Masa-masa yang indah penuh ketegaran
waktu itu, suaramu melengking parau seperti merobek udara dan mengancam
kebatilan, goresan tuturmu membuat kami takjub hingga engkau ajarkan
kami menggemakan takbir memenuhi media…. serasa negeri ini sudah sangat
islami, dimana-mana gema takbir melengking bahkan ketika fotomu
terpampan lebar di spanduk-spanduk pada sudut jalan itu, tulisan takbir
besarnya hampir selebar ukuran fotomu.
Hingga aku membayangkan bahwa sebentar lagi umat ini sudah berdiri antrian di pintu surga karena perjuangmu.
Saat itu banyak orang yang segan, banyak
yang bangga mendengar namamu dan ormas ini, mendengar nama kita ada
kehormatan yang membuncah, masyarakat negeri ini seperti sudah
mendapatkan sosok pemimpin yang setegar para Khalifah-khalifah Ksatria
di masa kejayaan Islam.
Tak lepas dari ingatanku saat pertama kali
kita bertemu di Bandara, ciri khas senyummu waktu itu menyejukkan
suasana bandara yang lagi sumpek, saat aku meminta foto bareng engkau
langsung mengiyakan, setelah itu engkau baru bertanya “Antum darimana?”
sontak aku jawabnya “Dari Makassar Beibe”, kita langsung akrab,
benar-benar komplit sikap luhurmu itu dulu, antara keramahan dan
ketegasan berpadu dan menempati koridornya masing-masing. Senyum lebarmu
makin mengkilap dengan pakaian dan sorban serba putih-putih, aku
melihat dirimu saat itu bagaikan malaikat yang sedang lagi piknik. Dan
tak heran beberapa jemaah yang kebetulan bertemu denganmu di Bandara
juga tak lupa cium tanganmu yang tegar itu loh.
Waktu itu tak banyak massa dan media yang
nakal memawancaraimu dan bahkan tak ada yang mengambil gambarmu yang
begitu “sexy” dengan bibir lagi mencolok keluar seperti yang banyak
beredar kini di tahun-tahun belakangan ini. Waktu itu kesederhanaan
begitu tampak sekali, tak ada iringan-iringan mobil pajero dan tak ada
banyak rombongan yang juga berpakaian putih-putih dan sepatu laras
putih, hanya beberapa orang saja dari yang tercintamu yang begitu setia
menemani. “Engkau akan pergi berdakwah amar maruf nahi mungkar” begitu
bisikku dalam hati waktu itu.
Oh…betapa gigihnya dirimu, bahkan engkau
tak lupa menceritakan kisah heroik yang jarang umat ini tahu, kegigihan
dan kesyahidan Husain Bin Ali di padang Karbala, yang mengajarkan apa
itu arti kebenaran hakiki meski nyawa harus lepas dari raganya, dan apa
arti keteguhan, dan semuanya membuat kami menangis karena belum bisa
sekuat tokoh suci yang engkau ceritakan itu. Ia adalah datukmu kan?,
tapi engkau terus menggelorakannya, mungkin karena itulah kami pun
berani dan tidak takut dengan kematian, karena dari kisah yang engkau
sampaikan itu Beib, kami pegang teguh kalimat “Pantang Hina”, apalah
artinya hidup kalau dalam keadaan hina, bagi kami umat Muhammad atau
Umat Datukmu adalah hidup dalam kemuliaan merupakan harta yang tak
ternilai, dan itulah kini harapan kami, karena itulah Husein Bin Ali
saat itu hanya menjaga agama kakeknya, yaitu Muhammad Bin Abdullah saw.
Suaramu yang parau tegas dan sangat jelas
memekikan hati dan telinga kami saat membawakan kisah sejarah yang tak
bisa kulupakan sampai saat ini. “Allahu Akbar..!!!” saat itu kalimat ini
menggetarkan tubuh dan jiwaku, aku bagaikan telah menemukan tempat
kemana jiwa ini harus kembali, tentu ke tempatnya yang mulia, karena
dari sumber yang mulia.
Oh.. akan tetapi, kini setelah lama kita
tak bertemu, ternyata wajahmu sering tampil di youtube, dan beberapa
website hingga sedikit di tivi-tivi Oon pernah meliputnya, demo pun jadi
andalanmu, dan ormasmu pun kian melebar dan subur, dan rata-rata
pengikutmu sangat militan, entah mereka bertato atau hafiz Qur’an. Aku
hanya geleng-geleng kepala, sebab segala hal engkau kritisi, dari Ariel,
desain simbol karpet yang digunakan Dewa band saat manggung, hingga bor
Inul pun engkau gerah, bahkan dari hari ke hari suara dan senyum
ramahmu sudah sulit dibedakan lagi, semuanya hanya bernada keras, aku
semakin takut dan khawatir. Dan semakin sangat keras ketika seorang Ahok
tak setuju dengan “gaya saltomu” yang sangat ekstrim itu, hampir semua
yang tak sepakat denganmu engkau serang dengan kalimat-kalimat seperti
orang kesurupan, aku sempat bertanya “Masa sih keturunan orang mulia
bisa kesurupan seperti itu?, apakah jimatnya sudah jatuh ke dasar
laut?”.
