Langsung ke konten utama

Ekonomi Tumbuh 5,06%, Sri Mulyani: Ini Cukup Kuat

Ekonomi Tumbuh 5,06%, Sri Mulyani: Ini Cukup Kuat
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali menyebutkan capaian ekonomi Indonesia pada kuartal III-2017 saat menjadi pembicara kunci di acara seminar bertema Managing Urbanisation for Sustainable Cities.

Acara yang menjadi rangkaian menuju pertemuan tahunan IMF-World Bank pada Oktober 2018 di Bali. Di hadapan ratusan peserta seminar yang berasal dari World Bank, OECD, pemerintah daerah dan juga mahasiswa. Sri Mulyani menyebutkan, data ekonomi Indonesia di kuartal III berada dalam posisi yang baik.

"Di kuartal III-2017 pertumbuhan 5,06%, ini cukup kuat meski ada ketidakpastian di dunia," kata Sri Mulyani di Shangrila Hotel, Jakarta, Selasa (19/12/2017).

Pertumbuhan yang sebesar 5,06% didukung oleh konsumsi rumah tangga yang berada di level 4,93%, ekspor tumbuh 17,26%, investasi tumbuh 7,11%, lalu impor yang tumbuh sekitar 15%. Menurut dia, meningkatnya ekspor memberikan dampak terhadap beberapa daerah produksi komoditas, khususnya CPO, batubara, dan mineral.

"Pertumbuhan ekspor sangat produktif terutama untuk daerah, seperti Kalimantan, Maluku, Sumatera, dan Papua yang sempat menderita karena penurunan harga ekspor beberapa tahun terakhir," tambah dia.

Ekonomi Tumbuh 5,06%, Sri Mulyani: Ini Cukup KuatFoto: Hendra Kusuma

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga menyebutkan, peningkatan impor di kuartal III-2017 menandakan bahwa para industri sudah mulai kembali bergeliat dan memberikan rasa optimistis terhadap perekonomian nasional.

Lanjut Sri Mulyani menuturkan, pemerintahan kabinet kerja di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) fokus untuk membuat ekonomi nasional yang lebih kuat dan berdaya tahan meskipun masih terbayangi ketidakpastian global.

"Di bawah Presiden Jokowi kami sangat konsisten untuk mencapai program-program kami. Diversifikasi ekonomi harus diperkuat untuk membuat ekonomi yang lebih kuat dan berdaya tahan khususnya dengan adanya ketidakpastian di dunia, dasar yang lebih kuat akan meningkatkan kompleksitas produk dan nilai tambah," tukas dia. (mkj/mkj)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...