Langsung ke konten utama

Krisis Toleransi Masih Melanda Indonesia

Belakangan di media massa marak diberitakan bahwa pertikaian sering kali dipicu dari adanya keberagaman. Mereka yang berada dalam kelompok mayoritas, memiliki otoritas lebih besar daripada mereka yang berada dalam golongan minoritas. Isu yang paling mencuat belakangan ini adalah isu agama. Di mana agama dijadikan suatu tameng untuk mereka yang ingin muncul atau memenangkan kelompok mereka.
Sebagai suatu bentuk krisis, toleransi perlu dibina sejak usia dini. Dalam era modern seperti saat ini, perkembangan teknologi mampu menghapuskan jarak dan waktu dalam memeroleh informasi. Salah satunya melalui media elektronik, internet, atau media lainnya. Penyebaran ini, sering kali tidak disaring, atau mengandung berita yang hoax yang kemudian mampu memengaruhi pembacanya.
Salah satu peranan media yang paling nyata adalah media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Blog. Beberapa bulan silam misalnya, ketika kasus penistaan agama di Indonesia ramai diberitakan, media sosial ini gencar memberitakan suatu berita. Akan tetapi, sumber yang dijadikan referensi berita ini, tidaklah jelas. Pembaca awam, tentu saja tidak akan menelaah berita ini terlebih dahulu. Akibatnya, berita ini menjadi suatu kebenaran bagi pembacanya.
Peranan media inilah yang kemudian menjadikan dekadensi nilai dalam bermasyarakat. Masyarakat yang berbeda ideologi akan saling beragu argumen karena orang lain. Dampak yang paling terlihat adalah kehilangan kerukunan dalam bermasyarakat. Bukan hanya masyarakat umum yang mengalami konflik karena pengaruh media sosial, akademisi, politisi, dan agamawan pun ikut mengeluarkan argumentasinya.
Mereka yang cerdas saling mengumpulkan referensi sebagai pendukung opini mereka. Dari sinilah muncul debat di media sosial dan media massa, yang kemudian timbul perpecahan karena kurangnya sikap toleransi. Toleransi yang menjadi krisis belakangan ini, dipicu karena tidak adanya sikap saling menghargai satu sama lain. Masyarakat tidak percaya terhadap hukum yang ada di Indonesia. Demonstrasi dilakukan ketika proses hukum berjalan. Pemerintah dianggap tidak menjalankan peran dengan baik, sehingga muncul kelompok yang kemudian mengintervensi pemerintahan.
Kembalikan Makna Toleransi Melalui Generasi Muda
Generasi muda menjadi penyumbang pembangunan masa yang akan datang. Sebagai suatu penyumbang utama dalam pembangunan, generasi muda perlu diselamatkan dari pelbagai sikap intoleransi. Buku ajar di sekolah salah satu media untuk menyelamatkan generasi muda dari krisis toleransi. Pengimplementasian sikap ini, diimplementasikan melalui pembelajaran di sekolah dan diaplikasikan oleh guru yang mengajar. Sebagai suatu bentuk ilmu, penanaman nilai ini diharapkan mampu mengubah persepsi mereka tentang toleransi dimasa yang akan datang.
Pengimplementasian nilai toleransi bukan hanya dilakukan di sekolah saja, melainkan di lingkungan keluarga. Siswa yang masih awam tidak memiliki pengetahuan tentang toleransi, sehingga perlu dibina dengan rutin agar tidak terjadi penyimpangan nilai. Dalam hal ini, modernitas menjadi salah satu kewajiban untuk mereka dimasa yang akan datang, demi terciptanya kerukunan dalam bermasyarakat. Karena modernitas memerlukan generasi yang memiliki sikap toleransi yang tinggi dalam bermasyarakat.
Untuk itu, peranan sekolah menjadi sangat penting dalam mendidik siswa menjadi generasi yang memiliki sikap toleransi yang tinggi. Jika pengimplementasiannya berhasil, maka tidak ada lagi tawuran, perkelahian, dan tindakan menyimpang lainnya, karena mereka saling menghargai satu sama lain. Selain itu, pengimplementasian sikap toleransi akan menjadikan generasi muda sebagai penopang keutuhan bangsa.
Mendiskreditkan Nilai
Salah satu peranan media massa yang terlihat adalah penyimpangan paham dalam bermasyarakat. Tokoh yang mendukung gerakan ini merupakan seorang agamawan. Mereka memiliki banyak pengikut yang tersebar di seluruh Indonesia. Akibatnya, mereka mudah menebar kebencian melalui kelompoknya.
Sebagai suatu contoh, konflik agama yang terjadi di negara lain, dipicu oleh minimnya sikap toleransi. Mereka yang berkelompok lebih besar sering kali menggeser kelompok yang lebih kecil. Sebagai seseorang yang netral, tulisan saya ini berangkat dari egosentris kelompok mayoritas yang selama ini saya lihat. Mereka mengatasnamakan agama dalam praktik mereka.
Kesenjangan kelompok minoritas yang kerap terjadi karena kelompok mayoritas, bisa melahirkan kebencian. Melalui kebencian ini sering timbul pertikaian, peperangan, padahal mereka masih dari negara yang sama. Untuk itulah sikap toleransi tidak perlu dihilangkan dalam bernegara dan bermasyarakat. Sikap inilah yang kemudian menjadi perisai bagi mereka yang ingin memecah belah suatu masyarakat.
Sebagai suatu negara yang berada di bawah kebinekaan, bangsa Indonesia dikenal dengan toleransinya. Perpecahan belakangan ini yang muncul di Indonesia akibat kelompok yang tidak bertanggung jawab yang telah menebar kebencian. Untuk itu, sudah seharusnya bangsa Indonesia ‘melek’ akan toleransi, sehingga tidak akan bisa dipecah belah oleh kelompok yang mengatasnamakan agama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...