Langsung ke konten utama

Internet dan Bahaya Terorisme Lone Wolf

https://mmc.tirto.id/image/otf/860x/2017/02/27/TIRTO_2053lonewolf.JPG
Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius mengatakan, fenomena lone wolf dalam gerakan terorisme tidak bisa dipandang sebelah mata. Lone wolf merupakan istilah teror yang tidak memiliki jaringan dan bergerak tidak terorganisir.

Dia mencontohkan lone wolf yang diamankan BNPT, yaitu seorang pemuda dari salah satu daerah di Jawa Barat.

Remaja itu diketahui kerap berkomunikasi dengan Muhammad Bahrunnaim, anggota ISIS asal Indonesia yang terindikasi menggerakkan beberapa teror di Indonesia dengan sasaran aparat.

"Sekarang sudah kita amankan, bayangkan saja sejak dia kelas 5 SD sampai kelas 1 SMA online dengan Bahrunnaim, sampai dia bisa buat bom asap, tinggal bom yang lain saja," kata Suhardi.

Suhardi mencontohkan kasus Ivan, bomber Gereja Santo Yosep, Medan, Sumatera Utara. "Dia berbaiat sendiri, brain washing dilakukan di internet," kata mantan Kabareskrim ini.

Menurut Suhardi, remaja yang tengah berkembang dan emosional serta mencari jati diri adalah sasaran kelompok teror dalam menyusupkan paham radikal. Tidak usah bertatap muka, cukup dengan  teknologi informasi paham radikal disusupkan.

"Dulu mungkin sifatnya segmentasi, baiat offline, tatap muka. Sekarang dengan teknologi informasi, dunia dalam genggaman. Ini yang musti diwaspadai, dengan teknologi informasi seperti itu tidak ada lagi ruang-ruang privat," jelas Suhardi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Dalam Beragama, Rujukan Pertama Adalah Google Terakhir Al Qur’an

By Rohmat Tri Santoso   Sebenarnya, kita adalah makhluk-makhluk bodoh yang mau-maunya memiliki agama. Untuk menjadi pengikut pada suatu agama, termasuk Islam. Kita harus memutar otak dua puluh empat jam non stop. Merenungi. Menghayati, dan memaknai ajaran-ajaran dalam agama tersebut. Beragama. Berarti kita harus mengulik. Membedah rahasia tuhan. Menyingkap tabir yang tertutupi. Menemukan rumus-rumus tuhan. Demi mengenalnya lebih jauh. Demi memantapkan dan membimbing jiwa kita mengahadapi hidup yang njelehi ini. Cusssss. Gedeblug…. Tuhan menurunkan kitab suci pembimbing manusia ke bumi. Untuk menemukan rumus-rumus tuhan. Manusia perlu menelaah kitab suci sebagai buku manual untuk lebih dekat dengannya. Untuk mengetahui mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah. Tapi ternyata eh ternyata. Kitab suci itu terlalu kecil sebagai sumber pemaknaan tuhan. Manusia tetap harus memutar otaknya, m...