Langsung ke konten utama

Daya Beli Menurun? Hanya Orang Ketinggalan Jaman yang Percaya

Saya mau sharing sedikit obrolan saya dengan dengan seorang pengusaha UKM yang ngakunya sih omset per bulan bisa 50 juta sampai 100 juta.
Sambil santai kita ngobrol-ngobrol berdua disebuah cafe tempat ngopi yang terkenal. Yah namanya juga Batman ketemu pengusaha, masa ngopinya di warung kopi macam si abang penulis yang pecandu kopi itu dan hobi ngutang.
Nah saya iseng tanya soal penjualannya, kebetulan dia ini pengusaha yang awalnya bergerak lewat online dan kini mulai juga memasok produknya ke sebuah Supermarket terkenal.
“Gimana usahanya sekarang? Bagus?” Tanya saya sambil mengaduk-aduk kopi di meja menggunakan sedotan coklat yang tipis itu. Saya suka heran kenapa tempat ngopi semahal ini gak ada sendok untuk ngaduk sih? Warung kopi tempat si abang itu aja ada sendok kecil buat ngaduk.
“Alhamdulillah bagus, pesenan sih ada aja tiap hari.” Jawabnya sambil bersandar santai.
“Pesenan makin ramai dong sekarang, kan udah masuk Supermarket se-Jabodetabek”. Ujar saya.
“Nah itu yang aneh….” Wajahnya berubah menjadi agak serius, tubuhnya ia condongkan kedepan.
“Sehabis lebaran kemarin, saya tarik semua produk saya dari Supermarket”. Lanjutnya.
“Loh kenapa?” Tanya saya penasaran.
“Penjualannya gak bagus disana, tapi anehnya penjualan lewat online justru meningkat.” Ia mengambil gelas kopi yang terbuat dari kertas itu. Ah lagi-lagi warung kopi si abang penulis tukang nyeruput kopi gelasnya lebih keren, dari kaca.
Setelah ia menyeruput kopinya, lalu ia melanjutkan.
“Sepertinya orang-orang memang sudah berubah cara belanjanya. Mereka lebih suka belanja online trus dianter pesenannya pakai kurir. Nah si Gojek ini yang benar-benar mendorong orang untuk belanja online. Gojek itu seperti kamu punya supir yang bisa kamu suruh beli-beli barang.”
Penetrasi internet di Indonesia yang tinggi, kemajuan teknologi informasi, dan kehadiran kurir sejenis Gojek, JNE, dan sejenisnya membuat orang bisa memesan barang dari rumah aja. Daripada keluar rumah ketemu macet, apalagi sekarang lagi jaman demo kode nomor buntut yang selalu bikin macet itu. Belum cari parkiran, panas, dan sebagainya….ribet!
“Tapi kan orang-orang biasanya hanya belanja yang bukan kebutuhan sehari-hari kalau lewat online, sementara untuk keperluan belanja bulanan mereka tetep beli ke Supermarket dong.” Tanya saya.
“Nah itu, saat ini sih orang-orang beli keperluan bulanan masih di Supermarket. Tapi untuk produk-produk yang bukan sejenis pasta gigi, sabun, dan keperluan bulanan lainnya, mereka cenderung beli online. Padahal orang itu kalau belanja ke Supermarket pasti ujung-ujungnya dia akan beli lebih banyak dari yang dia rencanakan. Karena memang Supermarket didesain untuk itu, supaya orang beli macem-macem.”
“Apalagi kalau ibu-ibu yang belanja, niatnya cuman beli roti tapi keluar-keluar satu trolley penuh, ada telor, makanan kucing, rendang kemasan, sapu baru, dan sebagainya”, lanjutnya.
Saya menyeruput kopi yang harganya sama dengan dua kali makan di warung nasi itu, lalu saya menyambung ucapan dia, “Sementara kalau online orang hanya belanja yang ia butuhkan saja yah? Gak beli macem-macem lagi”.
“Betul” Jawabnya. “Itu kenapa produk saya yang sifatnya bukan keperluan bulanan jadi turun penjualannya di Supermarket tapi tetap dicari orang lewat online”.
Kemudian saya pun jadi teringat soal bank-bank di Eropa yang menutup kantor cabangnya karena sepi. Konsumen saat ini lebih suka melakukan transaksi online ketimbang langsung ke kantor cabang.
Belakangan memang ramai retail yang mengaku rugi, ada yang mem-PHK cukup banyak pegawainya, bahkan ada yang tutup. Toko-toko juga banyak yang tutup karena merugi. Fenomena ini kemudian digoreng oleh lawan-lawan politik Jokowi dan mengatakan daya beli masyarakat menurun.
Sementara transaksi online justru meningkat pesat, tokopedia contohnya.
