Langsung ke konten utama

Tips Menghindarkan Anak Jadi Korban Pelecehan Seksual

Pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak di Tanah Air meningkat 100 persen dari tahun-tahun sebelumnya. Menurut catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menyebutkan angka korban pelecehan seksual terhadap anak semakin tinggi setiap tahun.

“Dari 2013 ke 2014 itu naiknya 100 persen, baik itu mereka yang jadi korban atau pun pelaku,” ujar Sekretaris KPAI Rita Pranawati di Kantor KPAI, Jakarta seperti yang dilansir dalam situs resmi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Rita menjelaskan, modus pelecehan seksual semakin beragam dan aneh. Hal-hal yang tak terduga dapat terjadi. Selain kemajuan teknologi dan kurangnya pengetahuan orang tua dalam mengasuh dan mendidik anaknya, lingkungan pergaulan juga menjadi penyebabnya.

Modus Pelecehan Seksual
Seiring dengan perkembangan teknologi, hal ini juga dapat memicu terjadinya pelecehan seksual terhadap anak-anak dan remaja.

Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak LPAI, Reza Indragiri menyebut anak-anak dan remaja yang gemar berselancar di media sosial berpotensi menjadi target kejahatan seksual di dunia maya. Hal ini mengingat bahwa Indonesia menduduki peringkat ketiga pengguna media sosial aktif di seluruh dunia dan kebanyakan penggunanya adalah anak-anak hingga remaja seperti yang diberitakan dalam media nasional ini.

Beberapa hari yang lalu, Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya membongkar kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur dengan menangkap empat pelaku yakni, WW, 27; DS, 24; DF, 17; dan SHDW, 16. Kapolda Metro Jaya Irjen M. Iriawan mengatakan, empat pelaku mengunggah foto atau video yang menampilkan kejahatan seksual terhadap anak melalui akun Facebook Official Candy’s Group. Grup ini tak hanya memiliki member dari Indonesia, tapi juga dari luar negeri. Kapolda Metro Jaya Irjen M. Iriawan menjelaskan bahwa pihaknya akan bekerjasama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) untuk mengungkap dugaan pelaku lain di jaringan internasional seperti yang dimuat dalam media nasional ini.

Tips Menghindarkan Anak Jadi Korban Pelecehan Seksual 

Praktisi pendidikan, Najelaa Shihab, menilai pencegahan menjadi hal paling utama agar tak ada lagi anak-anak yang menjadi sasaran kaum pedofil. Beliau memberikan beberapa tips pencegahan pelecehan seksual terhadap anak berikut ini seperti yang dilansir oleh media ini.

1. Biasakan untuk mengikuti kata “tidak” dan “stop” dari anak. Misalnya saat ia menolak dicium atau minta berhenti saat digelitiki. Apakah anak belajar mengendalikan dan menghormati kenyamanan tubuhnya akan ditentukan oleh reaksi orangtua.
 Jangan bilang “sedikit saja”, atau “masak gak mau dicium”. Bayangkan bila kalimat yang sama diucapkan orang yang berbahaya.

2. Contohkan anak sejak dini untuk membedakan bagian tubuh yang aman dan tidak aman untuk disentuh. Tunjukan sentuhan aman saat menjabat dan mencium tangan, tidak pada sembarang orang. Lalu jelaskan sentuhan tidak aman saat memegang bagian tubuh yang tertutup rapat.

3. Biasakan anak untuk mempercayai intuisinya terhadap bahaya. Ada situasi dimana anak merasa khawatir saat bertemu orang tertentu atau melewati jalan baru. Kemudian, jangan larang anak mendengarkan yang dirasakan.
Anjurkan anak berpikir cara untuk lebih berhati-hati, menunggu sampai ada orang yang menyeberang berbarengan, tidak duduk di taksi sebelum orangtua masuk duluan, dan seterusnya.

4. Latih secara spesifik kemampuan anak menghadapi bahaya di tempat umum. Misalnya berteriak “tolong” dan bukan “bunda/mama” akan membuat orang disekeliling lebih waspada.

5. Bangun secara perlahan jaringan sosial. Jaringan ini bisa lebih dari satu orang yang ikut menjaga keamanan anak – seperti nenek dan kakak yang bisa menjadi tempat bercerita. Kenyataan yang menyedihkan tapi sering terjadi, orangtua seringkali bukan pihak yang tahu pertama tentang berbagai hal, sehingga anak perlu beberapa figur lain yang bisa membela dia.

6. Ajarkan anak tentang rahasia, apa informasi yang boleh disembunyikan dari orangtua, dan mana yang harus diceritakan walaupun diminta seseorang untuk tidak membocorkannya.
“Rahasia baik, itu kejutan yang kalau ibu tahu pasti senang, misalnya hadiah ulang tahun. Rahasia buruk bila bikin ketakutan dan malu kalau nanti ketahuan ibu,” tutur Najelaa Shihab.

7. Tumbuhkan disiplin diri anak tanpa ancaman dan sogokan. Pelaku kekerasan seksual dengan sengaja memilih anak-anak rentan yang mudah ketakutan, kecanduan pujian dan mencari imbalan untuk melakukan sesuatu.

8. Pelaku kekerasan biasanya orang yang dikenal, menggunakan teknik “perawatan” untuk mendekatkan diri ke anak dan orangtua. Oleh karena itu, biasakan untuk terbuka dengan anak tentang orang-orang di sekitar. Ajak anak mengobservasi dan peduli pada perubahan perilaku siapapun di lingkungan. “Orangtua bisa memulai percakapan tentang pengalamannya dalam pertemanan,” kata Najeela.

Mudah-mudahan tips yang penulis share di atas dapat bermanfaat untuk menjaga buah hati kita dari hal-hal yang tidak kita inginkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Poltracking: Jokowi Menang di Semua Skenario Pilpres

Joko Widodo memenangi semua simulasi pertarungan Pilpres, siapapun lawan yang dia hadapi. Jokowi juga menang melawan Prabowo Subianto, rivalnya sejak Pilpres 2014. Ini adalah hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019', dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). "Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan," tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya. Survei menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang le...

Mendidik Kaum Intoleran

Pemahaman agama kaum intoleran tidak sesuai dengan prinsip peradaban manusia dan cenderung menghancurkan.  Teriakan-teriakan memecah belah sedang marak terdengar di Indonesia. Sedikit-sedikit ingin demonstrasi, sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir. Kaum intoleran harus belajar makna dari konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Agama yang tidak mengakui perbedaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami teologi agamanya sendiri. Agama tercipta untuk menunjukkan hubungan manusia dan Tuhan yang diyakini. Semua Agama percaya bahwa Sang Pencipta adalah satu; Sang Pencipta adalah Maha Kuasa; Sang Penciptalah yang menciptakan segala sesuatunya. Kaum intoleran merasa agama-nya paling benar dan harus memusnahkan penganut agama lain. Pemikiran dangkal seperti ini harus diperbaiki dengan cara memahami segala sesuatu secara logis, pemikiran yang masuk akal. Kaum intoleran harus belajar memahami kehendak Sang Pencipta. Jika Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya, untuk ap...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya. Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara me...