Oh.. kini aku jarang sekali melihat makna
Qur’an itu diaplikasikan, hanya sibuk simbol-simbol dan politik, meski
disetiap ceramahmu engkau gemakan takbir, dan aku pun sudah mulai bosan
dengan ceramah-ceramahmu, dan setelah kupikir-pikir ternyata engkau
manusia biasa, sangat jauh beda dengan Manusia suci itu, engkau ternyata
hanya sok suci.
Dulu ceramahmu memberikan pesan-pesan
pemberani, kini malah aku lihat engkau memperlihatkan kepengecutan
karena seperti tak berdaya membantah tuduhan-tuduhan yang engkau bilang
fitnah, tentu kami ingin melihat keberanianmu Beib, bukankah kalau orang
yang difitnah itu akan terkabul doanya?, kenapa Beib tidak berdoa
semoga negeri ini menjadi negara kuat yang tidak mudah
digoyang-goyangkan oleh politisi busuk? Dan kenapa tidak hadir saja
menemui panggilan Pak Polisi?, aku yakin dengan keberanian dan
kejujuranmu yang begitu lantang bergema engkau pasti bisa mengatasi
kasus ini. Apakah engkau memang berani dan jujur dan tegar menegakkan
amar maruf nahi mungkar seperti yang engkau suarakan selama ini?, Beib?
Do you hear me?, khaifa haluka ya Beibe?.
Tapi katanya sih engkau akan melakukan
revolusi, revolusi cinta?, ahh cinta dan tanggungjawab yang mestinya
engkau kini jalankan?, ataukah engkau punya definisi tentang revolusi
cinta itu sendiri?, ahh terlalu banyak istilah yang engkau bisa
permainkan, karena kelihaian penceramah adalah perbendaharaan kata yang
kaya, misalnya dari kata rangkul engkau bisa berpantun menjadikan
“Pukul”, ada-ada saja akhiran kata yang bisa engkau cocokkan, mungkin
itulah engkau laris di panggung-panggung pesanan para bajingan-bajingan
politik, bahkan point ideologi engkau letakkan dengan kata pantat, ini
memuakkan kan?.
Mungkin itu caramu memperlihatkan
keberanian?, tapi sekarang keberanianmu itu dimana?, apakah para
pencintamu itu yang suka mengeksekusi dan main keroyokan adalah ajaranmu
yang beraliran ideologi pengecut?, oh..jangan biarkan aku (umat) jadi
pengecut juga. Kami ingin panutan dan bersama-sama berada dalam pasukan
rahmatan lil alamin. Sepertinya engkau mungkin adalah bos pasukan
nasbung (Panasbung) dengan skala besar, bergerak hanya sesuai pemahaman
dan pesanan satu kotak ideologi fulus, sementara engkau mengaku cinta
kebhinekaan padahal kelakuan sangat ambisius tak karuan.
Ohh…ketika aku menemukan buku tentangmu
yang bercerita SISI LAIN darimu yang ditulis oleh salah satu keluargamu
dengan desain cover yang elegan, aku memeriksanya, isinya wow tentang
toleransi dan hal-hal positif, hah…kenapa bukan sisi ini saja yang
engkau lakoni? bukan sisi yang diinginkan oleh politisi busuk itu?. Tapi
publik kini hanya lihat sisi negatif saja yang sedang engkau lakoni,
dan suaramu pun seperti nyungsep ditelan bumi, padahal yang lebih enak
adalah nelan pisang manis daripada pil ulamaisasi kriminal.
Oh tidak…buku itu dicoret-coret oleh anak
kecil dengan spidol merah dan krayon, anak kecil itu mewarnai gambar
wajahmu dengan tinta hitam…sehingga nyaris aku hanya melihatnya sebagai
siluet. Oh..tidak…lagi-lagi buku itu dibawa lari kucing dan kini aku
sibuk mencarinya dimana-mana, “Dasar kucing gila, dikiranya ikan padahal
buku dengan gambar Beibe”.
Yahh…sudahlah, lupakan buku itu ahh…aku
(umat) hanya menunggu kejutan menjelang lebaran ini saja, kalau tupai
itu pandai loncat kesana-kemari namun akhirnya akan jatuh juga kan?.
Jika si Tupai sudah jatuh, maka si Kucing makin garang saja, dan si
Tikus akan terbirit-birit mencari tempat persembunyian yang paling
rahasia.
Oh..Beibe.. please deh…jangan bersaing
dengan Bang Toyyib, engkau kan pemberani, bagaikan singa padang pasir?,
kalau tidak berarti engkau macan ompong seperti yang digambarkan meme
itu.. uhuk..uhuk..uhuk…
Komentar
Posting Komentar