Langsung ke konten utama

WASPADA AMBISI HASUTAN SIDANG ISTIMEWA PENGKHIANAT NKRI



Sejak september 2017 ini seorang aktifis yang mengaku sebagai Ketua Umum Musyawarah Rakyat Indonesia Yudi Syamhudi Suyuti begitu bersemangat mendesak DPR dan MPR melakukan Sidang Istimewa untuk memakzulkan Presiden Joko Widodo.
Alasan pemaksulan Presiden Jokowi menurut Yudi adalah karena seringnya pemerintah Jokowi menyatakan bahaya teroris di Indonesia oleh kaum radikal sehingga dunia akan melihat Indonesia sebagai ancaman yang patut diwaspadai.
Akibat bahaya teroris di Indonesia ini menurut Yudi seperti tulisannya di inapos dotcom maka Indonesia akan membuka gerbang pertahanannya untuk memberi jalan kepada pasukan China masuk ke Indonesia.
Entah apa di pikiran seorang Yudi yang juga penyanjung berat tokoh radikal Sri Bintang Pamungkas itu, sehingga dengan mudah menganggap Indonesia dapat memberi jalan kekuatan asing masuk begitu saja ke Indonesia.
Disini Yudi tidak melihat bahwa Indonesia adalah negara terdepan dalam memerangi teroris. Berbagai perangkat hukum dan lembaga telah dibentuk sehingga Indonesia bahkan sering menjadi rujukan dunia untuk memerangi terorisme.
Sosok Yudi yang sering mencari perhatian masyarakat ini sebenarnya berlatar belakang politik sebagai caleg gagal dari Partai Gerindra. Yudi menjadi caleg no urut 6 di daerah pemilihan Jawa Tengah 6 pada pemilihan legislatif 2014 lalu.
Sebelumnya Yudi juga sebenarnya calon pesaing Jokowi di Pemilihan Gubernur DKI untuk menerima tiket dari PDIP. Dengan menjual nama ayahnya Zorkowi Soeyoeti yang adalah mantan Duta Besar RI untuk Arab Saudi tahun 1997 – 1999, Yudi dengan kepercayaan diri besar menyatakan mampu maju karena mengaku telah melakukan konsolidasi internal dengan tiga Pimpinan WIlayah PDIP Se Jakarta Raya.
Dukungan gamblang untuk menjadi B 1 DKI menurutnya telah didapatkan dari Ketua DPC PDIP Jakarta Selatan Gembong Warsono dan Sekretarisnya Simon AM Sitorus. Namun malang ternyata dari DPP PDIP Ketua Umum Megawati ternyata memilih seorang kader PDIP yang cemerlang dan berprestasi dari Solo bernama Joko Widodo.
Hingga saat ini seorang Yudi bersama Istrinya Nelly Juliana Rosa Siringo ringo tetap aktif melakukan berbagai gerakan perlawanan dan oposisi tidak sehat karena selalu melakukan kritik berdasarkan asumsi dan spekulasi pribadi tanpa memperhatikan aturan perundang-undangan maupun hukum positif yang berlaku.
Pasangan Yudi dan Nelly pun adalah sosok yang unik, dilihat dari track record Nelly istrinya yang mengaku sebagai anggota Jasmev 2012 lalu, namun lucunya sosok suaminya adalah pesaing dari Joko Widodo sendiri. Massa mereka kebanyakan adalah pendukungnya di media sosial yang kemungkinan besar adalah juga akun-akun yang diadmin sendiri. Mengingat seorang ketua Saracen seperti Jasriadi saja mampu mengadmin hingga 800 ribu akun.
Pasangan beda agama ini pun sejak 2016 lalu aktif mendompleng gerakan GNPF MUI dalam aksi-aksinya. Namun karena disadari dapat menjadi penumpang gelap dan tidak layak dianggap satu barisan sehingga perlahan disingkirkan. Bahkan sempalan GNPF MUI yang menamakan dirinya Presidium Alumni 212 juga menolak kehadiran mereka saat akan menunggangi aksi 299 September lalu.
Gaya propaganda Yudi Syamhudi Suyuti yang merupakan anak dari pejabat Orde Baru ini tentu setiap saat harus diwaspadai masyarakat. Gaya penumpang gelap untuk mendompleng dan memprovokasi isu PKI, isu keberpihakan pemerintah kepada Cina dan isu kriminalisasi ulama selalu dihembuskan untuk kepentingan sendiri yakni menciptakan negara sendiri, Negara Rakyat Nusantara.
Ambisi untuk menciptakan Negara Rakyat Nusantara ini tentunya merupakan wacana makar gamblang dan terbuka dari sosok seorang Yudi Syamhudi Suyuti, dan jelas-jelas seorang yang patut diwaspadai karena sikap Anti dan khianat terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...