Langsung ke konten utama

Jadilah Islam Nusantara dan Jangan Jadi Penadah Rongsokan Peradaban Arab!



Beragama butuh kecerdasan. Minimal bisa membedakan kontainer dengan isi. Kalau tidak bisa membedakan, alamat hidup beragama kehilangan makna sejatinya.
Bagaimana cara membedakan kontainer agama dengan isi agama? Paparan Ajahn Bram ketika menjawab pertanyaan “Ketika Agama Buddha Dihina, Apa Tindakan Umat Buddha?” pantas menjadi acuan.
Paparan Ajahn Bram itu sempat meramaikan jagad media sosial karena menjadi contoh baik untuk menghayati agama secara mendalam, dengan mengandalkan daya nalar bersumbu panjang.
Sekedar sebagai pengingat, berikut ini uraian Ajahn Bram ketika menjawab tanya seorang wartawan:
“Apa yang Ajahn Bram lakukan bila seseorang memasukkan Kitab Suci Agama Buddha dalam toilet?”
Beliau menjawab: “Saya akan panggil tukang untuk membersihkan toilet dan mengangkat kitab suci itu. Supaya toilet tidak buntu.”
Wartawan itu tertawa dan mengatakan ini baru jawaban yang masuk akal.
Selanjutnya beliau mengatakan: “Saya menjelaskan, seseorang mungkin bisa meledakkan banyak patung Buddha, membakar Vihara atau membunuh Bhiksu dan Bhiksuni, mereka mungkin menghancurkan semuanya, tetapi saya tidak akan pernah membiarkan mereka menghancurkan Ajaran Buddha.
Kalian bisa saja membuang Kitab Suci ke dalam toilet, tetapi saya tidak akan membiarkan kalian membuang pengampunan, kedamaian, dan welas asih ke dalam toilet.
Buku bukanlah Agama, demikian juga dengan patung, bangunan dan para pemuka agama. Ini semua hanyalah “kontainer”.
Apa yang telah buku ajarkan kepada kita? Patung itu merepresentasikan apa?
Kualitas apa yang seharusnya diwujudkan para pemuka agama? Inilah yang disebut dengan “isi”.
Ketika kita dapat mengetahui perbedaan antara “kontainer” dan “isi”, maka kita akan mampu mempertahankan “isi” meskipun kontainernya telah dihancurkan.
Kita dapat mencetak lebih banyak buku, membangun lebih banyak Vihara dan patung-patung, bahkan melatih lebih banyak Bhiksu dan Bhiksuni, tetapi ketika kita kehilangan cinta kasih dan rasa hormat kepada sesama dan diri kita sendiri dan menggantinya dengan kebencian, maka keseluruhan agama itu telah jatuh ke dalam toilet.”
***
Itulah kunci memahami dan menghayati agama supaya menjadi rahmat bagi semesta. Berbeda halnya kalau tata cara beragama hanya sekedar bergaya memanggul kontainer. Selain wagu dan tidak bermutu juga jelas-jelas hanya merawat kebodohan zaman baheula. Kisah Ajahn Bram di atas adalah contoh super cerdas dalam menghidupi suatu agama.
Ajaran yang menjadi inti agama itu adalah isi. Budaya tempat suatu agama lahir yang mempengaruhi ritual ibadah berikut segala asesoris dan pranata itu ibaratnya kontainer. Namanya budaya itu merupakan hasil budi daya manusia yang tidak sempurna. Maka perlu dinalar ulang supaya nampak cemerlang. Terutama ketika suatu agama memasuki konteks pergulatan dan pengalaman baru.
Kata-kata Bung Karno sebagaimana dikutip Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri pada peringatan HUT ke-44 PDI Perjuangan pantas menjadi referensi untuk menghayati ajaran agama secara tepat guna. Menjadi Hindu Nusantara, Kristen Nusantara, Islam Nusantara adalah bisa. Tanpa perlu bergaya lebay ala-ala India, Yahudi ataupun Arab. Sebagai catatan tambahan kalau jadi Kristen Nusantara jangan bergaya penjajah Eropa dan Amerika.
Apa yang disampaikan Bung Karno adalah contoh praktik beragama yang tidak membuang keseluruhan agama ke dalam toilet, sebagaimana dimaksudkan Ajahn Bram. Agama itu punya esensi yakni cinta kasih, rasa hormat, dan hadir sebagai rahmat yang tidak boleh terbuang. Esensi ini yang perlu dibedakan dengan asesoris.
Beragama kalau hanya mengandalkan asesoris semacam jubah, kalung salib, celana cingkrang, baju gamis, hingga motor berhijab, itu baru level kontainer dan belum menyentuh level isi. Kalau bangga dengan gaya beragama seperti itu, jangan sewot kalau ditertawakan secara sporadis dan kritis oleh segenap makhluk di bumi ini. Hihihihi…
Kalau masih bingung dengan pendapat di atas, jangan cepat putus asa. Ada pandangan yang tajam dan jelas disampaikan Buya Syafi’i Maarif ketika mengkritisi gaya beragama Islam yang kearab-araban. Hal ini disampaikan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/7/2017).
Bagi Buya, inti ajaran Islam tidak bisa disamakan dengan budaya Arab. Karena itu, orang-orang Indonesia yang muslim jangan serta-merta dengan mengerti bahasa Arab seolah mewakili agama. Menurut Buya, itu tidak bisa. Jangan sampai ada anggapan, bahwa radikalisme dan terorisme yang berkembang di Timur Tengah adalah ajaran Islam. Itu adalah rongsokan peradaban Arab yang kalah.
Demikian penjelasan Buya seperti dikutip liputan6.com:
Di sinilah beragama secara cerdas dibutuhkan. Seolah-olah ketika apa-apa dilabeli dengan agama menjadi suci dengan sendirinya. Buya Syafi’i mencontohkan negara Timur Tengah yang disibukkan dengan konflik horizontal, termasuk kemunculan ISIS di berbagai negara. Ketika agama dibawa-bawa dalam urusan konflik sama saja tidak ada kedamaian. Ibarat memasukkan keseluruhan agama ke dalam toilet! Ya, bau tak sedaplah.
Oleh karena itu, tokoh sepuh Muhammadiyah ini meminta agar masyarakat tidak mudah terjerumus dan terpengaruh paham-paham radikal. Caranya, dengan memilih guru atau pemuka agama yang tidak berpikir radikal dan menyimpang. Itulah guru atau pemuka agama yang bersumbu panjang dan tidak sekedar berjenggot dan berdaster panjang.
Guru dan pemuka agama seperti itu pasti mampu membimbing menemukan esensi atau inti agama yang welas asih, penuh rasa hormat pada sesama dan menjadi rahmat bagi semesta. Dijamin, tidak akan menjadi penadah rongsokan peradaban Arab yang biadab seperti perilaku teroris ISIS dan ormas radikal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...