Langsung ke konten utama

Membongkar Strategi & Konspirasi Aksi 287 Bela HTI

Jakarta – Aksi 287 oleh Presidium Alumni 212 menolak Perppu ormas yang wacananya demo depan Istana Negara itu kembali menyita perhatian publik.
Berbagai persiapan terus dilakukan mulai dari rapat konsolidasi antar ormas Islam untuk menyamakan satu persepsi hingga setting aksi.
Dari penerawangan kita lakukan, penulis mencoba membongkar skenario konspirasi dibalik aksi 287 menuntut menolak pembubaran ormas anti Pancasila (HTI).
Pertama, aksi 287 yang harusnya ormas Islam bisa melakukan aksi akbar peduli Palestina namun justru menggelar demo tolak Perppu. Seolah-olah aksi ini menjadi hal yang diperhitungkan oleh pemerintah. “Kok ke geeran alias kepedean, pemerintah urusannya banyak”.
Kedua, aksi demo kali ini bakal menjadi alat untuk menekan Mahkamah Konstitusi (MK) agar menolak Perppu ormas. “Kenapa kok jadi di intervensi ya ?”.
Ketiga, mereka tidak ingin aksi 287 nanti tidak terkesan sebagai aksi membela HTI. “Aksi kok jadi tutup2an tuntutannya. Blak-blakan aja kalau mau bela HTI. Atau memang malu bela HTI ? Kata Buya: HTI gak suka Pancasila dan demokrasi kok. Trus kenapa harus dibela, ya sadarkan donk ? Lalu mau cari apa ?
Keempat, mereka tidak ingin mengesankan bahwa aksi ini dikendalikan oleh GNPF. Mereka pingin main cantik, seolah-olah harus menunjukkam murni Presidium padahal GNPF dan FPI berada dibelakangnya. “Ha ha ha kok ada yang dibelakang layar ? Muncul aja sekalian wujudkan penampakanmu ?”
Kelima, seolah-olah aksi 287 nanti nasionalis dan mengelabui publik maka diperbanyaklah bendera Merah Putih sebagai bagian strategi aksi dukung HTI.
“Jangan lupa hormat bendera Merah Putih ya ?, jangan sampai bilang haram hormat bendera”. Lalu tidak boleh bawa spanduk sudutkan pemerintah seperti “Turunkan Jokowi” Pokoknya tidak boleh makar.
“Alhamdulillah sudah waras lah kalau begitu”.
Keenam, settingannya pingin mengulangi aksi 212 yang terus berkelanjutan dan sukses mengundang massa lainnya.
“Gimana mau mengundang massa, mending pilih ormas yang benar-benar bisa berguna untuk membangun bangsa. Ngapain belain ormas anti Pancasila”.
Ketujuh adalah seperti biasanya sebelum aksi koar-koar mau aksi dulu. Ngancam mau terjunin massa ribuan, jutaan gak sekalian aja satu planet dibawa-bawa.
Delapan, dilarang keras membawa bendera HTI.
Kesembilan, melobi para tokoh supaya bisa hadir ikut serta beri support seperti :
Tokoh Hukum : Eggi Sudjana, Yusril Ihza Mahendra, Achmad Michdan, Mahendrata, Kapitra Ampera.
2. Tokoh Ormas :
Anhar, habib umar, Kiai Hasri Harahap, Slamet Maarif.
3. Tokoh Nasional :
Amien Rais, Zulkifli Hasan, dan lain-lain.
Terakhir, estimasi massa klaim 5.000 orang. (Kita liat aja nanti, jangan ajak-ajak jamaah Sholat Jumat Masjid Istiqlal ikutan diklaim ya… ) Alhamdulillah kalau gak ikutan diklaim.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...