Langsung ke konten utama

GPII AJAK SEMUA ELEMEN BANGSA UNTUK MENJAGA KEDAMAIAN SAAT PERAYAAN NATAL DAN TAHUN BARU

GPII Mengajak semua elemen bangsa khususnya pemuda untuk turut menjaga kondusifitas keamanan saat perayaan Natal 2017 dan Tahun 2018. Setiap warga negara mempunyai kewajiban yang sama untuk menjaga kententraman. Siapapun dan apapun etnis, agama dan golongannya semua memiliki kewajiban yang sama tanpa terkecuali.
Hal tersebut disampaikan Aktivis GPII Nanang Qosim dalam Diskusi Publik bertema Dukungan Elemen Pemuda Jakarta Terhadap Perayaan Natal dan Tahun Baru di Ruang Hampa Tanjung Barat Jakarta Selatan Jumat, 22 Desember 2017.
Pemuda merupakan salah satu elemen terpenting pondasi bangsa mempunyai tanggungjawab besar terhadap ketentraman dan kedamaian hidup semua warga negara termasuk menjaga kebhinekaan Indonesia, ucap Nanang.
Sementara terkait dengan persoalan kebangsaan yang selama ini selalu digunakan untuk memecah belah bangsa yaitu isu SARA, maka pemuda harus bisa menjadi garda terdepan untuk menjaga kebhinekaan bangsa ini agar tidak terpecah belah, ungkap aktivis GPII itu.
GPII sebagai sebagai satu ormas kepemudaan di Indonesia akan selalu mendukung untuk menjaga keberagaman dan persatuan bangsa ini, tambah Nanang.
Salah satu tokoh pemuda itu juga mengatakan Pemuda Jakarta memiliki peran penting untuk melestarikan kebhinekaan yang sudah menjadi keunggulan bagi bangsa Indonesia, sehingga keunggulan ini akan tetap lestari sepanjang masa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...