Langsung ke konten utama

Demi Keamanan Negara, IPNU NTB Dukung Pemerintah Blokir Telegeram

MATARAM – Pasca pemerintah melakukan Pemblokiran terhadap salah satu media sosial yaitu Telegram mendapatkan tanggapan pro dan kontra di kalangan masyarakat, kendati demikian Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Nusa Tenggara Barat (NTB) mendukung langkah pemerintah memblokir telegram tersebut.

Ketua IPNU NTB, Syamsul Hadi menegaskan bahwa pemblokiran tersebut hal sewajar dilakukam oleh pemerintah. Karena menganacam keamanan negara.

“Oleh sebab itu, saya mendukung pemblokiran tersebut, sebagai langkah antipisai dan menjaga keamanan negara,” tegas Syamsul kepada MetroNTB.com beberapa hari lalu.
“Bagi saya, pemblokiran itu bukan sebuah langkah yang mundur dengah kemajuan teknologi. Akan tetapi itu sebuah peringatan bagi pemilik semua media sosial agar dapat menggunakannya semestinya serta bisa bekerjsama dengan pemerintah,” sambungnya.
Dijelaskannya, seperti yang diketahui bersama pemerintah sudah meminta konfirmasi kepada tim telegram. Namun tak direspon.
“Dan pemblokiran tersebut sebagai langkap berani dan tandanya negara kita berdaulat. Dan saya apresiasi langkah kongkrit tersebut,” ujar Syamsul.
Syamsul menambahkan, segala yang mengancam keamanan negara serta memberikan ruang komunikasi bagi kelompok yang anti-Pancasila, harus diantisipasi lebih dini agar tidak membahayakan keamanan negara.
“Dan saya aparesiasi keberanian pemerintah melalui kemenkomifo melakukan langkah antisipasi menjaga keamanan negara dari ancaman kelompok radikal,” pungkasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...