“Bisnis kami tetap mengalami peningkatan di setiap tahunnya. Saat ini di Tokopedia terdapat jutaan merchants yang menghasilkan lebih dari Rp 1 triliun per bulan lewat lebih dari 40 juta produk siap dibeli dengan harga terbaik dan transparan,” kata dia.
Diungkapkannya, produk yang dijual di Tokopedia paling digandrungi yakni produk perempuan seperti pakaian dan aksesoris. Di mana produk-produk tersebut bukan kebutuhan pokok..
Jadi jelas sekali, bukan terjadi penurunan daya beli tapi terjadi perubahan cara orang berbelanja.
Selain itu juga terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang dipicu oleh kehadiran media sosial seperti Instagram. Masyarakat Indonesia saat ini lebih suka menyimpan uangnya untuk berlibur dan membagikan foto-foto liburannya di media sosial. Buktinya setiap kali ada acara Garuda Travel Fair pasti ramai dikunjungi orang, lah kalau daya beli menurun kok malah jalan-jalan?
Begitu juga yang disampaikan oleh Jokowi soal isu daya beli menurun.
Awalnya, Jokowi memaparkan bantahannya bahwa saat ini daya beli anjlok. “Isu-isu mengenai daya beli. ‘Pak, daya beli turun, anjlok’,” kata Jokowi.
Menurutnya, tilikan soal daya beli tidak bisa dilepaskan dari fenomena peralihan toko luring (offline) ke daring (online). Padahal, kata dia, daya beli tak benar-benar anjlok. Dia mengemukakan angka-angka sebagai bukti.
“Saya terima angka, jasa kurir naik 135 persen di akhir September ini. Kita ngecek DHL, JNE, Kantor Pos, saya cek. Saya kan juga orang lapangan,” ujar Jokowi.
Bukti kedua, ada kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) yang berasal dari pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredaran dari produsen ke konsumen. Kenaikannya sebesar 12,14 persen. Ini membuktikan bahwa ada aktivitas ekonomi yang bertumbuh.
“Baru tadi pagi saya terima (data ini). Kenapa nggak confident (percaya diri)? Angka-angka ini riil,” ujar Jokowi.
“Angka-angka seperti ini kalau nggak saya sampaikan nanti isunya hanya daya beli turun-daya beli turun. Saya lihat yang ngomong siapa tho? Oh, orang politik. Ya sudah nggak apa-apa,” kata Jokowi disambut tawa seisi ruangan.
Bila saja yang mengembuskan isu itu adalah pebisnis, Jokowi tak akan keberatan untuk mengajak berdiskusi. Tapi karena yang mengembuskan isu itu adalah orang politik, Jokowi memaklumi dan membiarkan saja.
“Orang politik tugasnya seperti itu kok, membuat isu-isu untuk 2019. Sudah, kita blak-blakan saja. Orang 2019 tinggal setahun,” kata Jokowi santai, semua tertawa.
Nah Pak Jokowi, ini ada pengusaha yang sudah 6 tahun bergerak melalui online dan 1 tahun di retail offline. Dia bisa membandingkan langsung penjualan di online dan offline, lalu kesimpulannya sama persis dengan yang di ungkapkan Pak Jokowi.
Dan benar, yang ngomong daya beli turun itu adalah politikus dan juga mungkin pengusaha yang ketinggalan jaman. Politikus pasti punya kepentingan politik dibelakangnya, apalagi menjelang Pilpres 2019.
Sambil menaruh gelas kertas berisi kopi mahal yang di brand luar negeri tapi kopinya dari Indonesia, saya bertanya pada teman saya ini,
“Jadi semua ini bukan karena daya beli turun yah?” Tanya saya
“Ya bukan, kalau daya beli turun, ya harusnya semua turun dong, offline maupun online. Kalau ada orang yang percaya daya beli masyarakat turun, mungkin orang itu masih hidup di jaman batu yang gak ada internet.”
Betul kata teman saya, sekarang kita tinggal di era modern, era teknologi informasi. Bahkan kopi yang saya minum pun bisa dibeli secara online. Meski tentunya kopi tetap lebih enak diminum saat panas, makanya gak heran tempat ngopi dengan logo gambar cewek berambut panjang dan berwarna hijau ini masih ramai dikunjungi orang. Padahal kopi disini gak murah, kok tetep ramai? Kalau daya beli menurun harusnya warung kopi tempat si abang penulis selalu ngutang yang makin ramai. Jelas-jelas disana lebih murah dan bisa ngutang pula.
Orang yang gak sadar kemajuan teknologi informasi itu mungkin mereka selama ini gak pernah pakai internet. Atau pakai internet tapi sehari-hari hanya untuk nyinyirin pemerintah aja, itu aja yang mereka tau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...