Harga Pangan Relatif Aman, Telur Saja yang Naik

Mentan: Harga Pangan Relatif Aman, Telur Saja yang Naik
Menjelang libur Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, Kementerian Pertanian menuturkan, telah terjadi kenaikan harga telur ayam dan bahan pangan yang lain relatif aman.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, tingginya harga telur ayam diduga karena ada yang memanfaatkan momen libur panjang untuk meraup keuntungan..

"Kan relatif aman, harga tadi telur saja (yang naik). Lainnya relatif aman," kata Amran di Komplek Istana, Jakarta, Senin (18/12/2017).

Amran menyebutkan, kenaikan harga telur juga terjadi disaat produksinya mengalami surplus. Oleh karenanya, dia meminta satuan tugas (satgas) pangan untuk menyelidiki hal tersebut.

"Sebenarnya produksinya surplus tapi mungkin ada yang memanfaatkan momentum ini. Yang jelas produksinya surplus. Ya nanti kita lihat, satgas akan bekerja," tambah dia.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, yang perlu diwaspadai pada saat libur panjang natal dan tahun baru adalah inflasi.

"Situasi pangan memang ada inflasi di atas bulan lalu sedikit tetapi tidak terlalu besar juga cuma memang di atas rata-rata," kata Darmin.

Kenaikan harga terjadi pada telur ayam serta daging ayam.

"Ya ada kenaikan di telur, daging ayam gitu gitu, beras ada sedikit yang medium tetapi tidak terlalu mengkhawatirkan. Kita akan coba pelajari apa yang perlu ada langkah khusus," jelas dia.

Terkait dengan cuaca ekstrem, Mantan Dirjen Pajak ini menyebutkan, produksi akan kembali penuh lantaran awal tahun depan sudah masuk waktu panen. Pemerintah juga sudah menyiapkan atau mengantisipasi jika panen masuk dalam musim penghujan.

"Kalau panen waktu datang musim hujan persoalannya apa? Dryer, pengering itu harus di organisme disiapkan dan itu sudah kami bicarakan," tukas dia. (ang/ang)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...