Langsung ke konten utama

SURVEI MEMBUKTIKAN TINGKAT KEPUASAN PUBLIK TERHADAP KINERJA JOKOWI-JK NYATA MENINGKAT


Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, terlihat jelas bahwa pemerintah membawa pertumbuhan ke arah yang positif. Mayoritas responden dalam survei yang dilakukan secara periodik oleh Kompas menilai bahwa program-program dijalankan dengan baik.
Walaupun berbagai guncangan politik dan sosial yang dihadapi saat ini, namun Presiden Jokowi tetap konsisten dan fokus terhadap perencanaan dan pelaksanaan program pemerintah tersebut.
Terbukti dalam hasil survei yang menggambarkan adanya lonjakan apresiasi atas kinerja pemerintahan Jokowi-JK yang naik signifikan dibandingkan denan survei yang digelar tahun 2015 dimana saat itu, apresiasi publik tercatat 65,1 % kini angka tersebut berada di 70,8 %.
Prestasi ini tidak terlepas dari kemampuan pemerintah mengendalikan gejolak politik dan isu ekonomi.
Di bidang politik, rata-rata apresiasi mencapai 72%. bidang kesejahteraan 65% dan ekonomi 45%.
Secara umum disegala bidang mengalami peningkatan kepuasan publik terhadap pemerintah saat ini secara drastis.
Di bidang ekonomi mengalami kenaikan sebesar 9,1% dibandingkan sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa sejumlah isu ekonomi mulai dari hutang, target pajak dan daya beli dapat dikoreksi dan diluruskan dengan baik di ruang publik dimana berbagai manfat yang secara nyata dirasakan oleh masyarakat.
Isu ekonomi yang paling banyak diapresiasi publik yakni soal pemerataan pembangunan yang dinilai sangat berhasil hingga saat ini. Sebanyak 70,3% responden menyatakan puas terhadap kinerja pemerintah. Apalagi dengan komitmen Jokowi membangun mulai dari daerah dan desa terpencil, terdepan dan terluar Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...