Langsung ke konten utama

Rizieq Imam Besar dan Ulama ? Kata Siapa ?

Setelah Rizieq diberi gelar “Imam Besar” entah siapa yang memberi dan siapa yang diberi tentunya gelar ini terasa kehilangan wibawannya bahkan gelar “Imam Besar” ini lebih kehilangan aspek spirtualitasnya lagi ketika adanya kasus balada cinta Rizieq.
Gelar Imam Besar semakin menjadi bahan candaan dimedia sosial akibat Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi atas kasus dugaan pornografi. Bahkan hal ini menjadi sorotan tersendiri Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar yang mengimbau agar Rizieq segera kembali ke Indonesia untuk menjalani proses hukum tersebut.
Bahkan dalam sebuah rilis detikcom (30/5/2017)  Imam Besar Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar yang juga mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini yakin Rizieq akan segera kembali ke Indonesia untuk menjalani proses hukum dugaan kasus pornografi tersebut. Sikap tersebut merupakan cerminan ulama yang baik bagi umat.
Nasaruddin juga berharap Rizieq diperlakukan dengan baik semasa proses hukumnya nanti. “Insyaallah, insyaallah (pulang ke Indonesia). Janganlah ya. Kita tidak berharap seperti itu (jemput paksa, red). Mari kita perlakukan dengan baik. Beliau itu ulama, sebagai ulama harus memberi contoh yang baik juga terhadap (umat, red). Masih ada kan alternatif hukum yang bisa kita lewati,” ujarnya.
Nasaruddin menegaskan apa yang dia sampaikan tersebut juga ditujukan untuk ulama-ulama yang lain. Dia mengatakan jalani takdir yang sudah ditentukan. Nasaruddin juga menghimbau kepada semua bahwa kita harus menjalani garis takdir kita dari Allah, seperti apa nasib kita ke depan, hanya Dia (Tuhan) yang tahu. Kita harus menerima kenyataan. Bahkan sangat elegan kalau menghadapi sesuatu itu dengan kepasrahan. Bahkan dalam rilis tersebut Imam Besar asal Sulawesi Selatan ini  yakin bahwa jika Rizieq pasrah tidak akan kehilangan umat.
Rizieq seakan kehilangan popularitasnya pasca sikap melawan hukum yang tampak tak elegan, bahkan Rizieq dianggap menjilat ludah sendiri karena disidang penistaan agama  Rizieq meminta agar Ahok ditahan karena berpotensi melarikan diri tetapi malah sebaliknya Rizieq bukan lagi berpotensi tetapi sudah melakukannya.
Namun perkembangan kita belakangan ini menjadi suatu kenyataan yang pahit pula, dimana bukan saja Imam Besarnya saja yang membuat malah mengikut pula ukuran-ukuran kecil (dalam istilah saya) ikut-ikutan membangkan terhadap hukum. Sebagaimana yang dirilis oleh VIVA.co.id tanggal 2 Juni 2017, yang diberi Judul “Korban Persekusi Diduga Dianiaya Sebelum Video Direkam”.
Sejujurnya saya,  tentu menaruh perhatian pada kata persekusi. Karena kata ini bukan saja jarang saya dengar, tapi ternyata banyak juga teman penulis yang bertanya mengenai pemaknaan kata ini.
Akhirnya saya mencoba mencari tahu kenapa sampai peristiwa ini masuk dalam kategori persekusi. Yang saya temui dari pemaknaan persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga. Nah, dari pemaknaan persekusi tersebut yang secara gamblang menyebutkan “sewenang-wenang”.
Seperti penjelasan di atas, maka penulis sampai pada satu kesimpulan sederhana kalau kejadian ini merupakan pelanggaran hukum dan tidak agamais. Persekusi yang dipraktikan oleh sekelompok imam kecil FPI ini adalah bentuk dari contoh ajaran Imam besarnya dimana mereka menganggap bahwa siapa saja yang tidak sejalan dengan mereka maka mereka akan bebas sebebasnya mengekspresikan apa yang inigin mereka lakukan terhadap orang tersebut.
Kejadian ini sampai membuat saya bingung dalam berkesimpulan. Pasalnya, akhir-akhir ini kita tak boleh berbeda pendapat. Jika kita berbeda pendapat, bisa jadi kita akan diberi hadiah materai 6.000 oleh sekelompok organisasi. Sampai-sampai saya sempat berpikir, apa sih bedanya kritikan dan penghinaan?
Kenapa kita harus takut jika berbeda pendapat? Jawabannya sederhana saja, yaitu karena tidak hadirnya negara dalam melindungi kebebasan berpendapat. Kebebasan mengeluarkan pendapat dijamin penuh oleh UUD, tetapi apa gunanya pula kebebasan berpendapat ini jika tidak dibarengi dengan perlindungan negara di dalamnya.
Ada benar juga kata sahabat saya R.Tunny yang dalam beberapa kali diskusi ia menegaskan bahwa  akhir-akhir ini banyak penghuni Nusantara gampang tersinggung dan malah cenderung baper dengan kritikan. Kritikan itu batu loncatan untuk kita berbenah.
Misalkan saja, jika ada sebagian kalangan meminta Rizieq untuk pulang, ya itu sebuah kewajaran di tengah desas-desus kasus yang saat ini sedang panas di belahan bumi nusantara ini. Jika ada pula yang mengatakan, “Rizieq tak bernyali”, itu juga kewajaran. Sebab sampai saat ini Rizieq tak kunjung pulang ke tanah air. Bahkan sahabat saya ini berkali-kali dan berkoar-koar mengatakan “ini sama sekali tak ada urusan dengan Imam besar dan umat, ini soal hukum semua sama dimata hukum”.
Terkadang saya berpikir pula justru gelar Imam besar itu seharusnya Rizieq harus hadapi apapun resikonya sebab jika ia kabur ke Arab Saudi ini sama sekali kehilangan sosok Imam besar, Imam kok bisa lari dari umatnya.
Kemudian ulama, jika Rizieq itu ulama seharusnya ia memberikan contoh yang teladan bagi kami umat seagama dengannya bukan lain di mulut lain pula yang dikerjakan, teriak Ahok kabur kok malah ulama kabur sih, eh masa sih ada ulama kabur, ulama itu tak ada yang kabur, jika kabur maka dia bukan ulama.
Sini meterai 600 saya  tempelkan, lalu tanda tangan deh….. sebab ulama itu tak boleh kabur dia harus jernih jika kabur, biarkan saja televisi saja yang kabur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...