![]() |
Mungkin ada yang membedakan antara sosok
Hary Tanoe dengan Basuki Thaja (Ahok), yaitu perihal keterlibatan dalam
pelbagai kasus. Ahok dikenal dengan sosok yang tegas, dan bersih dalam
menjalankan pemerintahannya. Akan tetapi, berbanding terbalik dengan
sosok politikus yang selalu tampil menggunakan atribut Islam, yaitu Hary
Tanoe. Kejujuraan seorang Ahok, dan ketegasannya, masih menjadi suatu
momok untuk mereka yang berniat korupsi. Nyatanya, Ahok ditekan
habis-habisan oleh mereka yang merasa bahwa Ahok mampu mengancam
kebebasan mereka. Hal yang menarik menurut saya belakangan ini, bahwa
sebagian orang menggunakan agama sebagai baju mereka untuk menjatuhkan
mereka yang dianggap berbahaya.
Suatu hal yang menjadi perhatian saya,
ketika Alumni 212 mendatangi Komnas HAM untuk membela Hary Tanoe.
Sebelumnya, dalam orasi mereka saat berdemonstrasi menolak Ahok, dengan
ujaran kebencian yaitu ‘tolak pemimpin kafir’, jika dikaji secara umum,
apa ada perbedaan antara Ahok dan Hary Tanoe? Keduanya sama-sama
beragama non-muslim, keduanya juga merupakan seorang politikus. Hanya
saja, yang satu sudah berkompetensi, dan yang satu lagi sedang berusaha
menjajaki.
Melihat Alumni 212 datang membela Hary
Tanoe, rasanya suatu kejanggalan untuk saya. Mereka sebelumnya
menyuarakan kebencian dengan pelbagai cara. Cara tersebut merupakan
suatu bentuk politik untuk menjatuhkan Ahok. Mulai dari ‘tolak pemimpin
kafir’ sampai ‘tidak menyalati jenazah pendukung penista agama’. Berkaca
dari dua slogan ini, rasanya kita dapat menilai integritas mereka yang
terlibat di dalam komunitas bela agama. Saya menyebut mereka sebagai
komunitas, karena mereka bergerak begitu rapi, dan seakan mereka
terkoordinasi dengan baik.
Dalam acara International Conference yang diadakan di UIN Syarif Hidayatullah, Senin, 10 Juli 2017, bertajuk Beyond Co-Existence in Plural Societies,
pemakalah yang hadir mengemukakan sulitnya hidup berdampingan dalam era
modern, apabila masyarakatnya tidak menghargai satu sama lain. Mereka
yang berkelompok lebih besar, memiliki peranan yang lebih kuat dari
mereka yang memiliki jumlah lebih sedikit. Salah satu pemakalah yang
hadir, Eckhard Zemmrich, Humboldt-Universität memaparkan makalahnya yang berjudul “Religion as Clothing: Some Aspects of a Complex Notion”.
Menyikapi pemaparan Eckhard, saya tidak setuju dengan sebagian orang
yang menggunakan agama sebagai baju mereka. Dalam era modern, bergumul
dengan agama yang dijadikan baju, sebagai suatu cara mereka membangun
citra, sah-sah saja. Akan tetapi, menjadikan agama sebagai baju, tentu
harus memperhatikan beberapa hal, yaitu: citra agama, nilai yang
terkandung dalam agama, dan makna agama itu sendiri. Jika hanya
menggunakan untuk suatu kepentingan, maka nilai esensi dari agama itu
sendiri akan pudar.
Berkaca dari dinamika politik, ormas, dan
agama di Indonesia, maka sejatinya mereka yang mayoritas, tidak bisa
mendeskriditkan kaum minoritas. Menurut pandangan saya, ketika Alumni
212 kembali menggelar aksi demonstrasi untuk Hary Tanoe, tentu dasar
yang dijadikan tidaklah kuat. Bagaimana Hary Tanoe, pada dasarnya
merupakan non-muslim, tetapi sering kali tampil di publik menggunakan
atribut Islam. Lalu inikah dasar yang dijadikan oleh mereka untuk
menggeruduk Komnas HAM? Saya rasa bukan soal itu, melainkan soal
keberpihakan seseorang yang menjadikan Hary Tanoe perlu dibela.
Pisahkan Agama dengan Kepentingan Pribadi
Seperti yang sudah dilakukan sebelumnya,
demonstrasi membawa unsur suatu agama dalam aksinya. Akan tetapi, untuk
beberapa kasus lainnya, tentu akan menjadi suatu kebosanan publik, dan
tidak relevan dengan nilai esensi agama. Peranan agama bukanlah menjadi
suatu baju atau media seseorang dalam melancarkan urusannya. Seharusnya,
mereka menyadari bahwa konteks agama bukan pada jumlah banyak atau
sedikitnya mereka di Indonesia, melainkan keharmonisan dan kerukunan
dalam modernitas.
Kasus Alumni 212 yang mendukung Hary
Tanoe, tentunya perlu dipertanyakan. Mengapa mereka mengubah pandangan
mereka, dan berbalik mendukung non-muslim. Tentu saja hal ini berkaitan
dengan konsistensi mereka dalam menyerukan aksinya. Jika mereka
sebelumnya mengatakan ‘kafir’ kepada orang yang mendukung non-muslim,
lalu mengapa sekarang mereka mendukung Hary Tanoe dalam aksinya? Tentu
saja hal tersebut bertolakbelakang dari sikap mereka sebelumnya.
Indikasi kepentingan tentunya terlihat
jelas dalam aksi ini. Akan tetapi, yang mencenangkan ketika mereka
membawa label agama di dalam aksi ini. Modernitas menuntut seseorang
untuk berpikir kritis, bahkan modernitas mewajibkan seseorang untuk
mampu mengikutinya. Hal ini yang kemudian dipertanyakan untuk setiap
orang yang terlibat di dalam aksi tersebut. Mereka yang terlibat apakah
sudah berpikir kritis tentang aksi yang mereka ikuti? Jika sudah, dasar
yang mereka lakukan apa sudah jelas? Jika belum, hal apa yang menuntun
mereka berjalan dengan tujuan mendukung Hary Tanoe? Tentu semua
berkaitan dengan keakraban dan kepentingan seseorang yang kemudian
menggerakkan komunitas ini.

Komentar
Posting Komentar