
Beragama butuh kecerdasan. Minimal bisa
membedakan kontainer dengan isi. Kalau tidak bisa membedakan, alamat
hidup beragama kehilangan makna sejatinya.
Bagaimana cara membedakan kontainer agama
dengan isi agama? Paparan Ajahn Bram ketika menjawab pertanyaan “Ketika
Agama Buddha Dihina, Apa Tindakan Umat Buddha?” pantas menjadi acuan.
Paparan Ajahn Bram itu sempat meramaikan
jagad media sosial karena menjadi contoh baik untuk menghayati agama
secara mendalam, dengan mengandalkan daya nalar bersumbu panjang.
Sekedar sebagai pengingat, berikut ini uraian Ajahn Bram ketika menjawab tanya seorang wartawan:
“Apa yang Ajahn Bram lakukan bila seseorang memasukkan Kitab Suci Agama Buddha dalam toilet?”
Beliau menjawab: “Saya akan panggil tukang untuk membersihkan toilet dan mengangkat kitab suci itu. Supaya toilet tidak buntu.”
Wartawan itu tertawa dan mengatakan ini baru jawaban yang masuk akal.
Selanjutnya beliau mengatakan: “Saya menjelaskan, seseorang mungkin bisa meledakkan banyak patung Buddha, membakar Vihara atau membunuh Bhiksu dan Bhiksuni, mereka mungkin menghancurkan semuanya, tetapi saya tidak akan pernah membiarkan mereka menghancurkan Ajaran Buddha.
Kalian bisa saja membuang Kitab Suci ke dalam toilet, tetapi saya tidak akan membiarkan kalian membuang pengampunan, kedamaian, dan welas asih ke dalam toilet.
Buku bukanlah Agama, demikian juga dengan patung, bangunan dan para pemuka agama. Ini semua hanyalah “kontainer”.
Apa yang telah buku ajarkan kepada kita? Patung itu merepresentasikan apa?
Kualitas apa yang seharusnya diwujudkan para pemuka agama? Inilah yang disebut dengan “isi”.
Ketika kita dapat mengetahui perbedaan antara “kontainer” dan “isi”, maka kita akan mampu mempertahankan “isi” meskipun kontainernya telah dihancurkan.
Kita dapat mencetak lebih banyak buku, membangun lebih banyak Vihara dan patung-patung, bahkan melatih lebih banyak Bhiksu dan Bhiksuni, tetapi ketika kita kehilangan cinta kasih dan rasa hormat kepada sesama dan diri kita sendiri dan menggantinya dengan kebencian, maka keseluruhan agama itu telah jatuh ke dalam toilet.”
***
Itulah kunci memahami dan menghayati agama
supaya menjadi rahmat bagi semesta. Berbeda halnya kalau tata cara
beragama hanya sekedar bergaya memanggul kontainer. Selain wagu dan
tidak bermutu juga jelas-jelas hanya merawat kebodohan zaman baheula.
Kisah Ajahn Bram di atas adalah contoh super cerdas dalam menghidupi
suatu agama.
Ajaran yang menjadi inti agama itu adalah
isi. Budaya tempat suatu agama lahir yang mempengaruhi ritual ibadah
berikut segala asesoris dan pranata itu ibaratnya kontainer. Namanya
budaya itu merupakan hasil budi daya manusia yang tidak sempurna. Maka
perlu dinalar ulang supaya nampak cemerlang. Terutama ketika suatu agama
memasuki konteks pergulatan dan pengalaman baru.
Kata-kata Bung Karno sebagaimana dikutip
Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri pada peringatan HUT ke-44 PDI
Perjuangan pantas menjadi referensi untuk menghayati ajaran agama secara
tepat guna. Menjadi Hindu Nusantara, Kristen Nusantara, Islam Nusantara
adalah bisa. Tanpa perlu bergaya lebay ala-ala India, Yahudi ataupun
Arab. Sebagai catatan tambahan kalau jadi Kristen Nusantara jangan
bergaya penjajah Eropa dan Amerika.
Apa yang disampaikan Bung Karno adalah
contoh praktik beragama yang tidak membuang keseluruhan agama ke dalam
toilet, sebagaimana dimaksudkan Ajahn Bram. Agama itu punya esensi yakni
cinta kasih, rasa hormat, dan hadir sebagai rahmat yang tidak boleh
terbuang. Esensi ini yang perlu dibedakan dengan asesoris.
Beragama kalau hanya mengandalkan asesoris
semacam jubah, kalung salib, celana cingkrang, baju gamis, hingga motor
berhijab, itu baru level kontainer dan belum menyentuh level isi. Kalau
bangga dengan gaya beragama seperti itu, jangan sewot kalau
ditertawakan secara sporadis dan kritis oleh segenap makhluk di bumi
ini. Hihihihi…
Kalau masih bingung dengan pendapat di
atas, jangan cepat putus asa. Ada pandangan yang tajam dan jelas
disampaikan Buya Syafi’i Maarif ketika mengkritisi gaya beragama Islam
yang kearab-araban. Hal ini disampaikan di Kompleks Istana Kepresidenan,
Jakarta, Senin (17/7/2017).
Bagi Buya, inti ajaran Islam tidak bisa
disamakan dengan budaya Arab. Karena itu, orang-orang Indonesia yang
muslim jangan serta-merta dengan mengerti bahasa Arab seolah mewakili
agama. Menurut Buya, itu tidak bisa. Jangan sampai ada anggapan, bahwa
radikalisme dan terorisme yang berkembang di Timur Tengah adalah ajaran
Islam. Itu adalah rongsokan peradaban Arab yang kalah.
Demikian penjelasan Buya seperti dikutip liputan6.com:
Di sinilah beragama secara cerdas
dibutuhkan. Seolah-olah ketika apa-apa dilabeli dengan agama menjadi
suci dengan sendirinya. Buya Syafi’i mencontohkan negara Timur Tengah
yang disibukkan dengan konflik horizontal, termasuk kemunculan ISIS di
berbagai negara. Ketika agama dibawa-bawa dalam urusan konflik sama saja
tidak ada kedamaian. Ibarat memasukkan keseluruhan agama ke dalam
toilet! Ya, bau tak sedaplah.
Oleh karena itu, tokoh sepuh Muhammadiyah
ini meminta agar masyarakat tidak mudah terjerumus dan terpengaruh
paham-paham radikal. Caranya, dengan memilih guru atau pemuka agama yang
tidak berpikir radikal dan menyimpang. Itulah guru atau pemuka agama
yang bersumbu panjang dan tidak sekedar berjenggot dan berdaster
panjang.
Guru dan pemuka agama seperti itu pasti
mampu membimbing menemukan esensi atau inti agama yang welas asih, penuh
rasa hormat pada sesama dan menjadi rahmat bagi semesta. Dijamin, tidak
akan menjadi penadah rongsokan peradaban Arab yang biadab seperti
perilaku teroris ISIS dan ormas radikal.
Komentar
Posting Komentar