Langsung ke konten utama

NORWEGIA MENILAI INDONESIA SEBAGAI NEGARA KEHIDUPAN KEAGAMAAN YANG BAIK

Pemerintah Norwegia menilai, Indonesia sebagai negara dengan kehidupan keagamaan yang baik, serta proses pembinaannya diarahkan dalam upaya deradikasilisasi dalam menjaga kerukunan dan perdamaian.
“Selama 12 tahun menjalin kerja sama dengan Indonesia, Norwegia senantiasa mengapresiasi perkembangan agama yang ada di Indonesia serta melindungi agama yang ada di dalamnya,” ujar Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Mr Vegard Kaale saat bertemu dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Kantor Kemenag Jalan M.H. Thamrin No. 6 Jakarta, kemarin.
“Ini merupakan tugas pertama saya di Indonesia, dimana salah satu negara muslim terbesar di dunia oleh karenanya saya harus banyak belajar dan ingin terus memahami apa saja yang ada di sini,” ungkap Vegard.
Vegard juga menanyakan bagaimana upaya pemerintah Indonesia khususnya Kementerian Agama dalam mencegah dan menyikapi isu-isu radikalisasi yang berkembang atas pengaruh paham luar yang tidak sesuai dengan idelogi bangsa Indonesia.
Menjawab pertanyaan toleransi agama di Indonesia, Menag Lukman mengatakan, bahwa agama di Indonesai memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Sehingga, kata dia, peranan Kementerian Agama adalah membangun harmoni umat beragama serta melindungi semua warga negaranya tanpa melihat suku dan agamanya.
Lukman juga mengatakan, bahwa negara tidak mengatur sampai pada tatacara peribadatan dari masing-masing agama. Namun, yang diatur pemerintah bagaimana kehidupan agama yang berbeda-beda ini tidak menimbulkan hal-hal negatif atau desdruktif, bahkan sebaliknya untuk membangun sinergi.
“Dalam isu radikalisme, Indonesia memiliki pengalaman dan pesan penting bagi dunia. Indonesia punya realitas yang berbeda dengan negara lain, Indonesia terkenal dengan bangsa yang sangat relegius sehingga memiliki cara menyikapi redikalisasi dengan mengembalikan esensi dan substansi agama pada tatanan sebenarnya,” ucap Lukman.
“Moderasi agama, diharapkan dapat mengembalikan agama pada subtansi dan esensi sesungguhnya, tidak memberi ruang terhadap prilaku radikalisasi atau ekstremisme, karena di setiap agama diajarkan untuk toleransi menghargai setiap sesama,” lanjutnya.
Menag mengakui, ada paham-paham radikalisasi yang berkembang di Indonesia dan itu terbawa dari paham luar. Oleh karenanya, sosialisasi secara masif terus dilakukan dengan memberi kesadaran bagi mereka-mereka yang terindikasi paham tersebut bahwa alasan agama melakukan tindakan radikal tidak dibenarkan.
Menurut Menag, Kemenag dan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) terus bersinergi dalam upaya pencegahan paham radikalisasi. BNPT yang merupakan badan khusus mencegah perilaku paham tersebut berkembang di Indonesia dengan strategi yang dilakukan memberikan penyadaran.
“Bahkan kita ajak para mantan (mereka yang teradikalisasi) untuk membantu menyosialisasikan secara masif dan memberi kesadaran bagi mereka yang masih memiliki paham radikalisme,” ucapnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...