Langsung ke konten utama

DARMIN MENGUNGKAPKAN PERTUMBUHAN EKONOMI BERJALAN KE ARAH YANG POSITIF

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, memastikan kondisi perekonomian Indonesia saat ini sudah masuk dalam kondisi yang baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, fondasi ekonomi yang dicanangkan pemerintahan Jokowi-JK untuk pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.
Darmin menerangkan, pemerintah berusaha mengkoversi subsidi menjadi pengeluaran untuk membangun infrastruktur, bantuan sosial, dan pendidikan.
“Infrastruktur di negara kepulauan adalah infrastuktur yang menyebar di seluruh wilayah Indonesia. Ini juga menjadi fondasi untuk pemerataan minimum antar wilayah,” ujarnya di Gedung Bina Graha, Kantor Staf Presiden, Jakarta, Selasa (17/10/2017).
Sementara, lanjut dia, pemerataan antar daerah dipenuhi pemerintah melalui bantuan sosial. “Jadi, pemerintah mengorbankan subsidi untuk menggenjot pembangunan infrastruktur, pengeluaran bantuan sosial dan belanja pendidkan,” terang dia.
Darmin menungkap bahwa dalam tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK, pemerintah berhasil mengendalikan pertumbuhan ekonomi semakin membaik. Sejak 2013, pertumbuhan bergerak melambat seiring gejolak ekonomi dunia.
“Pertumbuhan ekonomi yang tadinya sudah mulai melambat dan bahkan dari tahun 2013 ke 2014 melambat. 2015 itu kelihatan sudah tercapai, dia mulai membaik menjadi lebih cepat lagi,” ujar Menko Darmin.
Secara rinci, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 2013 berada pada angka 5,56 persen. Kemudian, mengalami perlambatan pada 2014 menjadi sebesar 5,01 persen. Pada 2015, menurun tajam mencapai angka 4,88 persen.
“Lalu pada 2016 pemerintah melakukan beberapa langkah perbaikan, kita kemudian meraih pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 sebesar 5,02 persen. Tahun ini kita harapannya bergerak di sekitar 5,2 persen,” jelas Menko Darmin.
Menko Darmin menambahkan, dalam tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK, laju inflasi juga mengalami penurunan dari 4,49 persen year on year (yoy) pada September 2014 menjadi 3,72 persen (yoy) pada September 2017.
Di 2017, kata Darmin, pertumbuhan ekonomi akan bergerak di tingkat 5,2%-5,4%. Bukan perkara yang mudah untuk merealisasikan hal ini, apalagi perekonomian Indonesia masih bergantung dengan ekonomi dunia.
Lanjut Darmin, membaiknya kondisi perekonomian Indonesia juga dapat dilihat dari menurunnya indikator-indikator pembangunan ekonomi seperti kemiskinan, ketimpangan pendapatan, dan pengangguran.
Pembangunan yang dilakukan pemerintah cukup seimbang sehingga pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan, gini ratio berjalan ke arah yang positif.
“Tingkat pengangguran tidak 100% konsisten, tapi tendensinya sejak Agustus 2015 kelihatan jelas menurun, gini rasio malah dari September 2014 dia menurun, sebenarnya indikator ini umum yang dipakai,” papar dia.
Jika berdasarkan data, untuk kemiskinan hingga Maret 2017 sebanyak 27,77 juta orang atau 10,64% dari seluruh penduduk, atau mengalami penurunan 0,22% dari September 2016 yang sebesar 10,67%.
Untuk gini rasio juga saat ini berada di posisi 0,393 turun dari sebelumnya 0,394. Begitu juga dengan pengangguran yang menurun 0,17% menjadi 5,33% dari Agustus 2016 yang berada di level 5,61%.
“Realisasi inflasi 2017 juga diperkirakan berada pada kisaran sasaran 3,5 persen plus minus 1 persen. Inflasi pangan dari tahun ke tahun lebih terkendali sejalan dengan perkembangan jumlah TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah),” kata Darmin.
Darmin memaparkan bagaimana pemerintah berupaya membuat angka inflasi Indonesia untuk mampu sejajar dengan negara-negara maju.
Sejak lebih terbukanya arah perekonomian Indonesia, secara konsisten Inflasi mulai turun. Namun belum sesuai dengan yang diharapkan. Bahkan kata Darmin, lima tahun lalu inflasi selalu di target tidak lebih rendah dari 4%. Baru di masa kepemimpinan Jokowi-JK, pemerintah berani menargetkan inflasi di bawah 4%.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...