Langsung ke konten utama

'Sel kecil' dan 'pelaku tunggal' pola baru serangan teroris di Indonesia

Image result for lone wolf terror
Penggunaan sel-sel kecil dan pelaku tunggal dalam melakukan serangan kini menjadi strategi yang semakin sering dijalankan organisasi terkait terorisme sebagai upaya untuk menjaga keamanan jaringan mereka.
Pengamat terorisme dan direktur Institute for Policy Analysis of Conflict, Sidney Jones, mengatakan bahwa strategi ini diambil karena jaringan teror menilai "terlalu berbahaya bagi mereka untuk bergerak sebagai satu organisasi besar".
Meski begitu, terkait serangan terhadap pos polisi di Cikokol, Jones mengatakan, "Harus digarisbawahi, terlalu dini untuk diketahui orang ini (pelaku), apakah sebagian dari kelompok atau bergerak atas inisiatif sendiri."
Dia menilai bahwa sampai sekarang, serangan tipe 'lone wolf' atau pelaku tunggal masih tetap jarang terjadi di Indonesia.
"Definisi lone wolf bukan apakah satu orang menjadi pelakunya, tetapi apakah dia melakukan aksi itu atas inisiatif sendiri atau sebagai anggota dari kelompok yang merencanakan serangan tersebut," kata Jones.
"Anak ini katanya mungkin ikut kelompok pro-ISIS di Ciamis, dan kalau benar, ada kemungkinan itu bukan lone wolf. Afiliasi dia sebelumnya, apakah dia pernah ikut pengajian-pengajian radikal, atau apakah dia pernah jadi anggota JAT (Jamaah Ansharut Tauhid) atau pernah kerja sama dengan orang lain dari Ciamis yang sudah ke Suriah, itu semuanya harus dipikirkan," urai Jones.

Dia mengakui bahwa memang ada kekhawatiran terjadinya aksi pelaku serangan tunggal atau mandiri (lone wolf) di banyak negara lain bisa menjadi inspirasi untuk orang-orang di Indonesia.
Namun, Jones menekankan, bahwa aksi bom bunuh diri di Mapolresta Solo pada Juli 2016 -yang disebut oleh Kepala BNPT saat itu Tito Karnavian sebagai aksi mandiri- sebenarnya adalah tindakan seseorang yang menjadi bagian dari jaringan terkait terorisme.
"Yang penting sekarang ini adalah, bahwa sejak dua tahun lalu ada perintah dari ISIS Suriah untuk melakukan jihad dengan cara apa saja yang bisa (dilakukan), misal mendorong orang dari gedung tinggi atau menabrak orang dengan motor, tidak perlu pakai bom atau senjata. Pola-polanya ada juga di Indonesia," kata Jones.

'Pemikiran radikal'

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Boy Rafli Amar, mengatakan bahwa dari temuan sementara kepolisian, pelaku "terpengaruh dampak pemikiran radikal" akibat berinteraksi dengan sejumlah pihak.
Diduga kuat pelaku serangan bertindak atas inisiatif sendiri. "Dugaan sementara, dia bergerak sendiri," kata Boy Rafli pada wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari.
Karena itulah, polisi belum menemukan bukti-bukti yang mengarah keterkaitan pelaku serangan dengan jaringan teror yang ada.
"Belum ada kaitan yang rinci apakah dia bergabung dengan orang-orang jaringan teror, tapi dia pernah belajar agama di sebuah tempat di daerah Ciamis," kata Boy, tanpa merinci lebih lanjut.
Ditanya tentang temuan stiker logo kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) di pos polisi di lokasi serangan di Cikokol, Boy mengatakan, "Belum ada kesaksian yang mendukung."
Aksi penikaman yang dilatari paham pemikiran radikal sebelumnya terjadi di Medan, Agustus 2016 lalu.
Temuan polisi menyebutkan pelaku terinspirasi serangan 'aksi teror di Prancis' melalui media sosial.
Ketika itu, pelaku yang berinisial IAH berusaha menikam seorang pastur di sebuah gereja Katolik di Medan, yang melukai lengannya.
Sementara itu, menurut pengamat terorisme Taufik Andrie, pola eksekusi seorang diri ini membuat serangan berikutnya susah dideteksi dan membuat kepolisian serta intelijen seolah lambat mengantisipasi aksi teror.
"Memang ada serangkaian penangkapan dari kasus-kasus sebelumnya, tapi bisa jadi kelompok yang muncul ini adalah sel-sel baru yang tidak terkait dengan yang kemarin baru tertangkap, sehingga kemunculan sel-sel atau jaringan baru ini yang lambat diantisipasi. Apalagi kemudian pola-polanya berubah, misalnya ini ada kecenderungan lone wolf atau sendirian," ujar Andrie kepada wartawan BBC Indonesia, Mehulika Sitepu..
Dia mungkin mengalami radikalisasi baik dalam grup maupun di luar, tapi kemudian dalam proses eksekusinya sendirian, ini kan terpisah, artinya susah dideteksi yang seperti ini, merencanakan sendiri, melakukan sendiri," ujarnya.
Senada dengan Jones, Taufik Andrie juga menambahkan, bahwa para simpatisan kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam atau ISIS diperintahkan untuk melakukan serangan di mana saja, kapan saja dan dengan alat apa saja.
Andrie melihat bahwa target kelompok terorisme dalam tiga tahun terakhir adalah aparat hukum.
“Pertama, asumsi polisi adalah kafir, aparat hukum yang melindungi dan melaksanakan hukum di luar hukum Islam. Kedua, polisi ini kan banyak menangkapi teman-teman mereka, menembak teman-teman mereka. Jadi ada unsur balas dendam juga,” terang Andrie.
Beberapa serangan terorisme yang terjadi sepanjang tahun ini, seperti bom Thamrin pada Januari lalu serta bom bunuh diri di Mapolresta Solo, semuanya menyerang polisi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...