Langsung ke konten utama

Akhirnya Jokowi Menundukkan GNPF-MUI

http://news.netmedia.co.id/wp-content/uploads/2017/06/jokowi-gnpf-mui-yusuf.png
Pertemuan Jokowi dengan GNPF-MUI sangat mengejutkan, bagai petir di siang bolong tanpa ada tanda akan turun hujan. Saya awalnya mengira berita itu hanya hoax, ternyata benar dan valid bahwa Presiden Jokowi menemui GNPF-MUI.
Kebesaran hati Jokowi
Ada dua hal yang saya perhatikan. Pertama, menepis dugaan bahwa Jokowi dan pemerintah membenci golongan Islam tertentu atau lebih lagi, membenci Islam. Jika ada yang mau menepis kesimpulan saya ini silakan saja. Tetapi nyatanya memang pihak GNPF-MUI-lah, yang berkaitan dengan kasus Ahok, yang menuduh presiden membela penista agama. Kemudian menuduh pemerintah dan tentu termasuk Jokowi sebagai pemimpinnya, mengriminalisasi ulama dan anti-Islam. Tidak hanya itu, mungkin memang bukan GNPF-MUI, tetapi simpatisan dan pengikut mereka, termasuk Riziek dan yang lain menuduh bahwa pemerintah dan istana sebagai sarang PKI. Kejam dan keji bukan?
Bahkan tuduhan-tuduhan itu sampai membuat Jokowi harus mengeluarkan ultimatum yang sangat menggemparkan, ‘gebuk’. Jokowi sampai mengeluarkan ketegasan dalam kata, yang menurut sejarah adalah kata keramat bagi siapa saja yang mendengarnya.
Tetapi Jokowi menunjukkan kebesaran hatinya lewat pertemuan dengan GNPF-MUI. Jokowi mau menunjukkan sikap seorang pemimpin yang siap menerima kritik dan sekaligus berani menerima segala perbedaan yang ada. Bahkan seolah tuduhan-tuduhan keji dan kejam sebelumnya tidak pernah ada. Tidak mudah bertemu dengan orang yang menuduh kita macam-macam.
Kedua, Jokowi mengistimewakan GNPF-MUI. Menurut sumber berita yang diperoleh dari media bahwa waktu pertemuan yang diluangkan Jokowi kepada GNPF-MUI adalah waktu yang seharusnya waktu istirahatnya. Tetapi demi pertemuan itu, Jokowi merelakan waktu istirahatnya untuk para wakil organisasi kemasyarakatan berbasis keagamaan ini. Suatu cara menghargai yang sangat istimewa.
Pokok pembicaraan pertemuan Jokowi dengan GNPF-MUI
Masih menurut berita bahwa pertemuan itu dilakukan selain untuk silaturahmi di Hari Raya Idul Fitri, juga GNPF-MUI mau menyampaikan aspirasi kepada presiden, serta untuk menjalin informasi yang lebih kondusif. Sementara Jokowi, sebagaimana biasanya pasti menyampaikan tantangan-tantangan yang sedang dihadapi bangsa ini, juga memberi masukan kepada GNPF-MUI.
GNPF-MUI juga ternyata mengapresiasi kerja keras pemerintah dalam membangun bangsa dan negara ini. Jelasnya mereka mengapresiasi revolusi agraria ala Jokowi sebagai wujud nyata keberpihakan pemerintah terhadap warganya.
Jadi tidak ada yang baru soal pokok pertemuan dengan GNPF-MUI. Sama saja dengan pertemuan dengan para pemuka agama dan organisasi lainnya. Berbicara soal bangsa dan negara, sebagaimana laiknya seorang presiden berbicara kepada masyarakat lainnya.
GNPF-MUI tanpa Riziek maih mungkin berkontribusi bagi Indonesia
Ternyata pertemuan Jokowi dengan GNPF-MUI tidak seperti yang dibayangkan banyak orang selama ini. Pertemuan berjalan dengan cair. Juga tidak seseram yang orang pikirkan selama ini. Bahkan bisa dikatakan bahwa pertemuan ini berlangsung laiknya seorang presiden dengan rakyatnya.
Tetapi menurut saya ini justru menjadi ganjil dan mengherankan. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang sebelumnya terjadi. GNPF-MUI, yang sebelumnya sangat gencar melayangkan tuduhan dan kecurigaan terhadap pemerintah, ternyata bungkam di hadapan presiden. GNPF-MUI, yang selama ini meminta rekonsiliasi, hanya ingin membangun komunikasi dengan presiden dan pemerintah.
Benarlah apa yang saya ungkapkan dalam tulisan saya sebelumnya mengenai rekonsiliasi pemerintah dengan GNPF-MUI, tidak diperlukan sama sekali. Sebab memang antara presiden dan pemerintah dengan GNPF-MUI tidak ada persoalan apa-apa. Tidak dibutuhkan rekonsiliasi apa pun. Bahkan GNPF-MUI-lah yang seharusnya meminta maaf kepada presiden dan pemerintahan karena sudah menuduh dan mencurigai bahkan menghina.
