Langsung ke konten utama

Nasionalisme Penentang Pemblokiran Telegram Patut Dipertanyakan, Jokowi Buka Peluang Industri Kreatif Bidang IT

Pemblokiran aplikasi messenger Telegram menimbulkan polemik, menangapinya Presiden Joko Widodo menyatakan masih ada aplikasi lain yang bisa digunakan. Sebenarnya tidak ada persoalan signifikan terhadap pemblokiran Telegram, toh yang diblok Telegram berbasis web, di ponsel Android masih bisa digunakan untuk komunikasi. Selain itu kebijakan ini juga tidak mempengaruhi ekonomi nasional kita.

Pernyataan Jokowi :
Sehingga langkah pemblokiran Telegram tidak akan diikuti dengan penutupan media sosial yang lain. “Tidak (pemblokiran media sosial lainnya). Tidak,” ucap Presiden dengan tegas. Presiden juga menjelaskan masih banyak aplikasi lain yang masih dapat digunakan masyarakat untuk berkomunikasi. “Kita lihat masih banyak aplikasi-aplikasi yang lain yang bisa digunakan,” ucap Presiden. Makassartoday.com
Entah para pengritik pemblokiran ini pernah piknik ke negara lainnya atau tidak, dalam hal ini melihat kebijakan negara lain terhadap aplikasi – aplikasi Android dan media sosial. Sampai hari ini contohnya pemerintah Cina Daratan masih memblokir Facebook, Twitter, dan Google dengan alasan keamanan dalam negeri.
Untuk itu pemerintah Cina mendorong pengembang aplikasi lokal mengembangkan aplikasi serupa untuk warga cina sendiri, akhirnya berbuah manis. Cina memiliki aplikasi media sosial, browser sendiri yang mampu menyamai aplikasi-aplikasi negeri Kafir (sesama kafir saja saling mengharamkan).
Pasti pengguna internet tidak asing dengan UC Browser (aplikasi browser), Baidu (mesin pencari ), QQ messenger, Weibo (microblogging seperti Twitter) adalah raksasa – raksasa aplikasi dari Cina yang membuat kreator aplikasi negeri “kafir” iri.
Dibalik sikap ketat pemerintah Cina terhadap aplikasi asing, sisi lain kreator aplikasi dalam negeri di dorong untuk membuat aplikasi serupa untuk pasar dalam negeri. Hasilnya sungguh luar biasa, putaran pendapatan iklan di e-commerce tidak lari ke platform luar tapi kembali ke dalam negeri.
Kebijakan pemerintah memblokir Telegram sebenarnya adalah peluang  dan tantangan pengembang aplikasi (developer) dalam negeri untuk bangkit membuat platform messenger khas Indonesia. Pasar domestik sangat luas, pengguna hanphone di Indonesia mencapai 200 juta, dan pasar e-commerce nasional tumbuh secara signifikan tiap tahun.
Platform di Cina bisa tumbuh besar dengan pengguna membengkak berasal dari pengguna dalam negeri karena proteksi terhadap platform luar negeri.  Penduduk Cina mencapai 1 milyar jiwa adalah pasar potensial yang wajib dilindungi oleh pemerintah. Transaksi e-commerce perusahaan – perusahaan Cina mencapai trilyunan rupiah per tahun untuk satu perusahaan.
Perusahaan e-commerce nasional belum ada yang mencapai omzet  sebesar itu. Meski tidak menggunakan platform media sosial dan messenger luar, bisnis online di Cina bisa membesar, bandingkan dengan bisnis online di Indonesia yang di – support oleh banyak platform asing ?
Populasi Cina, India, Indonesia menjadi sasaran bisnis platform – platform dari negeri kafir, tak heran bila platform Facebook, Google, Twitter bela-belain membuat konten lokal untuk menarik pengguna lokal. Tiga besar platform media sosial tersebut tidak mendapatkan akses di Cina Daratan, warga Cina pun lebih menyukai platform lokal karena ada kedekatan emosional (intimacy) budaya dan bahasa. Indonesia pun berpeluang memiliki raksasa – raksasa platform media sosial dan messenger asal tidak nyinyir dengan produk dalam negeri dan pro produk asing.
Apa yang perlu dipersoalkan dari pemblokiran Telegram ? Toh tidak berarti banyak bagi pertumbuhan ekonomi nasional, justru bisa dimanfaatkan untuk mendorong tumbuhnya industri kreatif di bidang IT. Pola pikir bahwa pemblokiran adalah sebuah pemberangusan kebebasan berkomunikasi dan berpendapat tidaklah masuk akal.
Negara sebesar Indonesia perlu pemerintah yang kuat dan mampu melindungi kepentingan nasional, bukan melayani perusahaan, organisasi transnasional tapi melayani kepentingan rakyat. Inilah yang dilakukan pemerintah Jokowi untuk menangkis serangan  proxy war  organisasi keagamaan radikal. Apa salahnya ?
“Karena memang tidak hanya 1, 2, 3, 4, 5, atau 6, tetapi ribuan (saluran percakapan) yang ada di Telegram. Dan, hal itu mengganggu keamanan negara dan masyarakat,” ujar Jokowi menegaskan. Tempo.co
Apakah  penentang pemblokiran Telegram Web apakah penyokong pembuat aplikasi dari negeri Kafir ?  Dimana nasionalisme para penentang tersebut ? Momentum pemblokiran Telegram entah apa alasannya adalah momentum industri kreatif bidang IT berlomba – lomba membuat platform lokal berbasis messenger aman dan nyaman sebagai pengganti Telegram.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...