
Presiden Jokowi membuka acara Apel Kebangsaan Pemuda Islam Indonesia dengan tema “Pemuda Hebat, Jaga Bumi” yang diikuti oleh Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Nahdatul Ulama (NU) dan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda (Kokam) Muhammadiyah se Indonesia di lapangan Siwa Plataran Taman Wisata Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta.

Kegiatan akan berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu, 16-17 Desember 2017 yang diikuti 20.000 pemuda.Selain kedua ormas Islam terbesar di Indonesia Banser NU Dan Kokam Muhammadiyah, kegiatan tersebut juga diikuti organisasi pemuda lain yang ada di Indonesia.
Baru sampai di bagian sini saja sudah ada keharuan yang melanda hatiku. Dua ormas Islam terbesar di Indonesia bersatu menjaga Ibu Pertiwi di Candi Prambanan, sebuah candi yang dikenal juga dengan sebutan Candi Roro Jonggrang, yang merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Dibangun pada abad ke-9 masehi, candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma (Dewa Pencipta), Wishnu (Dewa Pemelihara), dan Siwa (Dewa Pemusnah). Nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha yang diambil dari bahasa Sansekerta yang bermakna Rumah Siwa. Di ruang utama candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter.

Indahnya perbedaan yang justru digunakan untuk persatuan. Bersatu bersama menjaga bumi Indonesia.
Dalam kesempatan itu Jokowi mengatakan, sebagai generasi muda Islam dengan pemikiran kekinian dan inovasi yang selalu melihat visi ke depan, adalah genarasi yang akan memegang peran besar terhadap persatuan negeri dan kepemimpinan negara. Hal tersebut penting, sebab Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia akan selalu menjadi panutan dan contoh bagi negara-negara Islam yang lain. Baik dalam menjaga persatuan dalam perbedaan maupun perannya dalam dunia internasional. Contohnya saat Indonesia diminta menjadi penengah dalam mengatasi konflik di Afganistan dan juga Palestina.
”Yogjakarta, kalian semua adalah pewaris darah juang para ulama, kalian semua adalah penerus perjuangan KH. Hasjim Asy`ari dan KH. Ahmad Dahlan, kalian semua adalah pejuang untuk membangun Islam yang Rahmatan lil Alamin, yang mengembangkan Islam berkemajuan, memperkuat Islam Indonesia. Para pemuda harus kuat dalam membangun diri, dengan terus meningkatkan kapasitas dan daya saing di era global serta meningkatkan kemampuan kreativitas dan inovasi. Terutama untuk membantu umat. Dengan demikian, Indonesia akan menjadi negara wadhatun toyibatun ghofur. Pemerintah siap mendukung langkah mulia tersebut.” ujar Jokowi saat menjadi inspektur upacara dalam acara tersebut.

Sekalipun aku tidak hadir di acara tersebut, membaca beritanya dan melihat foto-fotonya saja sudah membuat hati ini sejuk. Presiden Indonesia mengajak generasi muda dari agama mayoritas di negara ini untuk aktif berperan serta menjaga persatuan NKRI.
Tujuannya agar Islam bisa menjadi panutan alias teladan yang bisa dilihat banyak orang. Panutan dan teladan dalam hal-hal yang baik tentunya. Mari kita analisa satu persatu ucapan Jokowi tersebut.
- Islam Indonesia adalah Islam Rahmatan Lil Alamin. Tugas Nabi Muhammad adalah membawa rahmat bagi sekalian alam, maka itu pulalah risalah agama yang dibawanya. Tegasnya, risalah Islam ialah mendatangkan rahmat buat seluruh alam. Lawan daripada rahmat ialah bencan dan malapetaka. Maka jika dirumuskan ke dalam bentuk kalimat, Islam itu “bukan bencana alam”. Dengan demikian kehadiran Islam di alam ini bukan untuk bencana dan malapetaka, tetapi untuk keselamatan, untuk kesejahteraan dan untuk kebahagiaan manusia lahir dan batin, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam masyarakat.
- Menjadi penengah saat ada konflik. Sudah selayaknya dan sepatutnya ini dilakukan oleh semua orang apapun agamanya. Menjadi penengah saat ada konflik adalah hal yang sangat mulia. Tujuannya adalah meredakan pertikaian dan perselisihan. Bukan malah memperuncing dan memperkeruh suasana menjadi semakin panas. Visi dan misi menjadi penengah saat ada konflik sudah sangat jelas yaitu membawa kesejukan dan damai sejahtera bagi semua orang. Itulah harapan Jokowi. Sudahkah itu kita lakukan???
- Pemuda harus kuat dalam membangun diri dengan terus meningkatkan kapasitas dan daya saing. Presiden mengajak generasi muda Indonesia untuk semakin meningkatkan kemampuan dirinya masing-masing dalam menghadapi persaingan yang tak mudah ini. Jokowi memberi semangat anak-anak muda ini untuk tidak menyerah saat melihat ada orang lain yang lebih unggul. Kejar ketertinggalan itu dengan berusaha lebih giat lagi, bukan dengan mengumbar iri dengki apalagi memakai cara-cara licik untuk menjatuhkan orang lain.
- “Menjaga persatuan dalam perbedaan”. Ada pelajaran yang sangat berharga dari kalimat pendek yang tampak sederhana itu. Jokowi hendak mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah belah. Perbedaan justru harus disatukan agar Indonesia bisa semakin kuat. Mari kita renungkan bersama dengan hati yang bersih. Perbedaan akan jadi perpecahan jika kita sibuk memperuncingnya. Padahal Tuhan sendiri jugalah yang menciptakan semua perbedaan di dunia ini termasuk perbedaan-perbedaan yang ada dalam diri manusia. Rumus menghadapi perbedaan Cuma ada 1. Perbedaan itu untuk dihargai. Bukan untuk diperuncing apalagi diperdebatkan. Itulah Bhinneka Tunggal Ika. Itulah Indonesia.
"Sekali lagi saya ingin bertanya kepada saudara-saudara, apakah saudara bangga terhadap Indonesia? Apakah saudara bangga terhadap Bhinneka Tunggal Ika? Apakah saudara bangga dengan Islam toleran yang kita miliki. Perlu saya ingatkan, bahwa Indonesia adalah negara besar," kata Jokowi dengan penuh semangat.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi yang juga hadir dalam acara tersebut juga menambahkan, Indonesia perlu mengambil peran kepeloporan dalam menjaga bumi Indonesia. Minimnya kepedulian terhadap lingkungan telah menyebabkan kerusakan ekologis. Tapi ironisnya energi bangsa ini justru terkuras habis dalam konflik yang saling menghujat, memfitnah dan berita hoax khususnya di media sosial.
Menpora juga untuk menegaskan kembali bahwa NU dan Muhammadiyah harus selalu mengawal NKRI dalam komitmen yang utuh.

Tak perlu berada di sana untuk bisa merasakan getaran semangat dan keharuan akan rasa cinta tanah air dan bangsa.
Membaca apa yang Presiden Jokowi dan Menpora Nahrawi katakan saja sudah membuat hati ini ikut bergairah.
Terima kasih Pakdhe. Terima kasih Pak Nahrawi. Terima kasih untuk semua kata-kata positif yang sudah kalian ucapkan untuk mempersatukan bangsa ini.
Indonesia bersatu menolak diadu. NKRI harga mati. Pancasila, UUD 45 dan Bhinneka Tunggal Ika tetaplah abadi. Berkibarlah selalu Sang Merah Putih. Hiduplah Indonesia Raya. Merdekaaaaaa……!!!
Komentar
Posting Komentar