Langsung ke konten utama

Wiranto Minta Elemen Bangsa Waspadai Dampak Konflik Marawi

Wiranto Minta Elemen Bangsa Waspadai Dampak Konflik Marawi
Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto.
 
Jakarta: Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengapresiasi tindakan cepat pemerintah daerah di perbatasan dalam menanggapi konflik Marawi, Filipina. Pemerintah daerah dan aparat keamanan bersama tokoh masyarakat telah waspada dengan potensi yang ditimbulkan konflik Marawi.

Wiranto baru saja mengadakan rapat koordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan yang bertugas di wilayah yang berbatasan langsung dengan Filipina. Rapat koordinasi diadakan di Manado, Sulawesi Utara.

"Rupanya memang para pemerintah daerah, kapolda, pangdam, dan tokoh masyarakat sudah alert masalah itu, sudah mewaspadai. Mereka sudah membuat langkah-langkah posko bersama," kata Wiranto di Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Wiranto mengatakan, TNI telah menambah pasukan yang berjaga di pulau terluar. TNI Angkatan Laut juga melakukan patroli maritim dan menempatkan beberapa kapal perang di perairan yang dianggap rawan.

Selain itu, masyarakat juga aktif membantu dengan menerapkan sistem peringatan dini dengan melaporkan segala kejadian mencurigakan kepada aparat keamanan.

"Jadi saya kira tidak perlu khawatir soal itu, kita sudah melakukan langkah yang cukup luar biasa," kata dia.

Pemerintah menilai, konflik yang terjadi di Marawi, Filipina, bisa berdampak buruk buat Indonesia. Kelompok militan Maute yang terus digempur militer Filipina dapat terdesak dan kabur menuju wilayah Indonesia.

Pengamanan perbatasan pun ditingkatkan. Karena, besar kemungkinan kelompok militan Maute yang terdesak justru kabur ke arah selatan menuju Indonesia.

"Kita cukup dekat (dengan Filipina), kalau jarak darat itu sekitar 300 kilometer, itu cukup dekat," jelas Wiranto.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...