Langsung ke konten utama

Boni Hargens: Dipimpin Budi Gunawan, BIN Bertransformasi Semakin Maju

Boni Hargens: Dipimpin Budi Gunawan, BIN Bertransformasi Semakin Maju

Jakarta  – Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Boni Hargens menilai Budi Gunawan sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) merupakan pemimpin yang transformatif. Budi Gunawan yang akrab disapa BG fokus pada bagaimana melakukan transformasi kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan peningkatan kinerja.

“Saya melihat BIN justru mengalami banyak kemajuan di tangan Pak BG,” kata Boni, Rabu (21/6).

Menurut Boni, di bawah kepemimpinan BG saat ini, BIN memadai dalam memprediksi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan (ATGH). BIN juga dapat merespon dengan cepat ATHG seperti ledakan bom di Kampung Melayu dengan memberi sinyal berupa informasi, namun eksekusi ada di tangan penegak hukum.

Boni menambahkan, BG juga tipe pemimpin yang visioner. BG selalu berpikir sekaligus tentang masa depan lembaga dan manusia di dalamnya. Mengenai loyalitas BG pada negara dan presiden sebagai single user juga sangat jelas.

“Saya amati, sejak beliau di Polri, ada konsistensi yang kuat dalam gaya kepemimpinan Pak BG. Fokus pada perubahan nyata. Hampir pasti dimanapun Pak BG ditugaskan, niscaya selalu ada perubahan nyata yang besar dan berdampak jangka panjang,” ujar Boni.

Mengenai aksi demo yang sempat marak dengan jumlah massa yang besar menjelang Pilkada Jakarta, Boni mengatakan kontra intelijen perlu lebih keras. Petunjuk dan arahan Kepala BIN mesti dijalakankan dengan cepat dan tepat. Birokrasi BIN harus menjadi contoh kerja birokrasi yang efektif efisien dan sesuai semangat nawacita yaitu kerja cepat untuk negara.

Meski demikian, sambung Boni, setelah aksi 411 ada perubahan drastis di tubuh birokrasi BIN.

“Pak BG dan Wakabin memaksa semua deputi bekerja keras, cepat, dan tepat sasaran. Monitoring di semua lini juga dilakukan. Semua biro dipaksa bergerak cepat. BIN belajar banyak dari kritik publik terkait aksi 4-11,” tutur Boni.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...