Tetapi apakah situasinya akan sama jika Riziek ada di antara mereka? Apakah presiden akan mau menemui mereka? Saya kira akan sangat berbeda. Tidak mungkin presiden menemui buronan, sekalipun Bersama dengan GNPF-MUI. Mungkin juga GNPF-MUI tidak akan menemui presiden jika Riziek ada di antara mereka, sebab Riziek pasti tidak mau menemui orang yang dianggapnya goblok, ya kan. Sementara Jokowi pasti mau menemui siapa saja yang ingin bertemu dengannya kecuali bertentangan dengan prosedur yang ada. Dan saya kira, kurang bijaksana jika seorang presiden bertemu dengan buronan. Hanya wakil presiden kita saja yang mau bertemu buronan India, Zakir Naik. Upss…
Jadi menurut pandangan saya, GNPF-MUI tanpa Rizieq bagai tanaman yang sedang bertumbuh, akan mungkin menghasilkan buah atau layu sebelum berbunga. Artinya mungkin saja semakin baik dan membantu pemerintah untuk membangun bangsa, entah dengan kritik membangun pun juga dengan dukungan sepenuhnya. Dan mungkin juga akan menjadi tak berguna, sebab dari antara mereka sudah terlanjur dianggap sebagai penganut Islam radikal
Tetapi jika ada Rizieq, sudah dipastikan akan menjadi ancaman bagi bangsa. Saya punya alasan untuk itu. Sebagian besar fenomena menegangkan yang terjadi selama ini diawali dari ceramah Rizieq, lalu didukung kawanannya. Mau membantah? Siapa yang menyebut presiden goblok, ya Rizieq; siapa yang menuduh Menteri agama sesat, ya Rizieq; siapa yang mengerahkan demo untuk mengultimatum pemerintah agar segera memproses Ahok, ya Rizieq; siapa yang dituduh menghina Soekarno, ya Rizieq; siapa yang menuduh pihak BI disusupi PKI dengan alasan lambang uang kertas Rupiah ada lambang palu-arit yang adalah lambang PKI, ya Rizieq.
Jokowi menundukkan GNPF-MUI
Tanpa banyak kata-kata, Jokowi berhasil menundukkan GNPF-MUI. Jokowi tidak perlu mengerahkan kekuasaannya demi menundukkan. Bahkan terkesan Jokowi menundukkan GNPF-MUI dengan tidak menganggapnya bukan apa-apa. Ketika mereka ribut ini-itu, Jokowi diam. Ketika mereka tuduh ini-itu, Jokowi ya diam. Jokowi hanya memerintahkan jajarannya bekerja dengan cepat, baik dan profesional, maka dengan sendirinya lawan-lawan bertekuk lutut.
Jokowi memerintahkan POLRI tidak tebang pilih, maka Rizieq, imam besar FPI, sang orator bermulut jamban pun harus diproses hukum terkait kasus pornografinya sesuai undang-undang dan prosedur yang berlaku. HTI mengikrarkan akan mendirikan negara khilafah di Indonesia, yang bertentangan dengan Pancasila, maka harus dibubarkan karena organisasi anti-Pancasila.
Jokowi juga memerintahkan KPK sebagai bagian dari penegak hukum khusus korupsi, maka aliran dana-dana siluman pun diselidiki. Maka ada OTT, dan tentu melanjutkan kasus yang sudah pernah ada. Akibatnya, nama Amin Rais, yang juga sangat lantang menentang kebijakan pemerintah, disebut dalam persidangan tindak pidana korupsi. Juga KPK sedang mengusut e-KTP yang mungkin akan menjerat beberapa oknum DPR.
Kalau sudah seperti ini, apakah GNPF-MUI akan mau coba-coba lagi menentang atau menuduh presiden dan pemerintah dengan sesuka udel-nya, terserah apa kata mulutnya? Saya kita tidak. Mereka akan dengan sendirinya bertekuk lutut dan mohon-mohon untuk mengamankan posisi. Sebab semakin mereka melawan dan meronta, semakin mereka lemah dan terpuruk.
Kesimpulan: tentang langkah Jokowi
Langkah Jokowi sudah tepat. Menerima siapa saja yang ingin ikut berkontribusi terhadap pembangunan dan pemajuan bangsa dan negara ini. Entah itu mereka yang selama ini bertentangan dengannya entah yang sejalan, selama ingin ikut ambil bagian dalam melaksanakan kewajiban sebagai warga negara untuk memajukan bangsa, harus dirangkul dan diajak bekerja sama.
Langkah Jokowi adalah langkah yang brilian, menerima GNPF-MUI pada saat yang tepat, ketika merayakan Idul Fitri. Ketika umat Islam merayakan kemenangan atas dosa, kemenangan atas kejahatan dan kebencian, maka siapa pun yang ingin silaturahmi pada saat ini pasti berniat baik sehingga harus diterima dengan hati dan nurani yang bersih dan tulus. Jika ditolak akan mendatangkan azab dari Allah.
Langkah Jokowi, tanpa diniatkan, sekaligus membuat tidur malam lawan politik tidak lagi tenteram. Mereka pasti sedang gundah gulana, sebab yang selama ini menjadi kawan, sedang rawan menjadi lawan. Pasti mereka akan memperhitungkan hilangnya berapa persen suara jika saja GNPF-MUI berpihak kepada Jokowi, apalagi setelah pertemuan tadi mengapresiasi hasil kerja Jokowi.
Salam dari rakyat jelata
https://news.detik.com/berita/d-3541809/pertemuan-jokowi-dan-pimpinan-gnpf-mui-berlangsung-cair
http://nasional.kompas.com/read/2017/06/25/14380571/ini.kronologi.pertemuan.mendadak.jokowi.dengan.pimpinan.gnpf-mui
http://nasional.kompas.com/read/2017/06/25/19183851/gnpf-mui.sebut.pertemuan.dengan.jokowi.langkah.awal.rekonsiliasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...