Langsung ke konten utama

PEREKONOMIAN INDONESIA DAPAT MENGUAT AKIBAT PERPUTARAN UANG PILKADA

Jakarta – Perekonomian Tanah Air pada 2018 diperkirakan lebih baik dibandingkan tahun ini, meskipun tahun depan terjadi pemilu.
Menurut PT Schroder Investment Management Indonesia, perputaran uang dari proses Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) seperti kampanye dapat membantu meningkatkan perekonomian Indonesia tahun depan.
Head of Intermediary Business, Schroders Investment Management Indonesia Teddy Oetomo mengatakan, puncak arus uang dari Pilkada justru akan terjadi tahun depan, bukan saat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.
“Konklusinya tahun depan lebih baik. Pertama, karena ada kampanye Pilkada dan kalau itu enggak usah lihat Pilpres 2019. Tahun depan Pilkada juga lebih banyak dari 2017, uangnya mutar lebih banyak sekalian kampanye 2019,” katanya di Jakarta, Jumat (13/10/2017).
Menurutnya, Pilkada tahun depan sangat krusial bagi dunia politik, mengingat ada tiga wilayah penting sebagai sumber perekonomian yang akan menentukan kepala daerahnya.
“Tahun 2018 penting, ada Pilkada Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat. Ketiganya 40% dari total populasi, sudah nyolong start untuk 2019. Dana kampanye juga cukup berarti, tiga wilayah ini merupakan 30% ekonomi Indonesia, keangkat 30%,” tutur dia.
Teddy mengungkapkan, pada tahun depan polanya memang berbeda dari edisi Pilpres 2004 dan 2009. Di mana, setahun sebelumnya perekonomian melemah, kali ini meski Pilpres berlangsung 2019, pengaruhnya lebih banyak saat 2018.
“Sering saya dapat pertanyaan kampanye setahun sebelum Pilpres, ekonomi enggak bagus. Kalau kita lihat ekonomi memburuk sebelum 2014 dan 2009, pergerakan PDB sebelum Pilprea turun tapi setelahnya naik,” jelasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...